300x250 AD TOP

18.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #6 : Keikutsertaan Rasulullah Merekonstruksi Ka'bah (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #6 : Keikutsertaan Rasulullah Merekonstruksi Ka'bah

Orang-orang Quraisy membagi-bagi Ka'bah. Pintu menjadi jatah Bani Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara rukun Aswad rukun Yamani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung dengan mereka. Punggung Ka'bah menjadi jatah Jumah dan Sahm bin Amr. Hajar aswad menjadi jatah Bani Abduddar, Bani Asad, dan Bani Adi.

Tatkala peruntuhan Ka'bah telah sampai pada tahap peruntuhan pondasi Ibrahim 'alayhissalaam, --pondasi tersebut terbuat dari batu hijau berbentuk seperti punuk unta yang saling menempel lengket antara satu dengan yang lain- salah seorang Quraisy berusaha mencongkel batu tersebut dengan linggis, namun tetiba seluruh kota Mekah berguncang hebat. Karena peristiwa tersebut mereka menghentikan usaha mencabut batu pondasi itu.

Setelah selesai diruntuhkan, mereka membangun Ka'bah dengan setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri dan membangun bagian-bagian mereka hingga tiba saatnya peletakan Hajar Aswad, terjadi selisih pendapat karena setiap kabilah ingin menempatkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Terjadi perdebatan sengit diantara mereka sesampai mereka bersiap untuk berperang.

Sebagian riwayat mengatakan, Orang tertua di Quraisy, Abu Umayyah bin Al-Mughirah memberikan solusi permasalahan. Ia berkata, "Hai, orang Quraisy biarlah konflik kalian diselesaikan oleh orang yang pertama kali memasuki Masjid Haram hari ini" Mereka mematuhi perintahnya.

Ternyata Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam orang pertama yang memasuki pintu masjid haram, maka diberilah Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam amanah untuk menyelesaikan perkara yang tengah terjadi tersebut.

Tatkalah mereka melihat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam di dalam masjid mereka serentak berkata, "Ini Al-Amin, yang terpercaya. Kami senang! Ini Muhammad."

Kemudian permasalahannya diceritakan kepada beliau, lantas beliau berkata, "Kalau demikian, serahkan kain kepadaku."

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengambil Hajar Aswad dengan tangannya sendiri dan meletakkannya diatas kain tadi, kemudian memerintahkan setiap pemimpin kabilah untuk memengang ujung kain tersebut dan menempatkannya ke tempat semula. Sehingga setiap kabilah mendapat bagian dari peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula.

Sungguh keadilan yang begitu luar biasa.

Wallahu a'lam

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #6 : Keikutsertaan Rasulullah merekonstruksi Ka'bah (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #6 : Keikutsertaan Rasulullah merekonstruksi Ka'bah

Saat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berumur 25 tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk memperbarui pembangunan ka'bah.

Ka'bah adalah 'rumah' yang pertama dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah, dan mentauhidkanNya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim 'alayhissalaam bersama anaknya Ismail 'alayhissalaam berdasar pada wahyu Allah,
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa); 'Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'" (QS. Al-Baqarah[2] : 127)
Setelah itu, Ka'bah mengalami beberapa serangan yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Diantaranya adalah banjir yang menenggelamkan Mekah beberapa tahun sebelum bi'tsah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Hal ini tentu mengharuskan bangsa Quraisy untuk merekonstruksi ulang bangunan ka'bah.

Lagi, pada saat itu tengah terjadi keributan karena adanya beberapa orang yang mencuri harta kekayaan yang ada di dalam Ka'bah. Padahal harta tersebut tersimpan di sumur dalam Ka'bah.

Dalam kebimbangan --apa Allah murka jika Ka'bah direkontruksi- Tatkala Quraisy menyiapkan kayu-kayu yang hendak dijadikan atap Ka'bah (karena mereka ingin memberi atap pada Ka'bah) muncul ular yang selalu mendesis dan tegak menantang di sana, di sumur Ka'bah, Tetapi tak lama kemudian datang pertolongan lewat seekor burung yang memangsa ular tersebut. Orang Quraisy berkata, "Kita berharap semoga Allah ridhoi apa yang kira kerjakan"

Orang-orang Quraisy pun sepakat untuk meruntuhkan Ka'bah dan membangunnya kembali. Abu Wahb bin Amr berdiri dan berkata, "Wahai orang Quraisy janganlah sekali-kali membangun Ka'bah kecuali dengan uang yang halal. (Sebagian ada yang mengatakan bahwa itu perkataan Al-Walid bin Al-Mughirah)

Bagian 2

17.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #5 : Pernikahan dengan Khadijah (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #5 : Pernikahan dengan Khadijah

Melalui perantaraan Nafisah binti Muniyah. Khadijah menyatakan hasratnya ingin menikahi Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam

Tatkala Khadijah mengutarakan maksudnya kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, beliau menceritakan perihal tersebut kepada paman-pamannya. Maka dengan didampingi pamannya, Hamzah bin Abdul Muththalib, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam pergi ke rumah Khuwailid bin Asad. Hamzah melamarkan Khadijah untuk beliau.

Konon mahar Rasulullah kepada Khadijah adalah 100 unta, ada juga yang mengatakan 20 unta betina muda.

Khadijah adalah wanita pertama yang beliau nikahi. Selama Khadijah masih hidup, beliau tak menikahi wanita lain. Begitu cintanya beliau kepada Khadijah. Terang saja, dari Khadijahlah seluruh putera dan puteri Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dilahirkan. Kecuali Ibrahim al-Qasim (Ibunya adalah Maryah Al-Qibthiyyah). Semua putera Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam meninggal pada zaman jahiliyyah kecuali puteri-puterinya yang hidup sampai pada zaman islam, masuk islam, dan ikut hijrah bersama beliau.

