300x250 AD TOP

6.2.15

Tagged under: ,

Rafi ibn Khadij : Seorang yang Merindukan kematian

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Rafi ibn Khadij : Merindukan kematian

Rafi ibn Khadij adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Aus, keturunan Bani Harits. Ayahnya bernama Khudaij ibn Rafi ibn Adi yang menikahi Halimah binti Mas'ud al-Bayadhiyah. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang anak, yaitu Rafi. Keluarga itu tumbuh menjadi salah satu benteng pertahanan Islam yang terus mengajak manusia untuk meninggikan kalimat Allah.

Istri Rafi ibn Khadij adalah Ummu Umais yang bersaudara dengan Muhammad dan Mahmud, putra Salamah. Rafi tengah berada di usia muda yang penuh semangat ketika mendengar bahwa Rasulullah dan para sahabatnya akan mencegat kafilah Quraisy yang pulang dari Syam. Kafilah yang membawa banyak barang dagangan itu dipimpin oleh Abu Sufyan ibn Harb. Namun, saat mengetahui rencana Nabi saw., Abu Sufyan langsung mengirim orang kepada kaum Quraisy untuk melindungi harta mereka. Dalam waktu yang singkat para pemimpin Makkah dapat memobilisasi pasukan untuk melindungi kafilah dagang mereka sekaligus menyerang kaum muslimin. Ketika pasukan Quraisy bergerak menuju Madinah, Abu Sufyan mengambil rute lain untuk menyelamatkan kafilahnya dan berhasil tiba di Makkah dengan selamat.

Meskipun telah dikabari bahwa kafilah mereka telah selamat tiba di Makkah, Abu Jahal bersikukuh memerangi keum muslimin di Badar. Ia memanas-manasi pasukan Quraisy untuk terus bergerak menghadapi kaum muslimin.

Rafi muda yang penuh harap sangat ingin ikut serta dalam pasukan Rasulullah menghadapi kaum musyrik. Namun, karena usianya masih terlalu muda, Rasulullah menyuruhnya pulang. Ketika Allah memberikan kemenangan gemilang kepada kaum muslimin, keinginan Rafi untuk ikut serta berjuang bersama Rasulullah semakin bergelora. Ia terus berlatih memanah hingga ia mahir mempergunakan senjata itu.

Ketika datang seruan untuk perang Uhud, Rafi takut Rasulullah kembali menyuruhnya pulang seperti saat perang Badar. Maka, ia bersiasat. Ia bergabung dalam barisan dengan memakai kasut yang tebal dan berjinjit agar tampak lebih tinggi. Sebenarnya, Nabi saw. sendiri telah mengetahui kecakapan Rafi menggunakan panah. Menjelang peperangan, seperti biasa Rasulullah saw. memeriksa barisan, dan ketika berhadapan dengan Rafi, beliau mengizinkannya ikut serta. Maka, Rafi segera menyiapkan senjatanya, lalu bergabung dengan pasukan Muslimin.

Saat perang mulai berkecamuk, Rafi menunjukkan kemahirannya memanah dan menjatuhkan musuh. Tapi, sebuah anak panah musuh menancap di dadanya sehingga tak ada jalan baginya kecuali mencabut anak panah tersebut. Sayang, anak panah itu patah dan patahannya tertinggal di dadanya. Melihat kejadian itu, Rasulullah menghampirinya dan bersabda, "Kelak di hari kiamat, aku akan menjadi saksimu." Luka tusukan panah itu sangat menyakitkan. Alih-alih mengerang dan mundur dari medan perang, patahan anak panah di dadanya itu semakin membuatnya semangat berperang. Ia telah lama memimpikan peperangan semacam ini. Meski luka-lukanya cukup parah, ia dapat pulih seperti sedia kala setelah peperangan usai. Ia pun ikut dalam peperangan Khandaq ketika kaum musyrik Quraisy dan sekutu mereka mengepung Madinah. Saat itu, hujan badai menghancurkan kemah pasukan Quraisy sehingga mereka putus asa dan pulang ke negeri mereka dengan perasaan terhina dan kecewa.

