![]() |
| jejakperadaban.com | Sirah Nabawi |
Orang-orang Quraisy membagi-bagi Ka'bah. Pintu menjadi jatah Bani Abdu Manaf dan Zuhrah. Antara rukun Aswad rukun Yamani menjadi jatah Bani Makhzum dan kabilah-kabilah yang bergabung dengan mereka. Punggung Ka'bah menjadi jatah Jumah dan Sahm bin Amr. Hajar aswad menjadi jatah Bani Abduddar, Bani Asad, dan Bani Adi.
Tatkala peruntuhan Ka'bah telah sampai pada tahap peruntuhan pondasi Ibrahim 'alayhissalaam, --pondasi tersebut terbuat dari batu hijau berbentuk seperti punuk unta yang saling menempel lengket antara satu dengan yang lain- salah seorang Quraisy berusaha mencongkel batu tersebut dengan linggis, namun tetiba seluruh kota Mekah berguncang hebat. Karena peristiwa tersebut mereka menghentikan usaha mencabut batu pondasi itu.
Setelah selesai diruntuhkan, mereka membangun Ka'bah dengan setiap kabilah mengumpulkan batu sendiri-sendiri dan membangun bagian-bagian mereka hingga tiba saatnya peletakan Hajar Aswad, terjadi selisih pendapat karena setiap kabilah ingin menempatkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Terjadi perdebatan sengit diantara mereka sesampai mereka bersiap untuk berperang.
Sebagian riwayat mengatakan, Orang tertua di Quraisy, Abu Umayyah bin Al-Mughirah memberikan solusi permasalahan. Ia berkata, "Hai, orang Quraisy biarlah konflik kalian diselesaikan oleh orang yang pertama kali memasuki Masjid Haram hari ini" Mereka mematuhi perintahnya.
Ternyata Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam orang pertama yang memasuki pintu masjid haram, maka diberilah Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam amanah untuk menyelesaikan perkara yang tengah terjadi tersebut.
Tatkalah mereka melihat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam di dalam masjid mereka serentak berkata, "Ini Al-Amin, yang terpercaya. Kami senang! Ini Muhammad."
Kemudian permasalahannya diceritakan kepada beliau, lantas beliau berkata, "Kalau demikian, serahkan kain kepadaku."
Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengambil Hajar Aswad dengan tangannya sendiri dan meletakkannya diatas kain tadi, kemudian memerintahkan setiap pemimpin kabilah untuk memengang ujung kain tersebut dan menempatkannya ke tempat semula. Sehingga setiap kabilah mendapat bagian dari peletakan Hajar Aswad ke tempatnya semula.
Sungguh keadilan yang begitu luar biasa.
Wallahu a'lam
Wallahu a'lam