Side story:

Maryah, adalah wanita yang dihadiahkan Al-Muqaiqis kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Mariyah berasal dari Hafn di kawasan Anshina.

Ibrah:

- Usaha beliau dengan Khadijah merupakan kelanjutan dari kehidupan mencari nafkah yang telah dimulainya dengan menggembala kambing.

- Khadijah adalah wanita yang mempunyai kedudukan tinggi di hati Rasulullah saw. sepanjang hidupnya.
"Sebaik-baik wanita langit adalah Maryam binti Imran, dan sebaik-baik wanita bumi adalah Khadijah binti Khuwailid" (HR. Bukhari Muslim)
'Aisyah radhiyallaahu 'anha pernah berkata, "Aku tak pernah cemburu kepada istri-istri Nabi shalallaahu 'alayhi wasallaam kecuali kepada Khadijah"

Juga, "Hampir Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tidak keluar rumah, sehingga menyebut Khadijah dan memujinya"

Wallahu a'lam

Kembali ke bagian 1
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #5 : Pernikahan dengan Khadijah (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #5 : Pernikahan dengan Khadijah

Saat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berusia 25 tahun, menikahlah beliau dengan Khadijah binti Khuwailid. Khadijah adalah seorang perempuan pelaku bisnis, terpandang dan kaya raya. Ia mempekerjakan karyawan untuk menjalankan roda bisnisnya dengan sistem bagi hasil.

Suatu ketika, Khadijah mendengar tentang Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam sifatnya, kejujurannya, keindahan akhlaknya, dan keagungan amanahnya, sehingga Khadijah menawarkan untuk memperdagangkan dagangannya ke Syam dengan ditemani karyawan lelakinya yang bernama Maisarah. Saat itu, Khadijah menawarkan gaji yang lebih besar kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ketimbang yang pernah ia berikan pada orang lain.

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menyetujuinya. Berangkatlah mereka ke Syam.

Suatu ketika, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berhenti dibawah pohon dekat rumah ibadah seorang pendeta. Pendeta itu lalu menemui Maisarah dan bertanya, "Siapa dia?"

"Ia adalah salah seorang suku Quraisy dan penduduk asli tanah haram" Jawab Maisarah.

"Ia pastilah seorang Nabi" Pendeta itu balas menjawab.

Setelah bernaung beberapa saat, sampailah mereka di Syam. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjual barang-barang yang ia bawa dari Mekah dan membeli apa yang hendak beliau beli. Setelah selesai semua urusan bisnisnya, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam pulang kembali ke Mekah dengan ditemani Maisarah. (Menurut sebagian riwayat, jika matahari sedang berada di puncak panasnya, Maisarah melihat dua Malaikat menaungi Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dari sengatan sinar Matahari)

Sesampainya di Mekah, beliau sampaikan amanahnya kepada Khadijah. Khadijah terkejut, betapa hebatnya lelaki ini. Beliau berhasil membawa keuntungan yang berlipat ganda, sehingga kepercayaan Khadijah bertambah padanya.

Semua sifat yang Maisarah lihat saat perjalanannya bersama Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, ia sampaikan pada Khadijah sedetailnya. Khadijah kemudian tertarik kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan menyatakan hasratnya untuk menikahinya.

16.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #4 : Perjalanan pertama ke Syam dan pertemuan dengan pendeta Bahira (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #4 : Perjalanan pertama ke Syam dan pertemuan dengan pendeta Bahira.

Tatkala mereka selesai makan, rombongan Quraisy berpencar. Sementara Bahira mendekati Rasulullah shallaahu 'alayhi wasallam (pada saat itu belum menjadi Nabi) dan bertanya, "Wahai anak muda, dengan menyebut Al-Lata dan Uzza aku mananyakan pada engkau dan hendaknya engkau menjawab pertanyaanku" Bahira katakan seperti itu karena Bahira mendengar bahwa kaum Quraisy bersumpah dengan Latta dan Uzza.

Ada yang meriwayatkan bahwa beliau shallaahu 'alayhi wasallam menjawab, "Janganlah sekali-kali engkau bertanya dengan menyebutkan mereka, Demi Allah tak ada yang aku benci selain mereka."

Lalu Bahira bersumpah dengan Nama Allah, "Demi Allah..." dan beliau shallaahu 'alayhi wasallam pun mempersilakan Bahira bertanya. Satu persatu pertanyaan Bahira beliau shallaahu 'alayhi wasallam jawab, dan setiap jawabannya sesuai dengan pengetahuan Bahira perihal kenabian. Kemudian Bahira melihat punggung Rasulullah shallaahu 'alayhi wasallam dan ia melihat tanda kenabian diantara kedua pundaknya (Tanda kenabian Rasulullah shallaahu 'alayhi wasallam seperti bekas bekam)

Setelah itu, Bahira bertanya kepada Abu Thalib, "Apakah anak muda ini anakmu?"

"Ya, Benar" jawab Abu Thalib.

"Tidak!" Bahira melanjutkan, "dia bukanlah anakmu. Anak muda ini sepatutnya tidak memiliki ayah yang masih hidup."

"O, ya dia adalah anak saudaraku." kata Abu Thalib.

"Katakan padaku apa yang dilakukan ayahnya?" tanya Bahira.

"Dia telah meninggal ketika ibu anak ini mengandungnya."

Bahira berkata, "Anda benar, bawalah dia pulang ke negerinya dan jagalah dia dari orang-orang yahudi. Jika mereka melihatnya di sini, pasti akan dijahatinya. Sesungguhnya anak saudaramu akan menjadi orang yang besar."

Kemudian Abu Thalib cepat-cepat membawa Muhammad remaja kembali ke Mekah. Dan menjaganya

Wallau a'lam