Semangat tinggi yang dimiliki Rafi telah mengantarkannya pada kemuliaan, baik dalam urusan agama, maupun dunia. Ia berusaha mengikuti berbagai kegiatan Nabi saw. dan ia pun tidak melupakan kewajiban untuk memenuhi keubutuhan pribadi dan keluarga. Setiap kali ada seruan untuk berjuang, ia langsung sigap dan segera bergabung dalam pasukan. Ketika lama tak ada peperangan, ia sibuk bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Meski sering mendapatkan luka dari berbagai peperangan, Rafi dikaruniai usia yang panjang hingga 86 tahun.

Rafi termasuk sahabat Nabi saw. yang tidak suka menyembunyikan kebenaran. Sikapnya itu ia tunjukkan ketika dengan tegas bergabung dengan pasukan Ali ibn Abu Thalib dalam perang shiffin.

Ia pun termasuk sahabat yang meriwayatkan hadits. Di antara sahabat yang meriwayatkan darinya adalah Abdullah ibn Umar, Mahmud ibn Labid, al-Saib ibn Yazid, Usaid ibn Zuhair, serta para sahabat lain. Dari kalangan tabiin juga ada yang mengambil riwayat darinya.

Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Rafi adalah sabda Rasulullah saw.: "Jika salah seorang di antara kalian memiliki tanah kosong, tanamilah atau berikanlah kepada saudaranya untuk dimanfaatkan." Diriwayatkan dari Muhammad ibn Ishaq dari Ashim ibn Umar ibn Qatadah dari Mahmud ibn Labid dari Rafi ibn Khadij bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Perbanyaklah amal di waktu fajar, karena waktu itu lebih besar untuk mendatangkan pahala."

Rafi selalu memagang tegus sabda Rasulullah, "Sebaik-baik kalian adalah yang panjang usianya dan bagus amalnya."

Pada masa khalifah Abdul Malik ibn Marwan, mata anak panah yang tertanam di dadanya bergeser yang menyebabkan infeksi sehingga ia jatuh sakit. Saat itulah ia terkenang kembali masa-masa perjuangannya bersama Rasulullah. Tak lama berselang, ia meninggal dunia. Di antara yang ikut menyalatinya adalah Abdullah ibn Umar. Saat itu Abdullah ibn Umar berkata, "Shalatlah kalian atas sahabat kalian sebelum matahari mengecil dan terbenam."

Riwayat itu disampaikan oleh Ibn al-Atsir dalam kitabnya. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

5.2.15

Tagged under: ,

Sawad ibn Ghaziyah : Mencium perut Rasulullah

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Sawad ibn Ghaziyah : Mencuim perut Rasulullah.

Sawad ibn Ghaziyah adalah seorang sahabat Nabi saw. dari kalangan Anshar keturunan Bani Adi ibn al-Najjar. Ada yang mengatakan bahwa ia berasal dari Bali Bali ibn Amr ibn al-Haf Quda'ah yang bersekutu dengan Bani Adi ibn al-Najjar. Sawad pernah ditugaskan menjadi petugas penari zakat untuk daerah Khaibar di masa Rasulullah saw. Suatu hari seseorang memberinya kurma janib (kurma unggulan), kemudian ia membawanya ke pasar dan membeli dua kilo kurma biasa dengan satu kilo kurma janib miliknya. Ketika hal itu didengar oleh Rasulullah saw., beliau melarangnya dan mengatakan bahwa kurma tidak boleh dijadikan alat tukar. Seharusnya ia menjual terlebih dahulu kurma miliknya, kemudian membeli kurma lain dengan uang hasil penjualan itu.

Sawad memiliki kedudukan tersendiri di sisi Rasulullah saw. Abu Ja'far al-Thabari menuturkan sebuah riwayat dari Ibn Humaid dari Salamah dari Muhammad ibn Ishaq dari Hibban ibn Wasi ibn Hibban ibn Wasi bahwa menjelang keberangkatan menuju Badar, Rasulullah saw. memeriksa barisan pasukan sambil memegang anak panah sebagai alat untuk merapikan barisan. Ketika melewati Sawad ibn Ghaziyah, Rasul melihat tubuhnya tidak dalam barisan sehingga beliau menyabetnya dengan anak panah agar masuk dalam barisan. Beliau bersabda, "Luruskan barisanmu, hai Sawad ibn Ghaziyah!"

Sawad berujar, "Wahai Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal Allah mengutusmu membawa kebenaran."

