300x250 AD TOP

2.2.15

Tagged under: ,

Dihyah al-Kalabi : Jibril turun menyerupai dirinya

jejakperadaban.com | Sejarah sahabat Nabi
Dihyah al-Kalabi : Jibril turun menyerupai dirinya

Dihyah al-Kalabi adalah sahabat Nabi dari suku al-Kalabi. Ayahnya bernama Khulaifah ibn Farwah ibn Fadhalah. Ia memiliki wajah yang menawan dan Jibril a.s. pernah turun mendatangi Rasulullah saw. dalam rupa Dihyah al-Kalabi. Diceritakan bahwa Rasulullah saw. hanya pernah melihat rupa asli Malaikat Jibril a.s. hanya dua kali saja.

Ibn al-Atsir mengatakan dalam kitabnya, "Ia (Dihyah) adalah sahabat Rasulullah yang ikut dalam perang Uhud dan peperangan lain. Malaikat Jibril sering datang kepada Rasulullah dalam rupa dirinya. Rasulullah pernah mengutusnya kepada raja Mesir pada tahun keenam Hijriah. Ketika sang raja hendak menyatakan keimanannya, para pendeta Kristen koptik mencegahnya. Dihyah pulang dan menyampaikan kabar itu kepada Rasulullah saw. dan beliau bersabda, 'Allah akan mengokohkan kekuasaannya.'"

Ibn al-atsir menuturkan dari al-Sya'bi bahwa al-Mughirah berkata, "Dihyah al-Kalabi menghadiahkan dua kasut terbuat dari kulit kepada Rasulullah, yang kemudian beliau kenakan."

Abu Ja'far al-Tharabi meriwayatkan dari Ibn Humaid dari Salamah dari Muhammad ibn Ishaq bahwa ketika masuk waktu Subuh, Rasulullah pergi meninggalkan Khandaq, lalu kembali ke kota Madinah, dan kaum Muslimin pun meletakkan senjata mereka. Saat datang waktu Zuhur, malaikat Jibril a.s. mendatangi beliau (sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Syihab al-Zuhri) dengan mengenakan surban dan menaiki keledai. Kemudian ia (Jibril) berkata, "Apakah engkau telah meletakkan senjata, wahai Rasulullah?"

Beliau menjawab, "Benar."

Jibril berkata, "Para Malaikat tidak pernah meletakkan senjata mereka, dan aku tidak kembali kecuali untuk urusan suatu kaum. Allah memerintahkanmu, Muhammad, untuk pergi menuju Bani Quraizhah dan aku pun akan pergi ke sana."

Maka Rasulullah saw. memerintahkan penyerunya untuk menyampaikan pengumuman kepada semua orang: "Wahai kaum, siapa saja di antara kalian yang mendengar dan taat, jangan kalian mendirikan shalat Ashar kecuali di kampung Quraizah."

Rasulullah memerintahkan Ali ibn Abi Thablib untuk membawa panji kaum Muslimin menuju Bani Quraizah diikuti semua pasukan. Maka, Ali ibn Abi Thalib pun berjalan hingga tiba dekat benteng mereka. Ketika itulah terdengar teriakan Bani Quraizah yang melecehkan Rasulullah saw. sehingga membuat ia kembali ke perkemahan pasukan dan bertemu Rasulullah di perjalanan.

Ali berkata, "Wahai Rasulullah, sebaiknya engkau tidak mendekat ke tempat orang-orang yang terkutuk itu."

Rasulullah bertanya, "Mengapa? Bukankah kau mendengar mereka berkata buruk tentang diriku?"

Ali berkata, "Benar, wahai Rasulullah. Seandainya mereka melihatku, pasti mereka tidak akan berani mengatakan keburukan sedikit pun."

Ketika mendekati benteng mereka, Rasulullah bersabda, "Hai keturunan monyet, apakah (kalian ingin) Allah menghinakan kalian dan menurunkan siksa-Nya atas kalian?" (Disebut demikian karena kaum Yahudi membangkang dan sesat dianggap sebagai keturunan kaum Yahudi yang dulu membangkang pada Nabi Musa a.s. sehingga mereka dikutuk menjadi monyet)

Mereka menjawab, "Wahai Abul Qasim, kami tidak sebodoh (yang kau kira)." Maka Rasulullah saw. berjalan melewati sahabat sambil membawa dua terompet dari tanduk. Sebelum tiba di perkampungan Bani Quraizah beliau bertanya kepada para sahabat, "Apakah kalian melihat seseorang melewati kalian?"

Mereka menjawab, "Benar Rasulullah, Dihyah ibn Khulaifah al-Kalabi melewati kami menunggangi keledai putih berpelana sutra."

Rasulullah berkata, "Itu adalah Jibril, yang diutus kepada Bani Quraizah untuk mengguncangkan benteng mereka dan menyebarkan rasa takut dalam dada mereka."

Begitulah pertolongan dari langit turun meliputi kaum Muslimin tanpa seorang pun bisa mencegahnya. Sungguh Allah Maha Mengetahui keadaan Hamba-Nya. Mata-Nya selalu terjaga mengawasi dan menjaga setiap gerak langkah Rasulullah.

Dalam sebuah peperangan, Dihyah mendapatkan bagian rampasan berupa seorang perempuan Khaibar bernama Shafiyah binti Huyay. Kerena Allah hendak memuliakan perempuan itu, Rasulullah saw. membelinya dari Dihyah kemudian menikahinya. Sebagai masharnya adalah kemerdekaan Shafiyyah.

Setelah perang Yarmuk, Dihyah pergi ke Muzzah di dekat Damaskus. Ia menetap di sana sampai ajal menjemputnya pada masa Khalifah Muawiyah ibn Abu Sufyan. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam []

29.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah (3/3)

jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah

Setelah Ja'far menjelaskan sedetailnya apa yang terjadi di antara mereka dan kaumnya, Najasy berkata kepada Ja'far, "Apakah engkau membawa bukti yang datang dari sisi Allah?"

Ja'far berkata, "Ada."

Najasy berkata, "Bacakanlah ia untukku!"

Kemudian Ja'far membacakan permulaan surat Maryam. Demi Allah, Najasy menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah oleh air mata. Para uskup juga menangis hingga air mata mereka membasahi mushaf yang mereka bawa. Ketika Najasy mendengar apa yang Ja'far bacakan, ia berkata, "Sesungguhnya ayat tadi dan apa yang dibawa Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Enyahlah kalian berdua, hai utusan Quraisy! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka dan aku akan melindungi mereka hingga mereka tidak bisa diusik."

Tatkala kedua utusan Quraisy keluar dari hadapan Najasy, Amr bin al-Ash berkata, "Demi Allah, besok pagi aku akan menghadap Najasy dan mencabut akar asal usul mereka." Abdullah bin Abu Rabi'ah, orang terkuat di antara kami berkata, "Jangan kau lakukan itu, karena mereka mempunyai kaum kerabat walaupun mereka berseberangan dengan kita." Amr bin al-Ash berkata, "Demi Allah, aku akan jelaskan kepada Najasy, bahwa Muhammad dan pengikutnya meyaini bahwa Isa adalah seorang manusia biasa."

Esok harinya, Amr bin al-Ash menghadap Najasy untuk kedua kalinya dan berkata, "Wahai tuan raja, mereka meyakini sesuatu tentang Isa bin Maryam. Oleh karena itu, kumpulkanlah mereka kembali ke sini agar engkau bisa menanyakan kepada mereka perihal tersebut."

Najasy mengirim utusan untuk menanyakan perihal Isa bin Maryam kepada kaum Muslimin.

Ummu Salaham berkata : Kami tidak pernah menghadapi sebuah masalah serumit ini sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, kaum Muslimin mengadakan diskusi. Sebagian diantara mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Apa yang akan kalian katakan tentang Isa bin Maryam, jika raja Najasy menanyakan hal itu kepada kalian?" Sebagian lain menjawab, "Demi Allah, kita akan katakan sebagaimana Allah firmankan dan apa yang Nabi kita katakan."

Ketika kaum Muslimin memasuki tempat Najasy; Najasy bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian yakini tentang Isa bin Maryam?"

Ja'far menjawab, "Dalam pandangan kami, Isa bin Maryam adalah seperti apa yang dikatakan Nabi kami, bahwa Isa adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan kalimat-Nya yang ditiupkan ke dalam rahim Maryam sang perawan."

Najasy memukul tanah dengan tangannya, lalu dia mengambil tongkat, kemudian berkata, "Demi Allah, apa yang dikatakan Isa bin Maryam mengetani tongkat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang engkau yakini."

Para uskup yang berada di sekeliling Najasy mendengus geram ketika mendengar apa yang dikatakan Najasy; Najasy kemudian berkata, "Ada apa dengan kalian!" Kepada kaum Muslimin Najasy berkata, "Kalian tetap aman di negeriku. Barangsiapa yang melecehkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa merendahkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa menghina kalian, ia merugi. Memiliki gunung dari emas, jika aku harus menyakiti salah seorang dari kalian maka hal itu sangan kubenci. Kembalikan hadiah-hadiah ini kepada kedua utusan orang Quraisy. Demi Allah, Dia tidak pernah menyuapku untuk mendapatkan kekuasaan dariku, apakah pantas jika kemudian aku mengambil suap di dalamnya. Allah jadikan manusia tidak taat padaku lalu haruskah aku jadikan taat mereka padaku."

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah (2/3)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah

Setelah kedua utusan itu memberikan hadiah-hadiah kepada para pendeta, lantas mereka kemudian memberikan hadiah kepada Najasy. Najasy menerimanya. Mereka berkata, "Wahai tuan raja, sesungguhnya telah menyelinap masuk anak-anak muda kami yang linglung. Mereka murtad dari agama kaumnya dan tidak masuk dalam agamamu. Mereka menganut agama baru yang kita sama-sama tak mengenalnya. Kami diutus ayah-ayah mereka, paman-paman mereka, dan keluarga besar mereka untuk membawa mereka kembali kepada kaumnya, karena kaumnya jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan."

Ummu Salamah melanjutkan : Tidak ada sesuatu pun yang paling dibenci Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr ibn al-Ash lebih daripada Najasy mendengarkan perkataan kaum muslimin. Para pendeta --yang telah diberi hadiah- di sekeliling Najasy berkata, "Mereka berdua telah berkata benar, wahai tuan raja. Kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang anak-anak itu katakan, dan lebih mengerti terhatap apa yang mereka cela. Oleh karena itu, kembalikan saja mereka kepada kedua orang ini, agar keduanya membawa mereka kembali ke negeri dan kaum mereka."

Mendengar itu Najasy marah besar. Ia berkata, "Tidak! Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian berdua. Jika ada sebuah kaum hidup berdampingan denganku dan memilihku daripada orang selain aku, maka sudah kewajibanku bertanya kepada mereka perihal apa yang dikatakan kedua orang ini terhadap mereka. Jika memang benar ucapan kedua orang ini, baru aku serahkan mereka kepada kalian berdua dan aku pulangkan mereka kepada kaum dan negerinya. Namun jika perkataan kalian berdua tidak sesuai tentang mereka, maka aku akan melindungi mereka dari kalian berdua; melindungi mereka selama mereka berada di negeriku."

Ummu Salamah berkata : Kemudian Najasy mengundang sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melalui utusannya. Ketika utusan Najasy tiba di tempat, segera mereka mengadakan pertemuan. Dalam pertemuan tersebut sebagian Muhajirin berbisik kepada sebagian lain, "Apa yang hendak kita katakan pada saat pertemuan nanti?" Seseorang menjawab, "Demi Allah, kita akan mengetakan apa yang selama ini kita ketahui. Apa yang disampaikan Nabi itulah yang akan kita katakan."

Ketika mereka tiba di tempat Najasy --ketika itu Najasy mengumpulkan para uskup dan membuka kitab mereka- Najasy kemudian bertanya kepada para Muhajirin, "Mengapa agama ini membuat kalian memisahkan diri dari kaum kalian, dan mengapa kalian tidak masuk ke dalam agamaku, serta tidak masuk ke dalam agama-agama yang telah ada?"

Orang yang menjawab pertanyaan Najasy ialah Ja'far bin Abu Thalib. Ia berkata, "Wahai tuan raja, mulanya kami adalah ahli jahiliyyah. Kami menyembah patung-patung, memakan bangkai, menyakiti tetangga, dan orang kuat diantara kami selalu menindas orang lemah. Begitulah kondisi kami hingga Allah mengutus seseorang dari kami menjadi Rasul. Kami mengenal keturunannya, kebenarannya, dan kejujurannya. Ia mengajak kami kepada Allah dengan cara mentauhidkan-Nya, beridabah kepada-Nya, dan meninggalkan batu serta patung-patung yang sebelumnya kami sembah. Rasul itu memerintahkan kami untuk berkata jujur, menunaikan amanah, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, menahan diri dari hal-hal yang haram, dan tidak membunuh. Ia melarang kami dari perbuatan zina, berkata bohong, memakan harta anak yatim, dan menuduh berzina wanita yang menjaga kehormatannya. Ia memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. ia juga memerintahkan kami shalat, zakat, dan puasa."

Ummu Salamah berkata : Ja'far bin Abu Thalib memaparkan asas-asas utama agama Islam, lalu ia berkata, "Kami membenarkan Rasul tersebut, beriman kepadanya, dan mengikut apa yang dia bawa dari sisi Allah. Hanya kepada Allah kami beribadah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Kami mengharamkan apa yang Ia haramkan, dan menghalalkan apa yang Ia halalkan. Setelah itu muncul ketidaksukaan kaum kami terhadap kami dan agama ini. Mereka meneror dan menyakiti kami karena agama ini. Mereka memaksa kami kembali menyembah patung-patung dan menghalalkan apa yang sekarang kami haramkan. Karena mereka selalu meneror kami, mempersempit ruang gerak kami, dan selalu berusaha memisahkan kami dari agama kami, maka kami pergi ke negeri tuan dan memilih tuan daripada orang lain. Kami lebih suka hidup berdampingan dengan tuan, dan kami berharap tidak disiksa lagi di sisimu, wahai tuan raja."

<< Bagian ke-1 | Bagian ke-3 >>

28.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah (1/3)

jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #22 : Intel yang dikirim Quraisy ke Negeri Habasyah

Ibnu Ishaq berkata : Manakala orang-orang Quraisy menyadari bahwa sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam hidup damai dan tentram di bumi Habasyah, serta mendapatkan tempat tinggal dan ketenangan, mereka sepakat mengirim dua intel Quraisy yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi dan memintanya menyerahkan sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam kepada mereka. Mereka melakukan ini karena bermaksud menyiksa para sahabat agar murtad dari agamanya, dan mengeluarkan mereka dari negeri Habasyah. Orang yang diutus Quraisy adalah Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin al-Ash bin Wail, dan membekali keduanya dengan hadiah-hadiah mewah untuk diserahkan kepada Najasyi dan para pendetanya. Maka diutuslah keduanya.

Ketika Abu Thalib mengendus rencana orang-orang Quraisy, dan hadiah-hadiah mewah yang dibawa oleh kedua utusan tersebut, ia mengucapkan syair-syair untuk Najasy. Meminta Najasyi agar tetap memberikan perlindungan yang baik kepada kaum Muhajirin dan membela mereka:

Duhai, bagaimana keadaan Ja'far di tempat nun jauh di sana
Amr, dan para musuh itu adalah kerabat sendiri
Apakah keramahan Najasyi menyentuh Ja'far dan sahabat-sahabatnya
Ataukah ada pihak yang berusaha merusak suasananya
Engkau orang mulia dan luhur
Hingga orang yang tinggal di sisimu tak merasa menderita
Allah membekalimu dengan kelapangan
Dan pintu-pintu kebaikan semuanya melekat pada dirimu
Engkau orang pemurah yang berakhlak mulia
Orang yang jauh dan dekat merasakan kebaikanya

Ummu Salamah binti Abu Umayyah bin Al-Mughirah, istri Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkata, "Setiba kami di Habasyah, Najasyi menyambut kami dengan sangat ramah. Kami merasa aman dengan agama kami, dan bisa berbadah kepada Allah tanpa siksaan dan tidak mendengar kata-kata yang menghina kami. Hal ini lalu didengar orang-orang Quraisy, kemudian mereka mengirim dua orang yang kokoh agamanya untuk menemui Najasyi guna membicarakan tujuan mereka, dan merayunya dengan hadiah-hadiah untuk Najasyi yang berasal dari kekayaan penduduk Makkah. Anehnya bahwa di antara hadiah tersebut terdapat kulit. Orang-orang Quraisy mengumpulkan kulit banyak sekali, dan tidak ada satu pendeta pun yang tidak mereka siapkan hadiah. Barang-barang tersebut Abdullah bin Abu Rabi'ah dan Amr bin al-Ash, dan mereka berdua diperintahkan untuk tidak gagal dengan misi mereka. Orang Quraisy berkata kepada mereka berdua, 'Berikan hadiah ini kepada semua pendeta sebelum kalian berdua mengutarakan maksud kalian kepada Najasyi mengenai orang-orang yang Hijrah agar ia menyerahkan orang-orang yang hijrah itu kepada kalian berdua." --atau sebagaimana yang dikatakan.

Ummu Salamah bercerita : Bangkitlah kedua utusan itu ke Habasyah. Pada saat itu kami sedang berada di sebuah rumah yang nyaman dan tetangga yang baik. Mereka berdua kemudian memberikan hadiah-hadiah itu kepada para pendeta sebelum berbicara kepada Najasyi. Keduanya berkata kepada setiap pendeta yang mereka beri hadiah, "Sesungguhnya telah masuk ke negeri Tuan raja, anak-anak mula yang linglung. Mereka meninggalkan agama kaumnya, dan tidak masuk ke dalam agama kalian. Mereka menganut agama baru yang sama-sama tidak kita kenal. Tokoh-tokoh Quraisy mengutus kami kesini untuk membawa mereka pulang. Jika kami berbicara kepara raja kalian tentang orang-orang tersebut, hendaklah kalian memberikan isyarat agar dia menyerahkan mereka kepada kami dan agar ia tidak berbicara dengan mereka, karena kaum mereka jauh lebih mengerti apa yang mereka katakan, dan lebih mengerti apa yang mereka cela."

Para pendeta berbicara kepada mereka berdua, "Baiklah."

Bagian ke-2

27.1.15

Tagged under: ,

Amir ibn Fuhairah : Syahid yang diangkat ke Langit

jejakperadaban.com | Sejarah Sabahat Nabi
Amir ibn Fuhairah : Syahid yang diangkat ke Langit

Amir ibn Fuhairah adalah sahabat keturunan seorang budak. Ia sendiri menjadi budak Thufail ibn Abdullah ibn Sukhrabah --saudara siti 'Aisyah Ummul Mukminin. Amir masuk Islam ketika masih menjadi budak, ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam belum menjadikan Al-Arqam sebagai majelis ilmu dan pusat pergerakan dakwah. Setelah memeluk Islam, Abu Bakr membelinya dan memerdekakannya.

Dikisahkan bahwa Abu Bakr memiliki domba yang susunya diperas tiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mendapat izin dari Allah untuk berangkat hijrah, beliau berangkat menuju Madinah dikawani oleh Abu Bakr, di pinggiran Makkah. Singkat cerita mereka tengah bersembunyi di suatu gua. Selama bersembunyi di gua itu, pembantu Abu Bakr, yakni Amir ibn Fuhairah menggiring domba-domba ke arah gua, agar Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan Abu Bakr bisa mendapatkan susu domba.

Abdullah ibn Abu Bakr juga sering mengunjungi mereka di gua untuk menyampaikan kabar perihal suku Quraisy. Jika datang waktu subuh, Abdullah kembali ke Makkah. Amir menggiring domba-domba setiap malam tanpa diketahui siapa pun. Sementara 'Asma binti Abu Bakr bertugas membawakan makanan untuk mereka.

Setelah tiga malam bersembunyi di gua, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan Abu Bakr keluar didampingi Amir ibn Fuhairah yang selalu membantu melayani kebutuhan mereka.

