![]() |
| jejakperadaban.com | Sirah Nabawi |
Setelah kedua utusan itu memberikan hadiah-hadiah kepada para pendeta, lantas mereka kemudian memberikan hadiah kepada Najasy. Najasy menerimanya. Mereka berkata, "Wahai tuan raja, sesungguhnya telah menyelinap masuk anak-anak muda kami yang linglung. Mereka murtad dari agama kaumnya dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka menganut agama baru yang kita sama-sama tak mengenalnya. Kami diutus ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka kembali kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan."
Ummu Salamah melanjutkan : Tidak ada sesuatu pun yang paling dibenci Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr ibn al-Ash lebih daripada Najasy mendengarkan perkataan kaum muslimin. Para pendeta --yang telah diberi hadiah- di sekeliling Najasy berkata, "Mereka berdua telah berkata benar, wahai tuan raja. Kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang anak-anak itu katakan, dan lebih mengerti terhatap apa yang mereka cela. Oleh karena itu, kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini, agar keduanya membawa mereka kembali ke negeri dan kaum mereka."
Mendengar itu Najasy marah besar. Ia berkata, "Tidak! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku dan memilihku daripada orang selain aku, maka sudah kewajibanku bertanya kepada mereka perihal apa yang dikatakan kedua orang ini terhadap mereka. Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku serahkan mereka kepada kalian berdua dan aku pulangkan mereka kepada kaum dan negerinya. Namun jika perkataan kalian berdua tidak sesuai tentang mereka, maka aku akan melindungi mereka dari kalian berdua; melindungi mereka selama mereka berada di negeriku."
Ummu Salamah berkata : Kemudian Najasy mengundang sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melalui utusannya. Ketika utusan Najasy tiba di tempat, segera mereka mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut sebagian Muhajirin berbisik kepada sebagian lain, "Apa yang hendak kita katakan pada saat pertemuan nanti?" Seseorang menjawab, "Demi Allah, kita akan mengetakan apa yang selama ini kita ketahui. Apa yang disampaikan Nabi itulah yang akan kita katakan."
Ketika mereka tiba di tempat Najasy --ketika itu Najasy mengumpulkan para uskup dan membuka kitab mereka- Najasy kemudian bertanya kepada para Muhajirin, "Mengapa agama ini membuat kalian memisahkan diri dari kaum kalian, dan mengapa kalian tidak masuk ke dalam agamaku, serta tidak masuk ke dalam agama-agama yang telah ada?"
Orang yang menjawab pertanyaan Najasy ialah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berkata, "Wahai tuan raja, mulanya kami adalah ahli jahiliyyah. Kami menyembah patung-patung, memakan bangkai, menyakiti tetangga, dan orang kuat diantara kami selalu menindas orang lemah. Begitulah kondisi kami hingga Allah mengutus seseorang dari kami menjadi Rasul. Kami mengenal keturunannya, kebenarannya, dan kejujurannya. Ia mengajak kami kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, beridabah kepada-Nya, dan meninggalkan batu serta patung-patung yang sebelumnya kami sembah. Rasul itu memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, menahan diri dari hal-hal yang haram, dan tidak membunuh. Ia melarang kami dari perbuatan zina, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita yang menjaga kehormatannya. Ia memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ia juga memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa."
Ummu Salamah berkata : Ja'far bin Abu Thalib memaparkan asas-asas utama agama Islam, lalu ia berkata, "Kami membenarkan Rasul tersebut, beriman kepadanya, dan mengikut apa yang dia bawa dari sisi Allah. Hanya kepada Allah kami beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa yang Ia haramkan, dan menghalalkan apa yang Ia halalkan. Setelah itu muncul ketidaksukaan kaum kami terhadap kami dan agama ini. Mereka meneror dan menyakiti kami karena agama ini. Mereka memaksa kami kembali menyembah patung-patung dan menghalalkan apa yang sekarang kami haramkan. Karena mereka selalu meneror kami, mempersempit ruang gerak kami, dan selalu berusaha memisahkan kami dari agama kami, maka kami pergi ke negeri tuan dan memilih tuan daripada orang lain. Kami lebih suka hidup berdampingan dengan tuan, dan kami berharap tidak disiksa lagi di sisimu, wahai tuan raja."
<< Bagian ke-1 | Bagian ke-3 >>

0 comments:
Post a Comment