Mendengar ujarannya, Rasulullah saw. langsung membuka pakaian yang menutupi perut beliau lalu bersabda, "Lakukanlah apa yang baru saja aku lakukan!"

Namun tiba-tiba Sawad memeluk dan mencium perut Rasulullah. Tentu saja beliau kaget, lalu bersabda, "Mengapa kau lakukan itu?"

Sawad menjawab, "Wahai Rasulullah, perang sudah di depan mata. Tidak ada jaminan bahwa aku akan selamat. Aku ingin di akhir hidupku ini kulitku bersentuhan dengan kulitmu."

Maka Rasulullah saw. mendoakan kebaikan untuknya. Dalam peperangan itu ia berhasil menawan Khalid ibn Hisyam al-Makhzumi. Ia juga ikut beberapa perang lain bersama Rasulullah saw.

Ibn al-Atsir dan para ulama lain tidak menyebutkan sama sekali kapan Sawad ibn Ghaziyah wafat. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

4.2.15

Tagged under: ,

Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali : Awalnya menolak untuk menikah

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali : Awalnya menolak untuk menikah.

Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali adalah seorang sahabat yang bertemu Rasulullah saw. ketika ia masih bujangan. Berlangsung percakapan antara keduanya sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam kita Musnad-nya.

Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali datang menghadap Rasulullah saw. dan beliau bersabda, "Hai Akkaf, apakah kau punya istri?"

Akkaf menjawab, "Belum."

Rasulullah bertanya lagi, "Juga tidak punya seorang sahaya?"

Akkaf menjawab, "Tidak."

Rasulullah bertanya lagi, "Bukankah kau sehat dan mampu?"

Akkaf menjawab, "Benar, Alhamdulillah."

Rasulullah berkata, "Jika begitu, kau termasuk salah satu teman setan. Atau mungkin kau termasuk golongan pendeta Nasrani. Tapi, kau pun bisa termasuk bagian kami. Maka, berperilakukah seperti kami. Sesungguhnya menikah adalah salah satu sunnah kami. Seburuk-buruknya kalian adalah bujangan, dan sehina-hinanya orang mati di antara kalian adalah para bujangan. Celakalah engkau, wahai Akkah. Menikahlah!"

Akkaf menjawab, "Aku tidak akan menikah sampai engkau menikahkanku pada wanita pilihanmu, ya Rasulullah."

Rasulullah bersabda, "Aku telah menikahkanmu atas nama Allah dan berkah-Nya kepada Karimah binti Kultsum al-Humairi."

Berbahagialah Akkaf yang telah mendapat pencerahan untuk melaksanakan salah satu sunnah Nabi-Nya. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

2.2.15

Tagged under: ,

Abdullah ibn Amr ibn al-Ash : sangat tekun beribadah

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Abdullah ibn Amr ibn al-Ash : sangat tekun beribadah.

Abdullah ibn Amr ibn al-Ash adalah sahabat Nabi saw. yang berasal dari suku Quraisy keturunan Bani Sahmi. Ayahnya bernama Amr ibn al-Ash, salah seorang diplomat Quraisy ulung yang sempat diutus Quraisy ke negeri Habasyah sebagai intel untuk menarik para Muhajirin yang berhijrah ke negeri Habasy. Ibunya bernama Raithah binti Munabbih ibn al-Hajjaj al-Sahmi. Abdullah lebih dahulu memeluk Islam daripada ayahnya, dan Allah menganugerahinya kecerdasan dan kekuatan hafalan.

Abu Hurairah r.a. pernah berkata, "Tak seorang pun yang melebihi aku dalam hafalan hadits Rasulullah saw. selain Abdullah ibn Amr ibn al-Ash. Ia selalu menulis (hadits) sedangkan aku tidak."

Abdullah sendiri pernah berkata, "Aku menghafal dari Nabi saw. seribu hadits."

Selain seorang sahabat yang terkemuka, Abdullah ibn Amr juga menjadi salah seorang yang sering dimintai pendapat. Ia rajin membaca dan mempelajari berbagai kitab, dan tekun mengaji Al-Quran. Ia pernah meminta izin kepada Nabi saw. untuk menuliskan hadits, dan beliau mengizinkannya. Abdullah berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku menuliskan apa yang aku dengar, baik dalam keadaan ridha maupun marah?"

Rasulullah menjawab, "Ya, aku tidak akan mengatakan kecuali kebenaran."

Ibn Ishaq menuturkan sebuah riwayat dari Abu Burdah dari Abdullah ibn Amr bahwa ia bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, berapa lama (sebaiknya) aku membaca Al-Quran?"

Rasulullah menjawab, "Khatamkan dalam waktu satu bulan."

Abdullah ibn Amr berkata, "Aku mampu lebih dari itu."

Rasulullah menjawab, "Khatamkan dalam waktu 20 hari."

Abdullah ibn Amr berkata, "Aku mampu lebih dari itu."

Rasulullah menjawab, "Khatamkan dalam waktu 15 hari."

Abdullah ibn Amr berkata, "Aku mampu lebih dari itu."

Rasulullah menjawab, "Khatamkan dalam waktu 10 hari."

Abdullah ibn Amr berkata, "Aku mampu lebih dari itu."

Rasulullah menjawab, "Khatamkan dalam waktu 5 hari."

Abdullah ibn Amr berkata, "Sebenarnya aku mampu lebih baik dari itu, tetapi Rasulullah saw. tidak memberi keringanan lagi kepadaku."

Allah menjadikan ummat Muhammad saw. sebagai ummat pertengahan, tidak berlebihan dan tidak melampaui batas. Namun, Abdullah ibn Amr termasuk diantara muslim yang sangat mengutamakan ibadah sehingga cenderung mengabaikan kepentingan diri sendiri dan keluarga. Waktu makan malam ia habiskan untuk berzikir, sementara siang hari ia gunakan untuk berpuasa. Bahkan, ia sering mengkhatamkan Al-Quran hanya dalam waktu sehari semalam. Ia juga sengaja menjauhi keluarganya. Karena itulah ayahnya, Amr ibn al-Ash mengadu kepada Nabi saw. sehingga beliau meraih tangan Abdullah dan diletakkan ke tangan ayahnya, Amr ibn al-Ash, lalu beliau bersabda, "Kerjakanlah apa yang kuperintahkan kepadamu dan taati ayahmu!"

Ketika perang Shiffin meletus, ayahnya yang berada di barisan Muawiyah, mengajaknya bergabung seraya mengungkapkan sabda Nabi saw. yang pernah dikatakan kepada Abdullah, "Taatilah ayahmu!" Maka, dengan sangat berat hati ia mengikuti kemauan Amr ibn al-Ash, meskipun ia tidak ikut bertempur. Ketika Husain ibn Ali mencelanya karena bergabung di barisan Muawiyah, Abdullah berkata, "Demi Allah, aku tidak menghunus pedang, tidak melemparkan tombak, dan tidak melepaskan panah."

Abdullah ibn Amr ibn al-Ash meriwayatkan 700 hadits Rasulullah. Di usia senja ia mengalami kebutaan. Ia wafat pada usia 70 tahun lebih. Ada juga yang mengatakan 90 tahun lebih.

Wallahu a'lam. Semoga Allah merahmatinya.[]
Tagged under: ,

Dihyah al-Kalabi : Jibril turun menyerupai dirinya

jejakperadaban.com | Sejarah sahabat Nabi
Dihyah al-Kalabi : Jibril turun menyerupai dirinya

Dihyah al-Kalabi adalah sahabat Nabi dari suku al-Kalabi. Ayahnya bernama Khulaifah ibn Farwah ibn Fadhalah. Ia memiliki wajah yang menawan dan Jibril a.s. pernah turun mendatangi Rasulullah saw. dalam rupa Dihyah al-Kalabi. Diceritakan bahwa Rasulullah saw. hanya pernah melihat rupa asli Malaikat Jibril a.s. hanya dua kali saja.

Ibn al-Atsir mengatakan dalam kitabnya, "Ia (Dihyah) adalah sahabat Rasulullah yang ikut dalam perang Uhud dan peperangan lain. Malaikat Jibril sering datang kepada Rasulullah dalam rupa dirinya. Rasulullah pernah mengutusnya kepada raja Mesir pada tahun keenam Hijriah. Ketika sang raja hendak menyatakan keimanannya, para pendeta Kristen koptik mencegahnya. Dihyah pulang dan menyampaikan kabar itu kepada Rasulullah saw. dan beliau bersabda, 'Allah akan mengokohkan kekuasaannya.'"

Ibn al-atsir menuturkan dari al-Sya'bi bahwa al-Mughirah berkata, "Dihyah al-Kalabi menghadiahkan dua kasut terbuat dari kulit kepada Rasulullah, yang kemudian beliau kenakan."

Abu Ja'far al-Tharabi meriwayatkan dari Ibn Humaid dari Salamah dari Muhammad ibn Ishaq bahwa ketika masuk waktu Subuh, Rasulullah pergi meninggalkan Khandaq, lalu kembali ke kota Madinah, dan kaum Muslimin pun meletakkan senjata mereka. Saat datang waktu Zuhur, malaikat Jibril a.s. mendatangi beliau (sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Syihab al-Zuhri) dengan mengenakan surban dan menaiki keledai. Kemudian ia (Jibril) berkata, "Apakah engkau telah meletakkan senjata, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab, "Benar."

Jibril berkata, "Para Malaikat tidak pernah meletakkan senjata mereka, dan aku tidak kembali kecuali untuk urusan suatu kaum. Allah memerintahkanmu, Muhammad, untuk pergi menuju Bani Quraizhah dan aku pun akan pergi ke sana."

Maka Rasulullah saw. memerintahkan penyerunya untuk menyampaikan pengumuman kepada semua orang: "Wahai kaum, siapa saja di antara kalian yang mendengar dan taat, jangan kalian mendirikan shalat Ashar kecuali di kampung Quraizah."

Rasulullah memerintahkan Ali ibn Abi Thablib untuk membawa panji kaum Muslimin menuju Bani Quraizah diikuti semua pasukan. Maka, Ali ibn Abi Thalib pun berjalan hingga tiba dekat benteng mereka. Ketika itulah terdengar teriakan Bani Quraizah yang melecehkan Rasulullah saw. sehingga membuat ia kembali ke perkemahan pasukan dan bertemu Rasulullah di perjalanan.

Ali berkata, "Wahai Rasulullah, sebaiknya engkau tidak mendekat ke tempat orang-orang yang terkutuk itu."

Rasulullah bertanya, "Mengapa? Bukankah kau mendengar mereka berkata buruk tentang diriku?"

Ali berkata, "Benar, wahai Rasulullah. Seandainya mereka melihatku, pasti mereka tidak akan berani mengatakan keburukan sedikit pun."

Ketika mendekati benteng mereka, Rasulullah bersabda, "Hai keturunan monyet, apakah (kalian ingin) Allah menghinakan kalian dan menurunkan siksa-Nya atas kalian?" (Disebut demikian karena kaum Yahudi membangkang dan sesat dianggap sebagai keturunan kaum Yahudi yang dulu membangkang pada Nabi Musa a.s. sehingga mereka dikutuk menjadi monyet)

Mereka menjawab, "Wahai Abul Qasim, kami tidak sebodoh (yang kau kira)." Maka Rasulullah saw. berjalan melewati sahabat sambil membawa dua terompet dari tanduk. Sebelum tiba di perkampungan Bani Quraizah beliau bertanya kepada para sahabat, "Apakah kalian melihat seseorang melewati kalian?"

Mereka menjawab, "Benar Rasulullah, Dihyah ibn Khulaifah al-Kalabi melewati kami menunggangi keledai putih berpelana sutra."

Rasulullah berkata, "Itu adalah Jibril, yang diutus kepada Bani Quraizah untuk mengguncangkan benteng mereka dan menyebarkan rasa takut dalam dada mereka."

Begitulah pertolongan dari langit turun meliputi kaum Muslimin tanpa seorang pun bisa mencegahnya. Sungguh Allah Maha Mengetahui keadaan Hamba-Nya. Mata-Nya selalu terjaga mengawasi dan menjaga setiap gerak langkah Rasulullah.

Dalam sebuah peperangan, Dihyah mendapatkan bagian rampasan berupa seorang perempuan Khaibar bernama Shafiyah binti Huyay. Kerena Allah hendak memuliakan perempuan itu, Rasulullah saw. membelinya dari Dihyah kemudian menikahinya. Sebagai masharnya adalah kemerdekaan Shafiyyah.

Setelah perang Yarmuk, Dihyah pergi ke Muzzah di dekat Damaskus. Ia menetap di sana sampai ajal menjemputnya pada masa Khalifah Muawiyah ibn Abu Sufyan. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam []