![]() |
| Sejarah Sahabat Nabi | jejakperadaban.com |
Mush'ab ibn Umair adalah salah seorang sahabat dari suku Quraisy keturunan Bani Abdari. Ayahnya bernama Umair ibn Hasyim dan ibunya bernama Khunas bint Malik --ibu yang sangat dicintainya yang kemudian serig menekan dan menyiksanya setelah Mush'ab masuk Islam.
Ibunya dikenal sebagai wanita kaya raya. Bahkan, ia tak perlu pikir panjang jika anaknya, Mush'ab meminta sesuatu darinya. Pasti dikehdak-penuhi. Sehingga, pada saat itu Mus'ab dikenal sebagai seorang yang selalu tampil rapi dan wangi, melebihi orang Quraisy pada umumnya. Bahkan, kehadiran pemuda necis ini akan diketahui dari jarak beberapa jauh karena parfum yang diresapkan pada dirinya dapat tercium.
Namun, keadaan itu berubah 180 derajat ketika ia memeluk agama Allah swt. dan meninggalkan aqidah syiriknya. Pada awalnya ia mengunjungi rumah Al-Arqam ibn Abu al-Arqam untuk mendengarkan penuturan Rasulullah saw. tentang Islam. Ketertarikannya itulah yang membawanya memeluk Islam.
Seperti diceritakan sebelumnya, kehidupan Mush'ab sangatlah serba berkecukupan, jauh dari kesulitan, itupun masih terjadi selama ke-Islam-man nya masih dirahasiakan. Tetapi, ketika Utsman ibn Thalhah mengetahui rahasianya dan menceritakan perihal tersebut kepada Khunas, ibu Muhs'ab, yang kemudian secara seketika Khunas mengancam akan menghentikan kucuran harta yang selalu dialirkan pada Mush'ab. Tetapi Mush'ab tetap teguh kepada keimanan yang telah ia pancangkan sekarang. Ibunya tidak tahu bahwa harta takkan bisa mengalahkan kebahagiaan yang dialami Mush'ab ketika menganut Islam.
Akhirnya, Khunas mengurung putranya itu di sebuah ruangan sempit agar ia mau meninggalkan Agama Muhammad saw. Namun, suatu hari penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi ruangan tersebut lalai sehingga Mush'ab dapat meloloskan diri, lalu bergegas menemui Rasulullah saw. walaupun harus meninggalkan segala kekayaannya.
Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin makin menegang, Rasulullah saw. memerintakan para sahabatnya untuk berhijrah ke Absinia (Habasy) agar mereka dapat beribadah dengan tenang; Mush'ab termasuk salah satu di dalamnya.
Mendengar selentingan bahwa seluruh penduduk Mekkah sudah memeluk Islam seluruhnya, mereka memutuskan untuk kembali ke Mekkah, hingga saat sedang di perjalanan didapati bahwa kabar tersebut adalah bohong. Maka sebagian dari sahabat kembali ke Absinia, dan sebagian lagi tetap melanjutkan ke Mekkah dan meminta perlindungan kepada sanak keluarga mereka secara diam-diam. Mush'ab sendiri memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah karena rasa rindu kepada Rasulullah saw.
Tiba di Mekkah, Mush'ab langsung menemui Rasulullah saw. dan duduk bersama sahabat dengan mengenakan pakaian yang telah lusuh (ada yang mengatakan pakaian yang terbuat dari kulit domba).
Sahabat terkejut melihat penampilan Mush'ab, seorang pemuda necis yang selalu tampil rapi dan parfum yang selalu tercium dari jarak beberapa jauh, kini tampil hanya dengan pakaian yang telah lusuh, pemandangan itu ternyata membuat beberapa sahabat menitikkan air mata.
Rasulullah saw. bersabda, "Mush'ab rela meninggalkan segala kenikmatan dan kemewahan hidup di sisi orang tuanya semata-mata adalah karena Allah dan Rasul-Nya."
Sungguh pakaian lusunya kelak akan diganti dengan pakaian yang jauh lebih mewah dan mulia.
Bintang Mush'ab benderang sejak peristiwa baiat Aqabah pertama, yang kala itu dua belas orang Yatsrib datang menghadap Rasulullah saw. untuk menyatakan ke-Islam-man mereka. Setelah berbaiat mereka meminta Rasulullah saw. untuk mengutus salah seorang -- dari yang telah berislam, untuk menyertai mereka ke Yatsrib; mengajarkan Islam dan membacakan ayat-ayar suci. Mush'ab dipilih oleh Rasulullah saw. untuk mengemban tugas yang mulia itu.
Di Yatsrib, Mush'ab dikenal dengan sebutan Al-Safir Al-Muqri (Pengembara yang membacakan Al-Qur'an)
Mush'ab mengajarkan islam dengan dakwah sembunyi-sembunyi; menjaga agar pemuka Yatsrib tak merasa dihinakan. Dengan gerakan dakwah yang nyaris tiada kentara, semakin banyak penduduk Yatsrib yang menyatakan ke-Islam-man mereka. Apalagi setelah dua orang pemuka mereka Sa'd ibn Muaz dan Usaid ibn Khudhair juga menyatakan bahwa mereka menjadi Muslim.
Rasulullah tidak pernah benar-benar meninggalkan Mush'ab untuk berdakwah sorang diri. Beliau saw. kerap mengirimi surat tentang apaapa saja yang harus Mush'ab lakukan di Yatsrib. Seperti pada sebuah surat yang dikirimkan, yang bertuliskan, "Perhatikanlah hari yang di dalamnya orang Yahudi membuat keramaian untuk tradisi Sabat mereka. Jika matahari telah tergelincir, menghadaplah kepada ALlah dengan mendirikan shalat dua rakaat dan sampaikanlah khutbah kepada mereka."
Untuk melaksanakan perintah Rasulullah saw. itu, Mush'ab mengumpulkan kaum Muslimin yang saat itu baru berjumlah dua belas orang, di rumah Sa'd Khaitsamah. Itulah shalat jum'at pertama yang didirikan kaum Muslimin sebelum Nabi sendiri melaksanakannya dan sebelum surat al-Jumu'ah diturunkan.
Setelah Rasulullah hijrah ke Yatsrib (Madinah), kaum Muslimin mulai berusaha mengokohkan posisi mereka di antara bangsa-bangsa Arab, dan terlibat dalam beberapa perang kecil maupun besar. Tidak lama, kurang lebih delapan bulan setelah hijrah, kaum Muslimin terlibat peperangan melawan kaum Musyrik di Badar Mush'ab menjadi salah satu jundi dalam perang itu. Para perang berikutnya, yaitu perang Uhud, Mush'an ditugaskan membawa panji Rasulullah saw. Ia gugur sebagai syahid dalam perang tersebut akibat serangan Qamiah al-Laitsi. Ketika hendak dimakamkan, Mush'ab hanya mengenakan pakaian yang sangat pendek, yang jika ditarik untuk menutupi bagian kepalanya maka bagian kakinya terlihat; pun sebaliknya. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Tutupilah kepalanya! Dan tutupi bagian kakinya dengan ilalang."
Pada saat itu turun firman Allah:
Di antara orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)."
Semoga Allah merahmatinya.[]