Abdullah ibn Uraiqith, seorang musyrik, disewa untuk menjadi petunjuk jalan menuju Yastrib --Madinah kini. Tiba di Yastrib, Abu Bakr, Bilal, dan Amir menderita sakit. Namun, berkat izin Allah, mereka pulih dengan cepat.

Ketika 'Aisyah menanyakan sakitnya, Amir menjawab dengan lantunan syair sementara tubuhnya menggigil karena demam :
Telah kutemui kematian sebelum merasakannya. Sungguh rasa takut telah membunuhnya dari atas. Setiap orang adalah pejuang dengan segala potensinya, bagaikan gua Tsur yang melindungi dengan dindingnya.
'Aisyah menceritakan keadaan Amir kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, dan beliau berdoa, "Ya Allah, tumbuhkan cinta penduduk Madinah kepada kami sebagaimana Engkau tumbuhkan cinta Makkah kepada kami, bahkan lebihkanlah!"

Ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mempersaudarakan kaum Anshar dengan Muhajirin, beliau mempersaudarakan al-Harits ibn al-Shamt dengan Amir ibn Fuhairah. Setelah menetap di Madinah, Amir berusaha agar senantiasa berada di dekat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, Ia tak pernah absen mengikuti berbagai peperangan bersamai kaum muslim, termasuk perang Badar dan Uhud.

Imam Abu Ja'far al-Thabari menuturkan sebuah kisah tentang bi'r ma'uunah, bahwa Abu Barra Amir ibn Malik ibn Ja'far (pemimpin Bani Amir ibn Sha'sha'ah datang menghadap Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam membawa beberapa hadiah. Namun, beliau, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam enggan menerima hadiah yang dibawanya dan bersabda, "Hai, Abu Barra, aku tidak menerima hadiah dari seorang musyrik. Jika kau mau aku menerima hadiahmu, masuklah ke dalam Islam." Kemudian Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjelaskan beberapa aspek dari ajaran Islam. Abu Barra tidak menerimanya, namun tidak juga menolaknya. Ia berkata, "Muhammad, apa yang engkau dakwahkan ini memang sangat indah. Andai engkau mau mengutus beberapa orang kepada penduduk Nejed, mungkin mereka bersedia menerima ajakanmu."

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjawab, "Aku khawatir utusanku di zalimi penduduk Nejed."

Abu Barra meyakinkan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, "Aku akan mendampingi mereka. Utuslah mereka untuk mengajak manusia kepada ajaranmu." Maka setelah itu diutuslah al-Mundzir ibn Amr dari Bani Saidah bersama beberapa sahabat pilihan lain, termasuk al-Harits ibn al-Shamt, dan Amir ibn Fuhairah.

Dikabarkan, ketika mereka tiba di sumur bi'r ma'uunah mereka disergap oleh beberapa orang. Mereka yakin bahwa kematian sudah di depan mata, sehingga mereka memanjatkan do'a, "Ya Allah, saat ini kami tak menemukan siapapun yang dapat menghubungkan kami dengan Rasulullah selain Engkau. Maka, sampaikanlah salam kami! Ya Allah, sampaikanlah kepada Nabi-Mu bahwa kami telah berjumpa dengan-Mu, kami telah ridha kepada-Mu dan Engkau ridha kepada kami." Doa itu di-aamiin-ni langit dan disampaikan kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam.

Amir ibn Fuhairah terbunuh dalam peristiwa tersebut. Ia terbunuh oleh Jabbar ibn Sulma al-Thallabi. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Amir berkata, "Allah Mahabesar! Aku telah menang, Demi Tuhan penguasa Ka'bah." Jabbar sama sekali tak memahami perkataan tersebut sampai di hari kemudian Jabbar masuk Islam. Jabbar baru menyadari bahwa yang dimaksud kemenangan oleh Amir, seseorang yang dibunuhnya adalah kesyahidan.

Jabbar ibn Sulma menuturkan, "Salah satu jalan yang mengantarkanku kepada Islam adalah peristiwa bi'r ma'uunah, ketika aku membunuh salah seorang sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam yang diutus menuju Nejed. