300x250 AD TOP

10.2.15

Tagged under: ,

Said ibn Amir : Seorang pemimpin yang fakir

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Said ibn Amir : Pemimpin yang fakir

Said ibn Amir adalah seorang sahabat dari suku Quraisy keturunan Bani Jumah. Ayahnya bernama Amir ibn Hidzyam ibn Salaman ibn Rabiah dan ibunya bernama Ummu Said Arwa binti Abi Mu'ith yang tak lain merupakan saudari Uqbah ibn Mu'ith, salah seorang dedengkot kafir Quraisy yang sangat membenci Rasulullah.

Pamannya, Uqbah ibn Abu Mu'ith ditawan bersama 43 orang lain oleh kaum muslimin dalam perang Badar. Pulang dari Badar, Rasulullah saw. memerintahkan al-Nadhar ibn al-Harits  ibn Kildah dibunuh. Ali ibn Abi Thalib mendapatkan tugas untuk mengeksekusinya. Tiba di Irqi al-Zabiyah, Rasulullah memerintahkan Ashim ibn Tsabit untuk mengeksekusi Uqbah. Tetapi sebelum ia dipenggal, ia berkata, "Siapakah yang akan mengurus anak-anak, hai Muhammad?" Beliau bersabda, "Neraka (tempatmu)." Kemudian Ashim memenggal lehernya sampai tewas. Uqbah adalah orang yang menimpakan jeroan unta ke punggung Rasulullah saw. ketika beliau shalat di Ka'bah.

Said adalah seorang sahabat yang paling zuhud dan dekat kepada Nabi saw. Ia memeluk Islam sebelum penaklukan Khaibar dan iku tberhijrah ke Madinah. Ia ikut serta dalam perang Khaibar dan beberapa peristiwa lainnya. Ba'da Rasulullah saw. wafat, ialah yang sering memberikan nasihat kepada para Khalifah agar senantiasa takut kepada Murka Allah. Ia tergolong dan dikenal sebagai muslim yang sederhana, bahkan dapat dibilang seorang yang fakir. Itu dapat dilihat dari pakaiannya yang lusuh dan usang.

Suatu saat, ia pernah datang menghadap kepada Amirul Mukminin, Khalifah Umar ibn Khaththab, dan menasihatinya, "Wahai Umar, aku wasiatkan agar engkau takut kepada Allah dalam urusan manusia dan jangan sekali-kali takut terhadap manusia dalam urusan Allah. Janganlah ucapanmu menyalahi perbuatanmu, karena sebaik ucapan adalah yang sesuai dengan perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah mereka yang urusannya telah Allah pertanggungkan kepadamu, baik kaum muslimin yang jauh maupun yang dekat. Cintailah mereka seperti engkau mencintai dirimu dan keluargamu. Rasakan penderitaan mereka dan ajaklah mereka menuju jalan kebenaran selalu! Di jalan Allah jangan sekalipun engkau takut akan caci maki..."

Mendengar nasihatnya, Umar berkata, "Wahai Said, siapakah yang dapat mampu melakukan semua itu?"

Said menjawab, "Orang yang dipercayakan oleh Allah untuk mengurus ummat Muhammad sepeninggalnya, yang ia tak pernah menjadikan perantara apapun antara dirinya dan siapa pun kecuali Allah."

Umar kemudian berkata, "Mulai sekarang, engkau ku angkat menjadi Gubernur Homs, lakukanlah tugasmu dengan baik."

Namun, Said menolak dan berkata, "Demi Allah, jangan engkau timpakkan fitnah kepadaku, hai Umar!"

Mendengar penolakannya Khalifah Umar berkata, "Kalian limpahkan seluruh urusan ke pundakku, dan kalian biarkan aku sendiri? Sudahlah, sekarang juga kau berangkat ke Homs!" Dengan berat hati Said berangkat ke Homs sembari memohon pertolongan Allah. Umar pun memberinya bekal yang cukup.

Ketika ia telah menjadi Gubernur Homs, istrinya sangat ingin sekali membeli pakaian dan barang-barang yang diinginkan banyak wanita lainnya. Said berkata, "Maukah engkau sesuatu yang lebih baik dari itu?"

Istrinya menjawab, "Apa itu?"

Said berkata, "Perdagangan di negeri ini sangat ramai. Aku akan memberikan harta kita kepada orang yang mampu memperdagangkan dan mengembangkannya."

Istrinya balas menjawab, "Bagaimana kalau rugi?"

Said berkata, "Kita buat jaminan kepadanya."

Isrinya pun menyetujui apa yang Said inginkan. Tanpa ragu-ragu lagi Said menyedekahkan semua hartanya kepada orang yang membutuhkan.

Hari-hari berlalu dan sang istri kian gencar bertanya kepada Said, kepada siapa harta mereka diinvestasikan. Said berupaya menenangkan istirnya dengan mengatakan bahwa harta mereka pasti berkembang dan berada di tangan orang yang terpercaya. Selang beberapa waktu, seorang sahabat yang tahu kemana persis harta itu disalurkan datang menemui Said. Mereka pun berbincang-bincang dan istri Said kembali menanyakan kembali soal keuntungan dari investasi harta mereka karena ia belum pernah menerima sepeser pun. Mendengar pertanyaan istri Said, sahabat Said tertawa sehingga menimbulkan kecurigaan di hati istri Said. Karena terus didesak, sahabat Said kemudian menceritakan bahwa semua hartanya disedekahkan kepada fakir miskin.

Tentu, jawaban itu membuat Istri Said marah. Ia menumpahkan kekecewaan kekecewaan kepada suaminya karena ia tidak jujur. Said berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Seandainya salah seorang dari wanita surga muncul ke bumi, niscaya bumi akan dipenuhi harum misik.' Aku, demi Allah tak ingin memilih mereka."

Suatu hari, Khalifah Umar r.a. mengunjungi Homs untuk melihat perkembangan kota itu di bawah pimpinan Said ibn Amir. Umar r.a. kemudian meminta data kaum fakir miskin untuk diberi sedekah. Mereka (pegawai di Homs) menuliskannya, "Yang termasuk fakir adalah si fulan, si fulan, si fulan, dan Said ibn Amir."

Khalifah Umar bertanya, "Siapakah Said ibn Amir yang kalian maksud?"

Mereka menjawab, "Gubernur kami."

Khalifah bertanya heran, "Gubernur kalian fakir? Lalu dikemanakan gajinya?"

Mereka menjawab, "Ia menyedekahkan semuanya setiap kali ia menerimanya." Mendengar penjelasan mereka Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam pundi dan memerintahkan agar diberikan kepada Said untuk memenuhi kebutuhannya."

Ketika utusan Khalifah Umar datang membawa uang itu, Said mengembalikannya seraya mengucapkan istighfar. Sang istri yang mendengar dari balik tirai bertanya, "Adakah gerangan yang terjadi pada Amirul Mukminin, Umar ibn Khaththab?"

Said menjawab, "Ya. Sesuatu yang sangat besar."

Istrinya berkata, "Apakah kaum muslimin kalah dalam perang?"

Said menjawab, "Lebih dahsyat dari itu."

Istrinya berkata, "Apakah kiamat segera tiba?"

Said menjawab, "Lebih penting dari itu."

Istrinya makin penasaran dan bertanya, "Jadi, apa yang terjadi?"

Said menjawab, "Fitnah telah memasuki rumahku. Dunia datang untuk merusak akhiratku."

Sang istri kemudian berusaha menenangkan Said dan berkata, "Maka, jauhilah agar kau tenang."

Said pun kemudian mengumpulkan kembali harta yang didapatnya dari Khalifah lalu memasukkannya ke dalam pundi. Sejurus kemudian, semua uang itu dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Setelah itu hatinya kembali merasa tenang.

Said termasuk orang yang sangat zuhud dan tidak sedikit pun mempedulikan soal harta. Sikap dan perilakunya itu sangat kontras dengan kondisi para pemimpin saat ini. Banyak orang, yang mencari harta siang dan malam, bahkan menumpuk-numpuk harta, tetapi yang mereka dapatkan hanya kelelahan. Mereka tak sadar bahwa harta yang dikumpulkan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah darimanapun dan dengan cara apapun harta itu didapat.

Saat Khalifah Umar berkunjung ke Homs, penduduk di wilayah itu mengadukan gubernur mereka Siad ibn Amir kepada Umar ibn al-Khaththab. Ada empat hal yang mereka adukan,

Pertama, gubernur tak pernah keluar menemui warga kecuali di akhir subuh.
Kedua, Said tidak pernah menerima tamu di waktu malam.
Ketiga, Setiap bulan, dua hari ia tak mau keluar menemui kami.
Keempat, Sesekali Said pingsan dan terjatuh.

Mendengar aduan mereka, Umar berpaling kepada Said ibn Amir dan bertanya, "Apa pembelaanmu terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan, hai Said?"

