![]() |
| jejakperadaban.com | Sirah Nabawi |
Ibnu Ishaq berkata : Manakala orang-orang Quraisy menyadari bahwa sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam hidup damai dan tentram di bumi Habasyah, serta mendapatkan tempat tinggal dan ketenangan, mereka sepakat mengirim dua intel Quraisy yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi dan memintanya menyerahkan sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam kepada mereka. Mereka melakukan ini karena bermaksud menyiksa para sahabat agar murtad dari agamanya, dan mengeluarkan mereka dari negeri Habasyah. Orang yang diutus Quraisy adalah Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin al-Ash bin Wail, dan membekali keduanya dengan hadiah-hadiah mewah untuk diserahkan kepada Najasyi dan para pendetanya. Maka diutuslah keduanya.
Ketika Abu Thalib mengendus rencana orang-orang Quraisy, dan hadiah-hadiah mewah yang dibawa oleh kedua utusan tersebut, ia mengucapkan syair-syair untuk Najasy. Meminta Najasyi agar tetap memberikan perlindungan yang baik kepada kaum Muhajirin dan membela mereka:
Duhai, bagaimana keadaan Ja'far di tempat nun jauh di sana
Amr, dan para musuh itu adalah kerabat sendiri
Apakah keramahan Najasyi menyentuh Ja'far dan sahabat-sahabatnya
Ataukah ada pihak yang berusaha merusak suasananya
Engkau orang mulia dan luhur
Hingga orang yang tinggal di sisimu tak merasa menderita
Allah membekalimu dengan kelapangan
Dan pintu-pintu kebaikan semuanya melekat pada dirimu
Engkau orang pemurah yang berakhlak mulia
Orang yang jauh dan dekat merasakan kebaikanya
Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah, istri Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkata, "Setiba kami di Habasyah, Najasyi menyambut kami dengan sangat ramah. Kami merasa aman dengan agama kami, dan bisa berbadah kepada Allah tanpa siksaan dan tidak mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini lalu didengar orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi guna membicarakan tujuan mereka, dan merayunya dengan hadiah-hadiah untuk Najasyi yang berasal dari kekayaan penduduk Makkah. Anehnya bahwa di antara hadiah tersebut terdapat kulit. Orang-orang Quraisy mengumpulkan kulit banyak sekali, dan tidak ada satu pendeta pun yang tidak mereka siapkan hadiah. Barang-barang tersebut Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin al-Ash, dan mereka berdua diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka. Orang Quraisy berkata kepada mereka berdua, 'Berikan hadiah ini kepada semua pendeta sebelum kalian berdua mengutarakan maksud kalian kepada Najasyi mengenai orang-orang yang Hijrah agar ia menyerahkan orang-orang yang hijrah itu kepada kalian berdua." --atau sebagaimana yang dikatakan.
Ummu Salamah bercerita : Bangkitlah kedua utusan itu ke Habasyah. Pada saat itu kami sedang berada di sebuah rumah yang nyaman dan tetangga yang baik. Mereka berdua kemudian memberikan hadiah-hadiah itu kepada para pendeta sebelum berbicara kepada Najasyi. Keduanya berkata kepada setiap pendeta yang mereka beri hadiah, "Sesungguhnya telah masuk ke negeri Tuan raja, anak-anak mula yang linglung. Mereka meninggalkan agama kaumnya, dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Tokoh-tokoh Quraisy mengutus kami kesini untuk membawa mereka pulang. Jika kami berbicara kepara raja kalian tentang orang-orang tersebut, hendaklah kalian memberikan isyarat agar dia menyerahkan mereka kepada kami dan agar ia tidak berbicara dengan mereka, karena kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti apa yang mereka cela."
Para pendeta berbicara kepada mereka berdua, "Baiklah."
Bagian ke-2

0 comments:
Post a Comment