300x250 AD TOP

Showing posts with label Nabi Muhammad. Show all posts
Showing posts with label Nabi Muhammad. Show all posts

29.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah (3/3)

jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah

Setelah Ja'far menjelaskan sedetailnya apa yang terjadi di antara mereka dan kaumnya, Najasy berkata kepada Ja'far, "Apakah engkau membawa bukti yang datang dari sisi Allah?"

Ja'far berkata, "Ada."

Najasy berkata, "Bacakanlah ia untukku!"

Kemudian Ja'far membacakan permulaan surat Maryam. Demi Allah, Najasy menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah oleh air mata. Para uskup juga menangis hingga air mata mereka membasahi mushaf yang mereka bawa. Ketika Najasy mendengar apa yang Ja'far bacakan, ia berkata, "Sesungguhnya ayat tadi dan apa yang dibawa Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Enyahlah kalian berdua, hai utusan Quraisy! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka dan aku akan melindungi mereka hingga mereka tidak bisa diusik."

Tatkala kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasy, Amr bin al-Ash berkata, "Demi Allah, besok pagi aku akan menghadap Najasy dan mencabut akar asal usul mereka." Abdullah bin Abu Rabi'ah, orang terkuat di antara kami berkata, "Jangan kau lakukan itu, karena mereka mempunyai kaum kerabat walaupun mereka berseberangan dengan kita." Amr bin al-Ash berkata, "Demi Allah, aku akan jelaskan kepada Najasy, bahwa Muhammad dan pengikutnya meyaini bahwa Isa adalah seorang manusia biasa."

Esok harinya, Amr bin al-Ash menghadap Najasy untuk kedua kalinya dan berkata, "Wahai tuan raja, mereka meyakini sesuatu tentang Isa bin Maryam. Oleh karena itu, kumpulkanlah mereka kembali ke sini agar engkau bisa menanyakan kepada mereka perihal tersebut."

Najasy mengirim utusan untuk menanyakan perihal Isa bin Maryam kepada kaum Muslimin.

Ummu Salaham berkata : Kami tidak pernah menghadapi sebuah masalah serumit ini sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, kaum Muslimin mengadakan diskusi. Sebagian diantara mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Apa yang akan kalian katakan tentang Isa bin Maryam, jika raja Najasy menanyakan hal itu kepada kalian?" Sebagian lain menjawab, "Demi Allah, kita akan katakan sebagaimana Allah firmankan dan apa yang Nabi kita katakan."

Ketika kaum Muslimin memasuki tempat Najasy; Najasy bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian yakini tentang Isa bin Maryam?"

Ja'far menjawab, "Dalam pandangan kami, Isa bin Maryam adalah seperti apa yang dikatakan Nabi kami, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam sang perawan."

Najasy memukul tanah dengan tangannya, lalu dia mengambil tongkat, kemudian berkata, "Demi Allah, apa yang dikatakan Isa bin Maryam mengetani tongkat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang engkau yakini."

Para uskup yang berada di sekeliling Najasy mendengus geram ketika mendengar apa yang dikatakan Najasy; Najasy kemudian berkata, "Ada apa dengan kalian!" Kepada kaum Muslimin Najasy berkata, "Kalian tetap aman di negeriku. Barangsiapa yang melecehkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa merendahkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa menghina kalian, ia merugi. Memiliki gunung dari emas, jika aku harus menyakiti salah seorang dari kalian maka hal itu sangan kubenci. Kembalikan hadiah-hadiah ini kepada kedua utusan orang Quraisy. Demi Allah, Dia tidak pernah menyuapku untuk mendapatkan kekuasaan dariku, apakah pantas jika kemudian aku mengambil suap di dalamnya. Allah jadikan manusia tidak taat padaku lalu haruskah aku jadikan taat mereka padaku."

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah (2/3)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah

Setelah kedua utusan itu memberikan hadiah-hadiah kepada para pendeta, lantas mereka kemudian memberikan hadiah kepada Najasy. Najasy menerimanya. Mereka berkata, "Wahai tuan raja, sesungguhnya telah menyelinap masuk anak-anak muda kami yang linglung. Mereka murtad dari agama kaumnya dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka menganut agama baru yang kita sama-sama tak mengenalnya. Kami diutus ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka kembali kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan."

Ummu Salamah melanjutkan : Tidak ada sesuatu pun yang paling dibenci Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr ibn al-Ash lebih daripada Najasy mendengarkan perkataan kaum muslimin. Para pendeta --yang telah diberi hadiah- di sekeliling Najasy berkata, "Mereka berdua telah berkata benar, wahai tuan raja. Kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang anak-anak itu katakan, dan lebih mengerti terhatap apa yang mereka cela. Oleh karena itu, kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini, agar keduanya membawa mereka kembali ke negeri dan kaum mereka."

Mendengar itu Najasy marah besar. Ia berkata, "Tidak! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku dan memilihku daripada orang selain aku, maka sudah kewajibanku bertanya kepada mereka perihal apa yang dikatakan kedua orang ini terhadap mereka. Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku serahkan mereka kepada kalian berdua dan aku pulangkan mereka kepada kaum dan negerinya. Namun jika perkataan kalian berdua tidak sesuai tentang mereka, maka aku akan melindungi mereka dari kalian berdua; melindungi mereka selama mereka berada di negeriku."

Ummu Salamah berkata : Kemudian Najasy mengundang sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melalui utusannya. Ketika utusan Najasy tiba di tempat, segera mereka mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut sebagian Muhajirin berbisik kepada sebagian lain, "Apa yang hendak kita katakan pada saat pertemuan nanti?" Seseorang menjawab, "Demi Allah, kita akan mengetakan apa yang selama ini kita ketahui. Apa yang disampaikan Nabi itulah yang akan kita katakan."

Ketika mereka tiba di tempat Najasy --ketika itu Najasy mengumpulkan para uskup dan membuka kitab mereka- Najasy kemudian bertanya kepada para Muhajirin, "Mengapa agama ini membuat kalian memisahkan diri dari kaum kalian, dan mengapa kalian tidak masuk ke dalam agamaku, serta tidak masuk ke dalam agama-agama yang telah ada?"

Orang yang menjawab pertanyaan Najasy ialah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berkata, "Wahai tuan raja, mulanya kami adalah ahli jahiliyyah. Kami menyembah patung-patung, memakan bangkai, menyakiti tetangga, dan orang kuat diantara kami selalu menindas orang lemah. Begitulah kondisi kami hingga Allah mengutus seseorang dari kami menjadi Rasul. Kami mengenal keturunannya, kebenarannya, dan kejujurannya. Ia mengajak kami kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, beridabah kepada-Nya, dan meninggalkan batu serta patung-patung yang sebelumnya kami sembah. Rasul itu memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, menahan diri dari hal-hal yang haram, dan tidak membunuh. Ia melarang kami dari perbuatan zina, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita yang menjaga kehormatannya. Ia memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ia juga memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa."

Ummu Salamah berkata : Ja'far bin Abu Thalib memaparkan asas-asas utama agama Islam, lalu ia berkata, "Kami membenarkan Rasul tersebut, beriman kepadanya, dan mengikut apa yang dia bawa dari sisi Allah. Hanya kepada Allah kami beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa yang Ia haramkan, dan menghalalkan apa yang Ia halalkan. Setelah itu muncul ketidaksukaan kaum kami terhadap kami dan agama ini. Mereka meneror dan menyakiti kami karena agama ini. Mereka memaksa kami kembali menyembah patung-patung dan menghalalkan apa yang sekarang kami haramkan. Karena mereka selalu meneror kami, mempersempit ruang gerak kami, dan selalu berusaha memisahkan kami dari agama kami, maka kami pergi ke negeri tuan dan memilih tuan daripada orang lain. Kami lebih suka hidup berdampingan dengan tuan, dan kami berharap tidak disiksa lagi di sisimu, wahai tuan raja."