Said menjawab satu per satu aduan tersebut. Ia berkata, "Pertama, keluargaku tak punya pembantu. Jadi, di pagi hari aku membuat tepung untuk mereka. Setelah menjadi tepung aku membuat roti untuk mereka. Setelah itu, aku berwudhu dan keluar menemui orang-orang.

Kedua, aku membagi hari-hariku. Satu bagian untuk Tuhanku dan satu bagian untuk rakyatku. Waktu siang hari aku bersama mereka, sedangkan waktu malam aku bersama Tuhanku.

Ketiga, aku hanya memiliki satu potong pakaian. Setiap bulan aku mencucinya dua kali. Setelah itu, aku menunggu pakaianku kering dan kukenakan kembali untuk menemui mereka.

Keempat, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri --bersama orang Quraisy- bagaimana Khubaib ibn Adi disalib. Setiap kali aku teringat kejadian itu, pandanganku gelap dan aku jatuh pingsan."

Mendengar jawaban Said, Khalifah Umar menarik nafas dalam-dalam, kemudian meminta agar Said melanjutkan kembali tugasnya sebagai Gubernur, tetapi ia menolak.

Ibn al-Atsir menuturkan perbedaan pendapat tentang dimana Said ibn Amir wafat. Ada yang mengatakan ia wafat di Kaesaria, atau di Homs. Ada pula yang mengatakan ia wafat dan dimakamkan di Riqqa.

Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

9.2.15

Tagged under: ,

Muaz ibn Amr ibn al-Jamuh : 'Cilik' pembunuh Firaun umat ini

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Muaz ibn Amr ibn al-Jamuh : Pembunuh Firaun umat ini.

Muaz ibn Amr ibn al-Jamuh adalah seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar, keturunan suku Khajraz dari keluarga Bani Sulami. Ia termasuk golongan pertama yang memeluk Islam dari kaum Anshar.

Ia menemukan Islam melalui Mush'ab ibn Umair dan ikut menyaksikan Baitaul Aqabah kedua ketika kalangan Anshar memilih dua belas pimpinan mereka. Keislaman Muaz ibn Amr seakan-akan menjadi penyelamat bagi ayahnya dari api neraka. Dialah yang mengajak ayahnya untuk mengahadiri majelis ilmu yang digelar oleh Mush'ab ibn Umair. Ternyata, penuturan dan penjelasan Mush'ab menarik hatinya sehingga ia memutuskan untuk bersyahadat.

Ketika Rasulullah saw. memerintahkan kaum muslimin untuk berangkat ke lembah Badar, sebenarnya Amr sangat ingin ikut serta, tetapi ia dilarang oleh istrinya, Hindun binti Amr ibn Haram dan anak-anaknya. Mereka mengatakan bahwa ia tak diwajibkan ikut untuk berperang dikarenakan ia memiliki cacat pada kakinya. Mereka juga berharap Rasulullah saw. melarangnya untuk ikut serta. Oleh sebab demikian, Amr memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang Badar. Ia benar-benar menyesali keputusan tersebut. Sehingga pada perang berikutnya --yaitu perang Uhud- ia bersikeras untuk ikut dalam barisan tentara Allah, meskipun dengan keadaannya yang telah diketahui. Ia pun syahid dalam perang (Uhud) itu.

Dalam perang Badar, putranya Muaz ibn Amr berhasil membunuh al-Hakam ibn Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahal, fir'aun ummat ini. Itulah salah satu perang penting Muaz sebagai bukti kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Abdul Malik ibn Hisyam menuturkan dari Ziad al-Bukai dari Ibn Ishaq bahwa ketika perang Badar berkecamuk, Muaz ibn Amr berhasil melukai dan memutuskan kaki Abu Jahal, lalu menjatuhkannya ke tanah. Tetapi Muaz pun terkena sabetan pedang Ikrimah ibn Abu Jahal hingga tangannya terluka meskipun tidak langsung putus.

Ternyata setelah diputus kakinya, Abu Jahal belum tewas. Ia masih dalam keadaan sekarat. Mu'awidz ibn Afra yang melihat musuh Allah itu masih bernapas, meyabetkan pedangnya, lalu bergegas meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Ketika melihat musuh Allah itu masih juga belum tewas, Ibn Mas'ud mendekatinya dan menebaskan pedangnya hingga Abu Jahal tewas.

Hemat cerita,
Imam Muslim mencatat sebuah riwayat dalam kitab shahihnya, yang diriwayatkan dari salih ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Auf dari ayahnya dari Abdurrahman ibn Auf bahwa saat ia berdiri di tengah pasukan saat perang Badar, ia memandang ke kiri dan ke kanan, ternyata ia berdiri di antara dua pemuda yang masih belia. Ibn Auf berkata, "Seandainya saja aku berada di antara dua orang yang lebih kuat dari mereka."

Kemudian salah seorang dari kedua remaja itu memberi isyarat kepada temannya, dan remaja itu berkata kepada Abdurrahman ibn Auf, "Paman, tahukah orang yang bernama Abu Jahal?"

Abdurrahman ibn Auf menjawab, "Ya, aku tahu, apa yang hendak kau lakukan?"

Remaja itu menjawab, "Aku mendengar bahwa ia pernah mencaci Rasulullah saw. Maka, demi dzat yang menguasai diriku, aku bersumpah, jika aku melihatnya, takkan kubuarkan bayanganku meninggalkan bayangannya sampai ia mati terlebih dahulu dari kami!"

Abdurrahmah ibn Auf terkagum mendengar ucapan mereka. Tak lama kemudian ia melihat Abu Jahal di antara barisan musuh, maka ia katakan kepada remaja tadi, "Apakah kalian melihatnya? Itulah orang yang kalian cari."

Mereka tak menjawab ucapan Abdurrahman ibn Auf, tetapi langsung berlalri memburu Abu Jahal dan membunuhnya. Kemudian mereka berdua menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang telah mereka lakukan. Beliau bertanya, "Siapa di antara kalian yang membunuhnya?"

Masing-masing menjawab, "Akulah yang membunuhnya."

Beliau bertanya lagi, "Apakah pedang kalian telah dibersihkan?"

Mereka menjawab, "Belum."

Lalu beliau melihat kedua pedang itu dan bersabda, "Kalian berdua memang telah membunuhnya."

Kedua remaja yang telah membunuh Abu Jahal adalah Muaz ibn Amr (14 tahun) yang mengorbankan sebelah tangannya terputus dan Mu'awidz ibn Afra (13 tahun) yang kemudian syahid di jalan Allah. Allahu Akbar!

Semoga Allah merahmati mereka.

Wallahu a'lam.[]

6.2.15

Tagged under: ,

Rafi ibn Khadij : Seorang yang Merindukan kematian

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Rafi ibn Khadij : Merindukan kematian

Rafi ibn Khadij adalah sahabat Nabi dari kalangan Anshar, yang berasal dari suku Aus, keturunan Bani Harits. Ayahnya bernama Khudaij ibn Rafi ibn Adi yang menikahi Halimah binti Mas'ud al-Bayadhiyah. Dari pernikahan itu mereka dikaruniai seorang anak, yaitu Rafi. Keluarga itu tumbuh menjadi salah satu benteng pertahanan Islam yang terus mengajak manusia untuk meninggikan kalimat Allah.

Istri Rafi ibn Khadij adalah Ummu Umais yang bersaudara dengan Muhammad dan Mahmud, putra Salamah. Rafi tengah berada di usia muda yang penuh semangat ketika mendengar bahwa Rasulullah dan para sahabatnya akan mencegat kafilah Quraisy yang pulang dari Syam. Kafilah yang membawa banyak barang dagangan itu dipimpin oleh Abu Sufyan ibn Harb. Namun, saat mengetahui rencana Nabi saw., Abu Sufyan langsung mengirim orang kepada kaum Quraisy untuk melindungi harta mereka. Dalam waktu yang singkat para pemimpin Makkah dapat memobilisasi pasukan untuk melindungi kafilah dagang mereka sekaligus menyerang kaum muslimin. Ketika pasukan Quraisy bergerak menuju Madinah, Abu Sufyan mengambil rute lain untuk menyelamatkan kafilahnya dan berhasil tiba di Makkah dengan selamat.

Meskipun telah dikabari bahwa kafilah mereka telah selamat tiba di Makkah, Abu Jahal bersikukuh memerangi keum muslimin di Badar. Ia memanas-manasi pasukan Quraisy untuk terus bergerak menghadapi kaum muslimin.

Rafi muda yang penuh harap sangat ingin ikut serta dalam pasukan Rasulullah menghadapi kaum musyrik. Namun, karena usianya masih terlalu muda, Rasulullah menyuruhnya pulang. Ketika Allah memberikan kemenangan gemilang kepada kaum muslimin, keinginan Rafi untuk ikut serta berjuang bersama Rasulullah semakin bergelora. Ia terus berlatih memanah hingga ia mahir mempergunakan senjata itu.

Ketika datang seruan untuk perang Uhud, Rafi takut Rasulullah kembali menyuruhnya pulang seperti saat perang Badar. Maka, ia bersiasat. Ia bergabung dalam barisan dengan memakai kasut yang tebal dan berjinjit agar tampak lebih tinggi. Sebenarnya, Nabi saw. sendiri telah mengetahui kecakapan Rafi menggunakan panah. Menjelang peperangan, seperti biasa Rasulullah saw. memeriksa barisan, dan ketika berhadapan dengan Rafi, beliau mengizinkannya ikut serta. Maka, Rafi segera menyiapkan senjatanya, lalu bergabung dengan pasukan Muslimin.

Saat perang mulai berkecamuk, Rafi menunjukkan kemahirannya memanah dan menjatuhkan musuh. Tapi, sebuah anak panah musuh menancap di dadanya sehingga tak ada jalan baginya kecuali mencabut anak panah tersebut. Sayang, anak panah itu patah dan patahannya tertinggal di dadanya. Melihat kejadian itu, Rasulullah menghampirinya dan bersabda, "Kelak di hari kiamat, aku akan menjadi saksimu." Luka tusukan panah itu sangat menyakitkan. Alih-alih mengerang dan mundur dari medan perang, patahan anak panah di dadanya itu semakin membuatnya semangat berperang. Ia telah lama memimpikan peperangan semacam ini. Meski luka-lukanya cukup parah, ia dapat pulih seperti sedia kala setelah peperangan usai. Ia pun ikut dalam peperangan Khandaq ketika kaum musyrik Quraisy dan sekutu mereka mengepung Madinah. Saat itu, hujan badai menghancurkan kemah pasukan Quraisy sehingga mereka putus asa dan pulang ke negeri mereka dengan perasaan terhina dan kecewa.

Semangat tinggi yang dimiliki Rafi telah mengantarkannya pada kemuliaan, baik dalam urusan agama, maupun dunia. Ia berusaha mengikuti berbagai kegiatan Nabi saw. dan ia pun tidak melupakan kewajiban untuk memenuhi keubutuhan pribadi dan keluarga. Setiap kali ada seruan untuk berjuang, ia langsung sigap dan segera bergabung dalam pasukan. Ketika lama tak ada peperangan, ia sibuk bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhannya. Meski sering mendapatkan luka dari berbagai peperangan, Rafi dikaruniai usia yang panjang hingga 86 tahun.

Rafi termasuk sahabat Nabi saw. yang tidak suka menyembunyikan kebenaran. Sikapnya itu ia tunjukkan ketika dengan tegas bergabung dengan pasukan Ali ibn Abu Thalib dalam perang shiffin.

Ia pun termasuk sahabat yang meriwayatkan hadits. Di antara sahabat yang meriwayatkan darinya adalah Abdullah ibn Umar, Mahmud ibn Labid, al-Saib ibn Yazid, Usaid ibn Zuhair, serta para sahabat lain. Dari kalangan tabiin juga ada yang mengambil riwayat darinya.

Salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Rafi adalah sabda Rasulullah saw.: "Jika salah seorang di antara kalian memiliki tanah kosong, tanamilah atau berikanlah kepada saudaranya untuk dimanfaatkan." Diriwayatkan dari Muhammad ibn Ishaq dari Ashim ibn Umar ibn Qatadah dari Mahmud ibn Labid dari Rafi ibn Khadij bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Perbanyaklah amal di waktu fajar, karena waktu itu lebih besar untuk mendatangkan pahala."

Rafi selalu memagang tegus sabda Rasulullah, "Sebaik-baik kalian adalah yang panjang usianya dan bagus amalnya."

Pada masa khalifah Abdul Malik ibn Marwan, mata anak panah yang tertanam di dadanya bergeser yang menyebabkan infeksi sehingga ia jatuh sakit. Saat itulah ia terkenang kembali masa-masa perjuangannya bersama Rasulullah. Tak lama berselang, ia meninggal dunia. Di antara yang ikut menyalatinya adalah Abdullah ibn Umar. Saat itu Abdullah ibn Umar berkata, "Shalatlah kalian atas sahabat kalian sebelum matahari mengecil dan terbenam."

Riwayat itu disampaikan oleh Ibn al-Atsir dalam kitabnya. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

5.2.15

Tagged under: ,

Sawad ibn Ghaziyah : Mencium perut Rasulullah

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Sawad ibn Ghaziyah : Mencuim perut Rasulullah.

Sawad ibn Ghaziyah adalah seorang sahabat Nabi saw. dari kalangan Anshar keturunan Bani Adi ibn al-Najjar. Ada yang mengatakan bahwa ia berasal dari Bali Bali ibn Amr ibn al-Haf Quda'ah yang bersekutu dengan Bani Adi ibn al-Najjar. Sawad pernah ditugaskan menjadi petugas penari zakat untuk daerah Khaibar di masa Rasulullah saw. Suatu hari seseorang memberinya kurma janib (kurma unggulan), kemudian ia membawanya ke pasar dan membeli dua kilo kurma biasa dengan satu kilo kurma janib miliknya. Ketika hal itu didengar oleh Rasulullah saw., beliau melarangnya dan mengatakan bahwa kurma tidak boleh dijadikan alat tukar. Seharusnya ia menjual terlebih dahulu kurma miliknya, kemudian membeli kurma lain dengan uang hasil penjualan itu.

Sawad memiliki kedudukan tersendiri di sisi Rasulullah saw. Abu Ja'far al-Thabari menuturkan sebuah riwayat dari Ibn Humaid dari Salamah dari Muhammad ibn Ishaq dari Hibban ibn Wasi ibn Hibban ibn Wasi bahwa menjelang keberangkatan menuju Badar, Rasulullah saw. memeriksa barisan pasukan sambil memegang anak panah sebagai alat untuk merapikan barisan. Ketika melewati Sawad ibn Ghaziyah, Rasul melihat tubuhnya tidak dalam barisan sehingga beliau menyabetnya dengan anak panah agar masuk dalam barisan. Beliau bersabda, "Luruskan barisanmu, hai Sawad ibn Ghaziyah!"

Sawad berujar, "Wahai Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal Allah mengutusmu membawa kebenaran."

Mendengar ujarannya, Rasulullah saw. langsung membuka pakaian yang menutupi perut beliau lalu bersabda, "Lakukanlah apa yang baru saja aku lakukan!"

Namun tiba-tiba Sawad memeluk dan mencium perut Rasulullah. Tentu saja beliau kaget, lalu bersabda, "Mengapa kau lakukan itu?"

Sawad menjawab, "Wahai Rasulullah, perang sudah di depan mata. Tidak ada jaminan bahwa aku akan selamat. Aku ingin di akhir hidupku ini kulitku bersentuhan dengan kulitmu."

Maka Rasulullah saw. mendoakan kebaikan untuknya. Dalam peperangan itu ia berhasil menawan Khalid ibn Hisyam al-Makhzumi. Ia juga ikut beberapa perang lain bersama Rasulullah saw.

Ibn al-Atsir dan para ulama lain tidak menyebutkan sama sekali kapan Sawad ibn Ghaziyah wafat. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

4.2.15

Tagged under: ,

Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali : Awalnya menolak untuk menikah

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali : Awalnya menolak untuk menikah.

Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali adalah seorang sahabat yang bertemu Rasulullah saw. ketika ia masih bujangan. Berlangsung percakapan antara keduanya sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dalam kita Musnad-nya.

Akkaf ibn Wada'ah al-Hilali datang menghadap Rasulullah saw. dan beliau bersabda, "Hai Akkaf, apakah kau punya istri?"

Akkaf menjawab, "Belum."

Rasulullah bertanya lagi, "Juga tidak punya seorang sahaya?"

Akkaf menjawab, "Tidak."

Rasulullah bertanya lagi, "Bukankah kau sehat dan mampu?"

Akkaf menjawab, "Benar, Alhamdulillah."

Rasulullah berkata, "Jika begitu, kau termasuk salah satu teman setan. Atau mungkin kau termasuk golongan pendeta Nasrani. Tapi, kau pun bisa termasuk bagian kami. Maka, berperilakukah seperti kami. Sesungguhnya menikah adalah salah satu sunnah kami. Seburuk-buruknya kalian adalah bujangan, dan sehina-hinanya orang mati di antara kalian adalah para bujangan. Celakalah engkau, wahai Akkah. Menikahlah!"

Akkaf menjawab, "Aku tidak akan menikah sampai engkau menikahkanku pada wanita pilihanmu, ya Rasulullah."

Rasulullah bersabda, "Aku telah menikahkanmu atas nama Allah dan berkah-Nya kepada Karimah binti Kultsum al-Humairi."

Berbahagialah Akkaf yang telah mendapat pencerahan untuk melaksanakan salah satu sunnah Nabi-Nya. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]