![]() |
| jejakperadaban.com | Sirah Nabawi |
Dakwah secara terang-terangan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ini ditentang habis-habisan oleh bangsa Quraisy dengan alasan bahwa mereka tidak dapat meninggalkan agama nenek moyang mereka yang sudah mendarah daging dan menjadi tradisi diantara mereka. Pada saat itulah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengingatkan mereka untuk membebaskan pikiran dan akal mereka dari belenggu taqlid.
Allah berfirman tentang mereka,
Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab, "(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya)." Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah 170)Ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mencela tuhan-tuhan mereka, membodoh-bodoh mimpi mereka, dan mengancam mereka karena menyembahnya mereka kepada berhala; mereka semua memusuhi Muhammad --kecuali pamannya Abu Thalib- yang tetap melindungi beliau.
Beberapa pelajaran yang bisa diambil,
Pertama, sesungguhnya Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ketika menyeru secara terang-terangan kepada bangsa Quraisy dan bangsa Arab pada umumnya, mengejutkan mereka; tak pernah sedikitpun dari mereka berpikir tentang apa yang dibawa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam itu. Hal ini nampak jelas dari reaksi Abu Lahab dan tokoh Quraisy untuk memusuhi dan menentangnya.
Kiranya hal ini cukup menjadi jawaban bagi mereka yang menganggap bahwa Islam hanyalah buah dari nasionalisme bangsa Arab; dan mencerminkan idealisme dan pemikiran Arab pada masa itu.
Kedua, Sebenarnya bisa saja Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk tidak menyeru kepada kerabat-kerabat terdekatnya secara khusus, karena sudah cukup dengan keumuman perintah-Nya yang lain yaitu, "Siarkanlah apa yang diperintahkan kepadamu". Hikmah yang terkandung dari pengkhususan ini adalah isyarat bagi para da'i khususnya dan para Muslim secara umum, bahwa dakwah terhadap keluarga adalah yang paling utama.
Wallahu a'lam
Kembali ke bagian 1

0 comments:
Post a Comment