<< Bagian ke-1 | Bagian ke-3 >>

28.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah (1/3)

jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah

Ibnu Ishaq berkata : Manakala orang-orang Quraisy menyadari bahwa sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam hidup damai dan tentram di bumi Habasyah, serta mendapatkan tempat tinggal dan ketenangan, mereka sepakat mengirim dua intel Quraisy yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi dan memintanya menyerahkan sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam kepada mereka. Mereka melakukan ini karena bermaksud menyiksa para sahabat agar murtad dari agamanya, dan mengeluarkan mereka dari negeri Habasyah. Orang yang diutus Quraisy adalah Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin al-Ash bin Wail, dan membekali keduanya dengan hadiah-hadiah mewah untuk diserahkan kepada Najasyi dan para pendetanya. Maka diutuslah keduanya.

Ketika Abu Thalib mengendus rencana orang-orang Quraisy, dan hadiah-hadiah mewah yang dibawa oleh kedua utusan tersebut, ia mengucapkan syair-syair untuk Najasy. Meminta Najasyi agar tetap memberikan perlindungan yang baik kepada kaum Muhajirin dan membela mereka:

Duhai, bagaimana keadaan Ja'far di tempat nun jauh di sana
Amr, dan para musuh itu adalah kerabat sendiri
Apakah keramahan Najasyi menyentuh Ja'far dan sahabat-sahabatnya
Ataukah ada pihak yang berusaha merusak suasananya
Engkau orang mulia dan luhur
Hingga orang yang tinggal di sisimu tak merasa menderita
Allah membekalimu dengan kelapangan
Dan pintu-pintu kebaikan semuanya melekat pada dirimu
Engkau orang pemurah yang berakhlak mulia
Orang yang jauh dan dekat merasakan kebaikanya

Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah, istri Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkata, "Setiba kami di Habasyah, Najasyi menyambut kami dengan sangat ramah. Kami merasa aman dengan agama kami, dan bisa berbadah kepada Allah tanpa siksaan dan tidak mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini lalu didengar orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi guna membicarakan tujuan mereka, dan merayunya dengan hadiah-hadiah untuk Najasyi yang berasal dari kekayaan penduduk Makkah. Anehnya bahwa di antara hadiah tersebut terdapat kulit. Orang-orang Quraisy mengumpulkan kulit banyak sekali, dan tidak ada satu pendeta pun yang tidak mereka siapkan hadiah. Barang-barang tersebut Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin al-Ash, dan mereka berdua diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka. Orang Quraisy berkata kepada mereka berdua, 'Berikan hadiah ini kepada semua pendeta sebelum kalian berdua mengutarakan maksud kalian kepada Najasyi mengenai orang-orang yang Hijrah agar ia menyerahkan orang-orang yang hijrah itu kepada kalian berdua." --atau sebagaimana yang dikatakan.

Ummu Salamah bercerita : Bangkitlah kedua utusan itu ke Habasyah. Pada saat itu kami sedang berada di sebuah rumah yang nyaman dan tetangga yang baik. Mereka berdua kemudian memberikan hadiah-hadiah itu kepada para pendeta sebelum berbicara kepada Najasyi. Keduanya berkata kepada setiap pendeta yang mereka beri hadiah, "Sesungguhnya telah masuk ke negeri Tuan raja, anak-anak mula yang linglung. Mereka meninggalkan agama kaumnya, dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Tokoh-tokoh Quraisy mengutus kami kesini untuk membawa mereka pulang. Jika kami berbicara kepara raja kalian tentang orang-orang tersebut, hendaklah kalian memberikan isyarat agar dia menyerahkan mereka kepada kami dan agar ia tidak berbicara dengan mereka, karena kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti apa yang mereka cela."

Para pendeta berbicara kepada mereka berdua, "Baiklah."

Bagian ke-2

26.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #21 : Hijrah pertama ke Negeri Habasyah

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #21 : Hijrah pertama ke Negeri Habasyah

Ketika siksaan demi siksaan yang dilancarkan kaum Quraisy terhadap sahabat-sahabat terus berlangsung. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda, "Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri Habasyah, karena rajanya mengharamkan siapapun di dalam wilayahnya di zhalimi; negeri tersebut adalah negeri yang aman sampai Allah memberi solusi atas kalian!"

Sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengikuti apa yang diperintahkan dan bergegas pergi menuju negeri Habasyah karena khawatir terhadap penyiksaan-penyiksaan yang semakin membabi buta. Mereka lari kepada Allah dengan mambawa agama mereka. Inilah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.

Beberapa orang yang berhijrah ke Habasyah, mereka adalah 'Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, Muhajirin dari bani Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Sahlah binti Suhail, Az-Zubayr bin Awwam, Mush'ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah beserta istrinya, Ummu Salamah, Utsman bin Madz'un, dan Amir bin Rabi'ah, dan beberapa orang lainnya.

Ibnu Hisyam berkata : Mereka dipimpin oleh Utsman bin Madz'un seperti dikatakan sebagian orang berilmu kepadaku.

Kemudian Ja'far bin Abu Thalib berangkat menyusul ke bumi Habasyah. Kaum muslimin secara bertahap berhijrah ke Habasyah hingga mereka berkumpul disana. Ada yang berhijrah ditemani istrinya, ada pula yang sendirian.

Wallahu a'lam

20.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #20 : Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Orang-Orang Lemah Yang Baru Memeluk Islam (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #20 : Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Orang-Orang Lemah Yang Baru Memeluk Islam.

Ibnu Ishaq berkata : Tatkala matahari sedang mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya yang semua telah masuk Islam ke padang pasir Mekah untuk disiksa. Pada saat mereka bertiga tengah di siksa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melewati mereka. Beliau bersabda seperti yang aku terima, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga" (HR. Al-Hakim, Baihaqi; sanadnya Hasan Shahih). Mereka membunuh Ummu Ammar karena tetap kokoh dan menolak kecuali Islam.

Abu Jahal; dialah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan orang-orang Quraisy. Jika mendengar ada orang yang mulia mendapat perlindungan masuk Islam, ia mencemooh dan mejelek-jelekkannya dengan mengatakan : "Engkau murtad dari agama ayahmu, padahal ayahmu lebih baik daripada engkau. Kami pasti menjelek-jelekkan mimpimu, tidak menerima pendapatmu, dan merusak kehormatanmu".

Jika orang tersebut pelaku bisnis, Abu Jahal akan berkata kepadanya : "Demi Allah, kami pasti membuat bisnismu bangkrut, dan kami hancurkan kekayaanmu". Jika orang tersebut adalah orang lemah, dia akan menyiksanya atau merayunya agar kembali murtad.

"Bagaimanakah bentuk penyiksaan orang-orang musyrikin terhadap sahabat-sahabat Rasulullah?" Abdullah bin Abbas berkata : "Demi Allah. Orang-orang Quraisy memukul salah satu dari sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, membuat mereka kelaparan dan kehausan hingga salah seorang dari mereka tak bisa berdiri tegak karenanya. Sampai-sampai orang Quraisy berkata kepadanya : "Al-Lata dan Al-Uzza adalah Tuhamnu, bukan Allah!"

Wallahu a'lam

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #20 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap orang-orang lemah yang baru memeluk Islam (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #20 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap orang-orang lemah yang baru memeluk Islam.

Kaum Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Setiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang berada di kabilahnya kemudian memenjarakan mereka; menghajar, membiarkan lapar dan haus, menjemur mereka di padang pasir Mekah jika musim panas sedang membara. Mereka menyiksa orang lemah diantara kaum Muslimin.

Di antara kaum Muslimin ada yang putar lagi haluan bersebab cobaan yang didera terasa amat berat; tetapi ada pula yang tetap tegar, kuat, dan beriman. Allah melindungi mereka dari orang-orang Quraisy.

Bilal; adalah mantan budak Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu. Awalnya ia dalah budak salah seorang dari Bani Jumah dan dilahirkan di Bani Jumah. Dialah Bilal bin Rabah. Ibunya bernama Hamamah. Bilal masuk Islam dengan hati tulus; hatinya bersih.

Umayyah bin Khalaf bin Wahb mengeluarkannya ketika matahari sedang di puncak teriknya. Ia membaringkannya di atas padang pasir Mekah, kemudian memerintahkan untuk menindihkan batu besar di atas tubuh Bilal. Umayyah berkata : "Demi Allah, engkau akan berada dalam kondisi seperti ini hingga engkau mati dan engkau membelot dari Muhammad; menyembah Al-Lata dan Al-Uzza".

Menghadapi cobaan itu, Bilal berkata : "Ahad (Esa), Ahad (Esa)"

Ibnu Ishaq berkata : Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, ia berkata : "Saat Bilal tengah disiksa dan mengatakan, 'Ahad, Ahad,' Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya dan berkata 'Demi Allah, Ahad, dan Ahad, Bilal'". Kemudian ia menemui Umayyah bin Khalaf lalu berkata : "Allah, jika Bilal kemudian mati di tempat ini, dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan memberkati tempat kematiannya". Demikianlah terus terjadi sampai Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu berjalan melewati mereka.

Abu Bakar berkata : "Mengapa engkau tidak tahut kepada Allah dari menyiksa orang miskin ini? Hingga kapan engkau menyiksanya?"

Umayyah bin Khalaf berkata : "Engkaulah yang membuatnya rusak. Oleh karena itu, selamatkan dia jika engkau suka!"

Abu Bakar menjawab : "Boleh! aku mempunyai budak hitam yang lebih kuat dan kekar daripada dia; lebih fanatik berpegang dengan agamamu. Bilal milikku, budakku menjadi milikmu!". Umayyah bin Khalaf setuju dengan kesepakatan yang diberikan Abu Bakar. Bilal kemudian dimerdekakan olehnya.

Pra Hijrah, Abu Bakar telah memerdekakan enam budak, Bilal merupakan budak ke-7 yang dibebaskannya. Keenam budak tersebut adalah : Amir bin Fuhairah. Ia terlibat di perang uhud dan syahid di perang Bi'ru Maunah, Ummu Ubais, Zinnirah yang ketika Abu Bakar membebaskannya ia tengah dalam kondisi buta karena penyiksaan terhadapnya; orang-orang Quraisy berkata : "Matanya telah diambil Al-Lata dan Al-Uzza". Zinnirah berkata : "Demi Baitullah, mereka bohong. Al-Lata dan Al-Uzza hanyalah patung yang tak bisa apa-apa". Kemudian Allah mengembalikan penglihatannya.

Kemudian memerdekakan An-Nadhiyyah dan putrinya. Keduanya milik seorang wanita dari Bani Abduddar. Kemudian Abu Bakar berjalan melewati wanita Muslimah Bani Muammil di perkampungan Bani Adi bin Ka'ab. Ketika itu Umar bin Khattab --saat masih musyrik- tengah menyiksanya hingga dirinya kelelahan. Umar bin Khattab berkata : "Aku berhenti menyiksamu hanyalah karena kelelahan". Wanita itu menjawab : "Demikianlah Allah berbuat terhadap dirimu". Kemudian Abu Bakar membeli budak wanita tersebut dan memerdekakannya.

Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar : "Aku lihat engkau cenderung memerdekakan mereka yang lemah. Andai saja engkau memerdekakan budak-budak yang kuat, niscaya mereka siap untuk melindungimu". Abu Bakar berkata : "Wahai ayahanda, aku hanya melakukan apa yang Allah inginkan". Salah seorang dari keluarga Abu Bakar berkata bahwa Allah telah menurunkan ayat-ayat tengang Abu Bakar dan tentang ucapan ayahnya kepadanya. Allah berfirman,
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungghnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar benar mendapat kepuasan. (QS. Al-Lail : 5-21)
Bagian ke-2

19.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #19 : Siapa yang menyimak bacaan Al-Quran Rasulullah secara sembunyi?

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #19 : Siapa yang menyimak bacaan Al-Quran Rasulullah secara sembunyi?

Suatu malam, beberapa orang Quraisy menyelinap keluar, mengintip-sembunyi di setiap sisi --berbeda- luar bilik Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, tanpa mengetahui keberadaan satu sama lain. Mereka rela begadang; tujuan utama mereka adalah untuk menyimak apa yang Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam baca saat shalat malam; Al-Quran. Mereka adalah Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-Akhnas bin Syariq.

Ketika fajar menyingsing, setelah selesai urusan mereka, dan mentari pun tengah merekah, mereka bubar. Di satu jalan, mereka bertemu satu sama lain, saling mengata-ngatai. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain : "Janganlah engkau lakukan ini esok hari, karena jika kelakuan kalian ini diketahui oleh orang-orang yang kurang waras, maka akan menimbulkan rasa curiga di dalam diri mereka". Setelah itu mereka berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertiga melakukan hal yang sama; begadang, mengintip-sembunyi mendengar bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tanpa mengetahui satu sama lain. Hingga ketika fajar telah tiba, mereka bertemu kembali di suatu jalan dan mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.

Keesokan harinya lagi, mereka melakukan hal yang sama; begadang, mengintip-sembunyi mendengar bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tanpa mengetahui satu sama lain. Hingga fajar telah menyapa, mereka bertemu kembali di suatu jalan. Akhirnya mereka mengadakan perjanjian. Sebagian dari mereka berkata : "Mari kita berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang seperti ini lagi". Mereka bertiga pun berjanji tidak mendengarkan bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam lagi.

Keesokan harinya, Al-Akhnas mengunjungi Abu Sufyan dan berkata : "Wahai abu Hanzhalah, katakanlah kepadaku pendapatmu tentang apa yang engkau simak dari bacaan Muhammad". Abu Sufyan berkata : "Wahai abu Tsa'labah, demi Allah, aku mendengar beberapa aku tahu dan aku mengerti maksudnya; beberapa yang lain aku tak tahu dan tak memahami maksudnya. Al-Akhnas berkata : "Sungguh, aku juga sama sepertimu".

Lalu Al-Akhnas mengunjungi Abu Jahl dan menanyakan hal yang sama. Abu Jahl menjawabnya : "Mendengar apa aku?! Bukankah kita bersaing ketat memperebutkan kehormatan dengan Bani Abdi Manaf. Mereka memberi makan, kita juga melakukan hal yang sama. Hingga mereka berkata 'Kita memiliki Nabi yang mendapatkan wahyu dari Langit'. Kapankah kita bisa mencapai hal seperti itu? Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada Nabi tersebut, tidak akan pula membenarkannya". Al-Akhnas berdiri dan meninggalkan Abu Jahl.

Ibnu Ishaq berkata : "Apabila Rasulullah memperdengarkan ayat Al-Quran kepada mereka dan mengajak kepada Allah, mereka selalu berkata, 'Hati kami tertutupi dari apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara diri kamu dan diri kami ada dinding. Maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja, kami tidak mengerti apapun darimu'" Artinya, kami tak mengerti apa yang engkau katakan, kami tidak bisa menyimak apa yang engkau katakan, ada penghalang antara kami denganmu. Kerjakanlah apa yang mesti engkau kerjakan, kami akan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan.

Allah berfirman kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tentang ucapan mereka,
Dan apabila kamu membaca Al Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (QS. Al-Isra' : 45-46)
Yakni, mustahil mereka mampu memahamimu, yang mentauhidkan Tuhanmu. Jika Aku sudah menyumbat hati mereka dan menutup telinga mereka, serta terdapat dinding pemisah antara mereka denganmu sebagaimana yang mereka duga.
Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: "Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir". (QS. Al-Isra' : 47)
Itulah yang saling mereka wasiatkan, yakni tidak mengamalkan apa yang Aku utus engkau dengannya kepada mereka.
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). (QS. Al-Isra' : 48)
Artinya, mereka telah keliru dalam mencitrakan dirimu. Maka tidaklah aneh apabila mereka tidak mendapatkan petunjuk dari dalamnya, dan perkataan mereka tidak memiliki nilai sedikitpun.
Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" (QS. Al-Isra' : 49)
Yakni, engkau telah jelaskan kepada kami bahwa kami akan dibangkitkan setelah kematian dan setelah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur. Ini satu hal tidak mungkin terjadi.
Katakanlah: "Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya: "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama". Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat" (QS. Al-Isra' : 50-51)
Yakni, Dzat yang menciptakan kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui. Maka diciptakannya kalian dari tanah tidak lebih sulit dari-Nya.

Ibnu Ishaq berkata : Abdullah bin Abu Naji berkata kepadaku dari Muhajid dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu yang berkata bahwa aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai firman Allah, "Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian". Apa maksud Allah dengannya? Ibnu Abbas menjawab : Kematian.

Wallahu a'lam 

18.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #18 : Pertama kali Al-Quran dibacakan di depan umum

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #18 : Pertama kali Al-Quran dibacakan di depan umum.

Ibnu Ishaq berkata : Yahya bin Urwah bin Az-Zubayr bercerita kepadaku dari ayahnya yang berkata : Orang yang pertama kali membaca Al-Quran secara terbuka di depan umum di Mekah setelah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu.

Pada suatu ketika, sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkumpul, mereka berkata : "Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Quran yang dibaca di depan umum. Siapakah yang berani memperdengarkannya kepada mereka?" Abdullah bin Mas'ud berkata : "Aku!" tegas. Para sahabat berkata : "Kami khawatir akan nyawa. Kami ingin ada orang yang mempunyai keluarga dapat melindunginya dari kaum Quraisy jika nanti mereka berbuat jahat". Abdullah bin Mas'ud berkata : "Biarkanlah aku melakukannya, karena Allah melindungiku".

Kemudian, Abdullah bin Mas'ud pergi ke Maqam pada waktu dhuha; pada saat orang-orang Quraisy sedang berkumpul di balai tempat mereka biasa berkumpul. Abdullah bin Mas'ud berdiri di Maqam tersebut, lalu membaca dengan nyaring,
Arrahmaan. 'Allamalquraan; Tuhan yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. (QS. Ar-Rahman : 1-2)
Abdullah bin Mas'ud melanjutkan bacaannya, sedang orang-orang Quraisy sebagian ada yang merenungkannya, sebagian yang lain bahkan berkata : "Apa yang dibaca anak Ummu Abd ini?", sebagian lagi berkata : "Ia sedang membacakan apa yang dibawa Muhammad".

Mereka bangkit bergerak mendekati Abdullah bin Mas'ud lalu menghajarnya; tetapi Abdullah bin Mas'ud sedikitpun tak bergeming, dia tetap melanjutkan sampai ayat sekian. Setelah selesai, kemudian Abdullah bin Mas'ud pergi menemui sahabat dengan wajah yang terluka. Mereka berkata kepada Abdullah bin Mas'ud : "Itulah yang kami khawatirkan atas dirimu". Abdullah bin Mas'ud berkata : "Musuh-musuh Allah itu tak lah lebih hina dalam pandanganku daripada mereka sejak sekarang. Jika kalian menghendaki, besok pagi akan aku lakukan lagi". Mereka berkata : "Jangan! Cukuplah. Engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tak mereka suka".

Wallahu a'lam

13.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi

An-Nadhr adalah salah satu gembong yang membuka front permusuhan dengan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Ia pernah pergi ke Al-Hirah dan di sana ia sering mendengar cerita-cerita tentang raja persia, kisah tentang rustum, dan isfandiyar. Jika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkhotbah di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka. Setelah beliau selesai, An-Nadhr selalu duduk di tempat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tadi duduk dan berkata : "Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, ucapanku lebih bagus daripada ucapan Muhammad. Sekarang kemarilah, niscaya aku campaikan kepada kalian tutur kata yang jauh lebih indah daripada perkataan Muhammad!"

Al-Qur'an menyuratkan delapan ayat tentang An-Nadhr yaitu firman Allah,
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala" (QS. Al-Qalam : 15)
Usai berkata demikian, An-Nadhr mengutus beberapa orang Quraisy untuk menemui pendeta-pendeta Madinah dan berpesan : "Bertanyalah kalian kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifat, serta ucapannya. Sesungguhnya mereka adalah yang pertama diberi kitab; mereka lebih mengetahui tentang para nabi sedangkan kalian tidak".

Berangkatlah mereka ke Madinah. Ketika bertemu dengan rabi-rabi Yahudi mereka menyampaikan apa yang orang Quraisy pesankan; mereka menjelaskan tentang sifat dan ucapan-ucapan Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam. Mereka berkata : "Sesungguhnya kalian telah diberti Taurat, dan kami datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami".

Ibnu Ishaq berkata : rabi-rabi Yahudi itu kemudian berkata "Tanyakanlah tiga hal kepada sahabatmu itu. Jika ia mampu menjawab ketiga hal tersebut, pastilah ia seorang Nabi juga Rasul. Tetapi kalau ia tidak mampu menjawabnya, kalian akan tahu kebohongannya. Tanyakan kepada mereka tentang pemuda-pemuda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana kabar mereka? Sebab mereka mempunyai kisah yang menarik. Kemudian tanyakan mengenai seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat; seperti apa kisahnya? Lalu tanyakan juga padanya tentang ruh; apa itu ruh? Jika ia bisa menjawab ikutilah dia, jika tidak maha kalian bebas melakukan apa saja terhadapnya.

Setelah selesai semua urusan mereka di Madinah, mereka bergegas kembali ke Mekah dan mengabarkan kepada orang-orang Quraisy tentang apa yang mereka dapatkan. Mereka berkata : "Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kami datang membawa sebuah kabar kepada kalian. Rabi-rabi Yahudi menyuruh kita untuk menanyakan tiga hal kepada Muhammad, jika ia mampu menjawab maka ia seorang Nabi, jika ia tidak mampu menjawab, maka kalian bebas menilai seperti apa dirinya".

Mereka pun menemui Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan menanyakan tiga hal tadi; "Hai Muhammad, ceritakan pada kami tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik hati, lalu kisah seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat, serta apa itu ruh?"

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjawab : "Semua pertanyaan kalian aku jawab esok pagi". Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menyanggupinya tanpa mengatakan in syaa Allah. Setelah itu mereka berbalik pulang.

Menurut pakar sejarah, Rasulullah shalalallaahu 'alayhi wasallaam selama lima belas malam tidak menerima wahyu. Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga membuat gusar penduduk Mekah. Mereka berkata : "Muhammad menjanjikan sebuah jawaban pada kita besok pagi, tetapi sekarang sudah berlalu lima belas malam".

Rasulullah shalalallaahu 'alayhi wasallaam berduka karena wahyu terputus dari beliau. Baru setelah itu datanglah malaikat Jibril dengan membawa surat Al-Kahfi. Selain --di ayat-ayat awal- Allah menjelaskan tentang kenabian kekasihnya, Muhammad, Allah juga menegur Rasulullah shalalallaahu 'alayhi wasallaam karena tidak mengatakan in syaa Allah. Allah berfirman,
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) : 'In syaa Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah 'Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini". (QS. Al-Kahfi : 23-24)
Kemudian Allah berfirman tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) di QS. Al-Kahfi ayat 18-21,
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya". Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya". (QS. Al-Kahfi 18-21)
Lalu di ayat lain,
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan". (QS. Al-Kahfi 25-26)
Allah juga berfirman tentang pengembara yang menjelajahi timur dan barat (Zulqarnain) di QS. Al-Kahfi ayat 83-84
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya". Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi 83-84)
Allah juga berfirman tentang ruh,
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (QS. Al-Isra' : 85)

Wallahu a'lam

Kembali ke bagian 1

12.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi

Pasca perundingan yang disiasatkan oleh kaum Quraisy (Tawaran diplomasi 1 & 2) ditolak oleh Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, salah seorang pentolan Quraisy berkata : "Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak perempuan Allah". Ucapan mereka diabadikan dalam Al-Qur'an surat Al-Israa' : 90-92.

Seusai mengatakan itu kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, beliau bangkit diikuti Abdullah bin Abu Umayyah. Dia berkata : "Hai Muhammad, kaummu telah mengajukan dengan demikian banyak tawaran menggiurkan kepadamu, namun, semuanya engkau tolak. Mereka memintamu bukti akan kedudukanmu di sisi Allah sebagaimana pengakuanmu, agar kami membenarkanmu, namun engkau tidak juga mengabulkannya. Mereka memintamu menunjukkan kesaktianmu hingga mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka, namun engkau tidak juga mampu membuktikannya. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan pada mereka, namun engkau tak mewujudkannya. Demi Allah, jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengimanimu hingga engkau membangun tangga ke langit, kemudian engkau naik kelangit melalui tangga itu dan aku melihatmu tiba di sana, setelah itu engkau mengambul empat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan harapkan aku membenarkanmu".

Kemudian Abdullah bin Umayyah pergi meninggalkan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam; Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam pelang dengan perasaan sedih.

Selang beberapa saat dari kejadian di atas tadi, Abu Jahal merencanakan niat jahatnya untuk mengganggu Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam saat beliau sedang shalat. Ketika sujud, Abu Jahal mengambil sebuah batu dan hendak memukulkannya. Tetapi saat dia dekat dengan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, mukanya berubah pucat pasi dan lari terbirit-birit. Orang Quraisy bergegas menemui Abu Jahal dan berkata : "Apa yang terjadi padamu wahai Abu Jahal?".
Abu Jahal berkata : "Aku berjalan kepada Muhammad untuk melakukan apa yang aku katakan pada kalian semalam. Saat aku dekat dengannya, tetiba muncullah seekor unta. Demi Allah, aku belum pernah melihat kepala unta, pangkal lehernya, dan taringnya seperti unta itu. Aku sangat takut unta tersebut akan menerkam diriku".

Ketika Abu Jahal tertekan seperti itu, bangkitlah An-Nadhr bin Al-Harits dan berkata : "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, sungguh telah datang kepada kalian sesuatu yang tidak bisa kalian berkilah darinya. Sungguh sebelum ini Muhammad di mata kalian adalah anak muda belia, orang yang paling diterima di sisi kalian, dan orang yang paling tampak kejujurannya. Hingga ketika kalian lihat dia mulai beruban dan dia datang kepada kalian dengan ajaran yang dibawanya, kalian lalu menuduhnya sebagai penyihir, dukun, penyair, dan orang gila. Tidak, demi Allah, ia bukan penyihir, dukun, penyair, dan orang gila. Wahai orang-orang Quraisy, pikirkan persoalan ini dengan cermat, karena demi Allah, sebuah masalah besar telah merongrong kehidupan kalian.

Bagian ke-2

29.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #16 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy 2

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #16 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy 2

Setelah gagal berunding dengan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam dengan diwakili Abu Al-Walid; Utbah. Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bawa beberapa orang musyrik, termasuk Al-Walid bin Al-Mughirah dan Al-Ash bin Wa'il, datang menemui Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepada beliau dengan syarat agar beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka.

Ketika Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam menolak tawaran tersebut, mereka berkata : "Bagaimana jika kamu menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyembah tuhanmu sehari (bergantian)?" Tawaran ini juga ditolak oleh Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam; berkenaan hal ini Allah kemudian berfirman,
Katakanlah, "Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (juga) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku" (QS. Al-Kafirun)
Para pembesar Quraisy tak berputus asa sampai disana, mereka dengan terusnya membujuk Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam; secara beramai-ramai mereka kembali mendatangi beliau, menawarkan apa yang sebelumnya pernah ditawarkan. Lalu Rasulullah berkata : "Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta, tidak pula kehormatan ataupun kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul; Dia menurunkan kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku sampaikan pula nasehat kepadamu. Jika kamu menerima, kebahagiaanlah yang akan kamu terima. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu".

Kemudian mereka berkata : "Jika kamu tak bersedia menerima tawaran kami, maka sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya, dan lebih keras kehidupannya selain daripada kami. Karena itu mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan gunung-gunung yang menghimpit dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai untuk kami sebagaimana di Syam dan Iraq, dan bangkitkan bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushay bin Kilab, karena dia seorang tokoh yang terkenal jujur, sehingga kami dapat bertanya kepadanya tentang apa yang anda katakan. Mintalah untukmu sendiri kebun, istana, tambang emas dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini kamu inginkan. Jika kamu telah melakukan apa yang kami minta, maka kami baru akan membenarkanmu. Kami akan tahu kedudukanmu di sisi Allah dan kami akan mempercayaimu sebagai utusan Allah sebagaimana yang engkau katakan".

Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam berkata : "Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan meminta hal itu kepada Allah; aku diutus kepada kalian bukan untuk mengabulkan permohonan-permohonan mistis kalian. Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dengan apa yang kalian saksikan saat ini. --atau sebagaimana yang telah beliau katakan".

Setelah perdetabatan panjang, akhirnya mereka berkata kepada Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam : "Kami dengar bahwa kamu mempelajari semua itu dari seorang yang tinggal di Yamamah bernama ar-rahman. Demi Allah kami tidak percaya kepada ar-rahman. Sesungguhnya kami telah berusaha sepenuhnya kepadamu, wahai Muhammad. Demi Allah, kami tak akan biarkan kamu mengalahkan kami".

Wallahu a'lam

27.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #15 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #15 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad

Perlakuan ini terjadi sebelum Hamzah bin Abdul Muththalib memeluk Islam. Ketika itu, orang-orang Quraisy tengah gencar-gencarnya melancarkan teror kepada Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam; dan orang-orang yang telah mengikuti beliau.

Mereka memobilisasi orang-orang bodoh untuk mengusik, mendustakan, mencaci, dan menuduh beliau sebagai seorang penyair, penyihir, dukun, dan orang gila. Rasulullaah shalallahu 'alayhi wasallaam sedikitpun tak terpengaruh oleh teror mereka. Beliau terus berdakwah dengan menampakkan apa yang mereka tak sukai; 'menghina' agama mereka, meninggalkan berhala-berhala mereka, dan menjauhi kekafiran mereka.

Urwah bin Zubair berkata bahwa, "Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr: 'Berapa kali engkau melihat orang-orang Quraisy meneror Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam?'

Abdullah bin Amr berkata : "Suatu waktu, aku bertemu tokoh-tokoh Quraisy di Hijr. Mereka tengah membicarakan sepak terjang Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam. Mereka berkata: 'Sebelumnya aku selalu sabar menghadapi sesuatu sampai datang lelaki ini (Muhammad). Ia membathilkan mimpi-mimpi kita, mengata-ngatai leluhur kita, dan mencaci agama kita, memecah belah kita, dan juga menghina Tuhan-tuhan kita".

Saat tengah asyik berdiskusi, tetiba Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam muncul di dekat mereka melakukan thawaf di Ka'bah. Saat Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam melintasi mereka, dihinalah beliau. Sampai putaran ke-2, beliau tak menganggap mereka. Tetapi saat ketiga kalinya beliau melintasi mereka, beliau berhenti dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Quraisy demi Allah, apakah kalian tidak tahu bahwa aku datang untuk membinasakan kalian?"

Perkataan Rasulullah tersebut amat merasuk ke dalam hati orang-orang Quraisy, hingga seseorang diantara mereka terdiam bagai patung.

Karena terkaget, mereka berusaha mencabut perkataannya dan menenangkan beliau; meminta maaf dengan kata-kata yang sebaik mungkin. Kemudian Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam pergi meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya ketika orang-orang Quraisy tengah mengadakan pertemuan seperti biasa. Sebagian diantara mereka berkata : "Apakah kalian masih ingat kejadian kemarin di tempat ini? Sayang, ketika ia muncul di tengah kalian dengan memperlihatkan apa yang kalian benci, kalian membiarkannya".

Ketika mereka tengah dalam keadaan seperti itu, Rasulullah melintasi mereka lagi --saat melakukan thawaf-. Kali ini mereka serentak melompat lalu mengitari Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam dan berkata : "Engkaukah orang yang mengatakan ini dan itu?"

Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam menjawab : "Iya benar, akulah yang mengatakan semua itu"

Abdullah bin Amr berkata : "Aku melihat seseorang dari mereka memegang baju Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam". Atau dalam riwayat lain mengatakan bahwa ketika Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam tengah melakukan shalat di Ka'bah tiba-tiba datang 'Utbah bin Abu Mu'ith mencekik leher Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sekuat tenaga dengan kainnya.

Kemudian Abu Bakar melintasi mereka dan berkata : "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan, 'Tuhanku hanyalah Allah'?"

***

Ketika Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sedang sujud di sekitar beberapa orang Quraisy, tetiba 'Uqbah bin Abi Mu'ith datang dengan membawa kotoran binatang, lalu melemparkannya ke atas punggung Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam. Beliau tak mengangkat kepalanya sampai anaknya, Fathimah radhiyallaahu 'anha datang membersihkan dan melaknati orang yang melakukan perbuatan keji tersebut.

Ath-Thabari dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa sebagian mereka pernah menaburkan tanah ke atas kepala Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam, ketika beliau sedang berjalan di sebuah lorong di Mekah, sehingga beliau kembali dengan keadaan kotor. Kemudian salah seorang anak perempuan beliau membersihkannya sembari menangis. Rasulullah menenangkan anaknya tersebut dengan berkata : "Wahai anakku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah melindungi bapakmu"

Demikian pula penyiksaan-penyiksaan yang dialami para sahabat sesampai ada di antara mereka buta, bahkan meninggal dunia. Tetapi semua itu tidak melemahkan semangat keimanan mereka.

Imam Bukhari dari Khabbab bin Al-Arit, ia berkata : "Aku datang menemui Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam, ketika beliau tengah berteduh di Ka'bah. Kepada beliau aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah untuk kami? Apakah anda tidak berdoa untuk kami?' Beliau menjawab, 'Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang belah kepalanya menjadi dua, dan da pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu sedikitpun takmenggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Allah, Dia pasti akan mengakhiri semua persoalan ini sehingga orang berani berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapapun juga selain kepada Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian tampak terburu-buru".

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #14 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #14 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy

Utbah bin Rabi'ah sang tokoh Quraisy ketika ia sedang duduk di balai pertemuan Daar An-Nadwah milik orang-orang Quraisy; dan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sedang duduk-duduk sendirian di Masjid berkata : "Hai orang-orang Quraisy, bagaimana jika aku berdiplomasi dengan Muhammad dan mengajukan tawaran-tawaran? Siapa tahu ia menerima sebagiannya, dengan maksud agar ia mau menghentikan dakwahnya?".

Peristiwa ini terjadi ketika Hamzah telah masuk Islam, dan orang-orang Quraisy melihat kekuatan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam semakin besar.

Orang-orang Quraisy berkata : "Baiklah, temui dan berbicaralah dengannya!".

Utbah kemudian pergi menghampiri Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam dan duduk dekat beliau. Utbah berkata : "Hai, keponakanku, sesungguhnya engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami. Engkau mempunyai kehormatan di antara kami; dan memiliki keluhuran nasab. Tetapi engkau telah merusak kemapanan kaummu; engkau memecah belah persatuan mereka, mencemoohkan mimpi-mimpi mereka, mencaci sesembahan dan agama mereka; mengkafirkan leluhur mereka. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa engkau pikirkan dan semoga engkau bisa menerima sebagian tawaran-tawaran ini."

Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam berkata : "Katakanlah wahai Abu Al-Walid, aku pasti akan menyimak apa yang engkau katakan!".

Utbah berkata : "Wahai keponakanku, jika tujuan dakwahmu untuk mendapatkan harta, maka kami akan himpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami; jika tujuan dakwahmu adalah kehormatan, maka akan kami jadikan engkau pemimpin kami yang tidak ada satu perkara pun terlaksana tanpa keputusanmu; jika tujuan dakwahmu adalah kekuasaan, maka akan kami angkat engkau sebagai raja --dan sedemikian yang dikatakannya sampai tuntas-"

Rasulullah berkata : "Apa engkau telah selesai bicara wahai Abu Al-Walid?".

Utbah menjawab : "Ya".

Rasulullah berkata : "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan".

Kemudian Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam membaca sebuah ayat,
Bismillahirrahmaanirrahiim, Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)" (QS. Fushshilat : 1-5)
Lalu Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam membacakan kelanjutkan ayat-ayat diatas; sementara Utbah ketika diperdengarkan ayat-ayat tersebut, duduk-serius mendengarkan sambil bersandar dengan kedua tangannya. Tatkala Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sampai pada ayat sajdah, beliau sujud, kemudian berkata : "Hai Utbah, engkau telah menyimak dengan jelas apa yang baru saja aku perdengarkan. Kini, terserah kepadamu mau dibawa kemana apa yang baru saja engkau dengarkan itu".

Utbah pulang menemui orang-orang Quraisy, mereka berkata kepada sebagian yang lain : "Demi Allah, aku melihat bahwa Utbah pulang membawa wajah berbeda dibanding saat ia berangkat tadi.

Mereka bertanya kepada Utbah : "Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Al-Walid?".

Utbah menjawab : "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelum-sebelumnya. Demi Allah, perkataan tersebut bukanlah syair, bukan sihir, bukan pula perdukunan. Wahai orang-orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara ini kepadaku, biarkanlah ia (Muhammad) dengan apa yang ia kerjakan. Biarkanlah dia! Demi Allah, ucapannya yang aku dengan tadi pada suatu saat akan menjelma menjadi kekuatan yang sangat besar" --atau sebagaimana yang ia katakan-

Orang-orang Quraisy berkata : "Ia telah mengguna-gunaimu dengan mantranya wahai Abu Al-Walid!"

Utbah berkata : "Ini hanya pendapatku saja tentang dia. Terserah kalian mau menerima atau tidak?!"

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #13 : Ketika Hamzah masuk Islam

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #13 : Ketika Hamzah masuk Islam.

Pernah suatu ketika, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam di bukit Shafa. Ia menganggau beliau, mencaci, dan memaki beliau dengan sangat hina. Ketika itu mantan budak wanita Abdullah bin Jud'an menyaksikan apa yang dilakukan Abu Jahal pada beliau.

Usai puas mengumpat Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam Abu Jahal berlalu pergi untuk melakukan pertemuan dengan para petinggi Quraisy di balai; di samping Ka'bah.

Tak lama kemudian Hamzah bin Abdul Muththalib datang dengan memanggul panahnya. Rupanya ia usai pulang dari berburu. Ia adalah sosok yang suka berburu. Apabila pulang dari perburuan Ia tidak langsung menuju ke rumah, tetapi ia melakukan thawaf terlebih dahulu di Ka'bah; biasanya setelah melakukan thawaf, Hamzah mengucapkan salam kepada orang-orang Quraisy yang sedang mengadakan pertemuan di balai untuk kemudian berbincang ringan dengan mereka.

Hamzah adalah anak muda yang disegani di antara orang-orang Quraisy. Ketika ia hendak pulang ke rumah, ia melewati mantan budak wanita tadi dan menceritakan segala apa yang disaksikannya kepada Hamzah.

Mantan budak itu berkata : "Wahai Abu Umarah, andai saja engkau tadi saksikan apa yang dilakukan Abu Al-Hakam bin Hisyam kepada keponakanmu Muhammad! Ia mengganggunya, mencacinya, memakinya, dan menghinannya dengan seburuk-buruk penghinaan. Lalu pergi meninggalkan keponakanmu; keponakanmu tak menimpalinya sedikitpun".

Mendengar itu Hamzah bergegas mencari Abu Jahal dan akan memukulnya. Didapatinya Abu Jahal sedang berada di dalam Masjid sedang duduk berdiskusi bersama orang-orang Quraisy, lalu Hamzah berjalan ke arahnya, mengangkat busur, dan memukulnya dengan keras sampai Abu Jahal terluka sangat parah.

Terlukalah Abu Jahal. Sangat parah. Hamzah berkata : "Apa engkau menhina keponakanku, padahal aku seagama dengannya?; dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah seperti apa yang ia persaksikan? Silakan balas jika engkau mampu!".

Beberapa orang dai Bani Makhzum mendekat untuk menolong Abu Jahal. Namun Abu Jahal berkata : "Biarkan saja Abu Umarah. Demi Allah aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk".

Sejak saat itu Hamzah masuk Islam dan mengikuti setiap ucapan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam.

Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Hamzah telah masuk Islam, mereka menyadari bahwa kini Muhammad telah kuat, terjaga, dan terlindungi. Bersebab itu, mereka hentikan sebagian teror terhadap Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasalaam.

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #12 : Kebingungan Al-Walid tentang Al-Quran

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #12 : Kebingungan Al-Walid tentang Al-Quran.

Ibnu Ishaq berkata : beberapa orang Quraisy mendatangi --tokoh senior diantara mereka- Al-Walid bin Al-Mughirah. Pada pertemuan tersebut Al-Walid berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, musim haji akan segera tiba dan bangsa Arab akan berduyun datang ke tempat kalian. Mereka mengetahui banyak sepak terjang sahabat kalian ini --Muhammad- Oleh sebab itulah, aku harap kalian bersatu padu. Jangan berpecah belah.

Orang Quraisy berkata : "Wahai Abu Abdu Syams, utarakan pada kami apa pendapatmu; dan itu pasti menjadi pendapat yang kami ikuti!".

Al-Walid berkata : "Silakan kalian utarakan pendapat kalian dulu. Aku akan mendengarkan".

Orang Quraisy berkata : "Kita akan buat isu bahwa Muhammad adalah seorang dukun."

Al-Walid berkata : "Demi Allah itu isu konyol, sebab ucapannya bukan seperti ucapan seorang dukun, bukan pulan sajaknya".

Orang Quraisy berkata : "Bagaimana kalau seorang yang gila?".

Al-Walid berkata : "Tidak, itu lebih konyol lagi".

Orang Quraisy berkata : "Bagaimana kalau penyair?".

Al-Walid berkata : "Bukan, ia bukan penyair. Kita sudah tau apa yang ia ucapkan bukanlah syair".

Orang Quraisy berkata : "Bagaimana kalau penyihir?".

Al-Walid berkata : "Tidak, sebab Muhammad tak ada kaitannya dengan sihir".

Orang Quraisy berkata : "Lalu jika demikian, utarakanlah apa pendapatmu?!".

Al-Walid berkata : "Demi Allah, ucapan Muhammad itu demikian indah nan syahdu juga mengandung kekuatan. Tetapi dia bukanlah seorang penyair, apalagi dukun. Maka jika kalian sebarkan isu seperti diatas dapat disimpulkan bahwa ucapan kalian adalah dusta. Sesungguhnya dari perkataan kalian yang paling mengena adalah isu bahwa Muhammad adalah penyihir. Ia membawa sihir yang memisahkan seseorang dari keluarganya. Mereka bercerai-berai akibat kekuatan sihirnya".

Maka ketika bangsa Arab melaksanakan haji, orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan umum. Tidaklah salah seorang melintasi mereka melainkan mereka sebarkan bahwa Muhammad adalah penyihir.

Kemudian Allah menurunkan firman untuk Al-Walid,
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (QS. Al-Mudatsir : 11-16)
Wallahu a'lam 

24.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #11 : Tahapan Dakwah Islamiyah - Dakwah Secara Terang-Terangan (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #11 : Dakwah secara terang-terangan.

Dakwah secara terang-terangan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ini ditentang habis-habisan oleh bangsa Quraisy dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama nenek moyang mereka yang sudah mendarah daging dan menjadi tradisi diantara mereka. Pada saat itulah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengingatkan mereka untuk membebaskan pikiran dan akal mereka dari belenggu taqlid

Allah berfirman tentang mereka, 
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab, "(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya)." Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah 170)
Ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mencela tuhan-tuhan mereka, membodoh-bodoh mimpi mereka, dan mengancam mereka karena menyembahnya mereka kepada berhala; mereka semua memusuhi Muhammad --kecuali pamannya Abu Thalib- yang tetap melindungi beliau.

Beberapa pelajaran yang bisa diambil,

Pertama,  sesungguhnya Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ketika menyeru secara terang-terangan kepada bangsa Quraisy dan bangsa Arab pada umumnya, mengejutkan mereka; tak pernah sedikitpun dari mereka berpikir tentang apa yang dibawa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam itu. Hal ini nampak jelas dari reaksi Abu Lahab dan tokoh Quraisy untuk memusuhi dan menentangnya.

Kiranya hal ini cukup menjadi jawaban bagi mereka yang menganggap bahwa Islam hanyalah buah dari nasionalisme bangsa Arab; dan mencerminkan idealisme dan pemikiran Arab pada masa itu.

Kedua, Sebenarnya bisa saja Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk tidak menyeru kepada kerabat-kerabat terdekatnya secara khusus, karena sudah cukup dengan keumuman perintah-Nya yang lain yaitu, "Siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Hikmah yang terkandung dari pengkhususan ini adalah isyarat bagi para da'i khususnya dan para Muslim secara umum, bahwa dakwah terhadap keluarga adalah yang paling utama.

Wallahu a'lam

Kembali ke bagian 1
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #11 : Tahapan Dakwah Islamiyah - Dakwah Secara terang-terangan (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #11 : Dakwah secara terang-terangan.

Setelah dakwah secara rahasia yang Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam lakukan kurang lebih selama ~3 atau 4 tahun, kemudian secara berangsur-angsur manusia; wanita dan lelaki memeluk Islam, sehingga berita tentang Islam tersiar di Mekkah dan menjadi bahan perbincangan, Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikan risalah dan mengajak orang kepada Islam secara terang-terangan. Allah berfirman,
Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang Musyrik. (QS. Al-Hijr : 94)
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu. (QS. Asy-Syu'araa' : 214-215)
Dan katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang jelas" (QS. Al-Hijr : 89)
Tidak berpikir terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya --karena ini perintah dari Allah- beliau langsung melaksanakannya. Naiklah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ke atas bukit Shafa lalu berkata: "Wahai Bani Fihr, wahai Bani 'Adi," sehingga mereka berkumpul, lalu beliau melanjutkan seruannya, "Bagaimanakah jika aku katakan dibalik bukit ini ada sepasukan kuda musuh yang hendak menyerang kalian? Apakah kalian akan mempercayaiku?"

"Ya" jawab mereka, "Kami tak pernah melihat engkau berdusta, wahai Muhammad."

"Maka ketahuilah," Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam melanjutkan, "Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan kepada kalian dari siksa yang pedih"

Sontak seseorang dari mereka, Abu Lahab memotong, "Sungguh celaka kamu. Hanya untuk inikah kamu mengumpulkan kami?"

Allah membalas perkataanya dengan menurunkan firman-Nya,
Binasalah kedua belah tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia benar-benar binasa... (QS. Al-Lahab)"
Kemudian Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menyeru kepada kerabat terdekatnya. Beliau berkata : "Wahai Bani Ka'b bin Lu'ay, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Murrah bin Ka'ab, selematkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Abdi Syams, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Bani Abdul Muththalib, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Wahai Fatimah, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Sesungguhnya, aku tak akan dapat membela kalian di hapadan Allah, selain bahwa kalian mempunyai tali kekeluargaan yang akan aku sambung dengan hubungannya".

Bagian 2

22.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #10 : Tahapan Dakwah Islamiyah - Dakwah Secara Rahasia (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #10 : Dakwah secara rahasia.

Beberapa ibrah atau pelajaran yang dapat diambil dari tahapan dakwah ini dapat diperinci sebagai berikut:

1. Sebab sirriyah pada permulaan dakwah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam selama tahun-tahun pertama bukanlah karena beliau khawatir terhadap dirinya, sebab setelah beliau menerima amanah dakwah ini --dengan menerima wahyu pertama- beliau telah diingatkan oleh Allah, "Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berikanlah peringatan".

Saat itu Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam sadar, bahwa amanah ini Allah beri bukan tanpa penjagaan dan perlindungan. Beliau yakin bahwa Allah yang mengutus dan membebaninya dengan tugas ini mampu melindungi dan menjaganya dari gangguan manusia; pun ini berarti jika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam diperintahkan oleh-Nya untuk langsung berdakwah secara terang-terangan maka beliau takkan menunda barang sebentar, meski beliau harus menghadapi resiko kematian.

Tetapi Allah memberikan Ilham kepada beliau agar memulai dakwahnya secara rahasia dan tersembunyi; dan agar dakwah ini sampai pada mereka yang diyakini akan percaya dan menerima.  Ini dimaksudkan sebagai satu pelajaran dan bimbingan para da'i sesudahnya agar merumuskan strategi dan sarana-prasarana secara cermat untuk mencapai sasaran dan tujuan dakwah. Tetapi hal ini tentu tak boleh menguras rasa tawakkal kita kepada Allah, karena dialah Sang Pemberi Hidayah.

2. Orang-orang yang pertama masuk Islam dan hikmahnya. Sirah menyebutkan bahwa yang pertama kali masuk Islam kebanyakan adalah kaum fakir, lemah, dan budak. Lantas apa hikmah dari kenyataan ini? Apa rahasia tegaknya pilar-pilar Islam yang dibangun dari orang-orang seperti ini?

Kita juga sudah mengetahui bahwa ummat yang mengikuti Nabi Nuh 'alayhissalaam menaiki bahtera, hanya orang-orang 'kecil' diantara ummatnya.
..."Kami tak melihat engkau, melainkan sebagai manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikuti engkau, melainkan orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya... (QS. Hud : 27)
 Begitupun terjadi pada kaumnya Nabi Shaleh 'alayhissalaam; tsamud. Sesungguhnya hakikat dari ini adalah bahwa agama yang dibawa oleh semua Nabi dan Rasul Allah menolak kekuasaan manusia atas manusia yang lain dan kembali pada kekuasaan Allah semata. Sehingga otomatis reaksi penolakan terhadap ajakan-ajakan ini banyak meletus diantara kaum-kaum elite.

Tetapi perlu digarisbawahi bahwa mereka yang 'kecil', yang telah memeluk Islam, tidaklah beriman dengan suatu keterpaksaan. Mereka beriman dengan kesadaran penuh bahwa inilah sebuah kebenaran --selain juga ingin terbebas dari tiran-.

Wallahu a'lam

Kembali ke bagian 1
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #10 : Tahapan Dakwah Islamiyah - Dakwah Secara Rahasia (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #10 : Dakwah secara rahasia.

Tahapan dakwah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasalaam sedikitnya dibagi kedalam empat tahapan.

1. Dakwah secara rahasia.
2. Dakwah secara terang-terangan dengan lisan.
3. Dakwah secara terang-terangan dengan peperangan melawan mereka yang menyerang.
4. Dakwah secara terang-terangan dengan peperangan melawan mereka yang menghalangi penyebaran Islam atau menghalangi seseorang untuk masuk Islam.

Adapun disini akan dijelaskan tahapan dakwah yang pertama, yakni dakwah secara rahasia.

Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengajak ummat manusia untuk menyembah hanya kepada-Nya saja dan meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka yang berupa patung; berhala. Tetapi dakwah pertama yang dilakukan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam adalah secara rahasia. Ini terjadi karena beliau ingin menghindari tindakkan buruk orang-orang Quraisy yang fanatik dengan kemusyrikan dan paganismenya. Tiada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tampakkan dakwah melainkan hanya kepada saudara atau kerabat yang telah memiliki hubungan dekat dengannya.

Orang-orang yang pertama kali masuk Islam, mereka --sebagian diantara ini dan ini ataupun dalam sumber ini disebutkan Khadijah binti Khuwailid, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harits dan anak angkatnya, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash dan lainnya- bertemu dengan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam secara rahasia. Apabila salah seorang diantara mereka ingin melaksanakan ibadah, ia pergi ke lorong-lorong Mekkah; bersembunyi dari Quraisy.

Hingga saat pemeluk Islam telah lebih dari ~30 lelaki dan wanita, Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam memilih rumah salah satu diantara mereka untuk berdakwah; yaitu rumah Al-Arqam bin Abi Al-Arqam sebagai tempat pertemuan untuk mengadakan pembinaan dan pengajaran. Dakwah rahasia ini menghaslkan ~40 orang lelaki dan wanita memeluk Islam. Kebanyakan dari mereka adalah kaum fakir, budak, dan orang Quraisy yang tak ada kedudukan.

Bagian ke-2

20.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #9 : Pengikut Islam paling dulu (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #9 : Pengikut Islam paling dulu

Setelah Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu masuk Islam, beberapa orang Quraisy masuk islam berkat dakwah beliau. Diantaranya:

1. Ustman bin Affan
2. Az-Zubayr bin Awwam
3. Abdurrahman bin Auf
4. Saad bin Abi Waqqash
5. Thalhah bin Ubaydillah


Setelah mereka berlima merespon positif terhadap dakwah Abu Bakar, beliau membawa mereka kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, masuk Islam, dan mendirikan shalat berjamaah.

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda,
"Setiap aku mengajak seseorang kepada Islam biasanya ia tidak langsung memberikan jawaban, kecuali Abu Bakar. Ia tidak lambat merespon dan tidak ragu-ragu ketika aku mengajaknya kepada Islam."
6. Abu Ubaidah
7. Abu Salamah
8. Al-Arqam bin Abu Al-Arqam
9. Utsman bin Madz'un --beserta dua saudara lelakinya- yaitu,
10. Qudamah, dan
11. Abdullah
12. Ubaidah bin Al-Harits
13. Sa'id bin Zaid --beserta istrinya yg merupakan adik Umar bin Khaththab- yaitu,
14. Fathimah binti Khaththab
15. Asma' binti Abu Bakar, dan
16. 'Aisyah binti Abu Bakar --ketika itu masih anak-anak-
17. Khabbab bin Al-Arat --sekutu Bani Zuhrah-
18. Umair bin Abu Waqqash --saudara Saad bin Abu Waqqash-
19. Abdullah bin Mas'ud
20. Mas'ud Al-Qari
21. Salith bin Amr --beserta saudaranya- yaitu,
22. Hathib bin Amr
23. Ayyash bin Abu Rabi'ah --beserta istrinya- yaitu,
24. Asma' binti Salamah
25. Khunais bin Hudzhafah
26. Amir bin Rabi'ah
27. Abdullah bin Jahsy --beserta saudaranya- yaitu,
28. Abu Ahmad bin Jahsy
29. Ja'far bin Abdul Muthalib --beserta istrinya- yaitu,
30. Asma binti Umais
31. Hathib bin Al-Harits --beserta istrinya- yaitu,
32. Fathimah binti Al-Mujallal --dan saudaranya-
33. Haththab bin Al-Harits --disertai istrinya- yaitu,
34. Fukaihah binti Yasar
35. Ma'mar bin Al-Harits
36. As-Saib bin Utsman
37. Al-Muthalib bin Azhar --beserta istrinya- yaitu,
38. Ramlah binti Abu Auf
39. An-Nahham
40. Amir bin Fuhairah
41. Khalid bin Sa'id
42. Umainah binti Khalaf
43. Abu Hudzaifah bin Rabi'ah
44. Waqid bin Abdullah
45. Khalid
46. Amir
47. Iyas
48. Ammar
49. Shuhaib bin Sinan

Adapun riwayat lain mengatakan bahwa yang termasuk kepada As-sabiqun Al-Awwalun adalah sebagai berikut




Wallahu a'lam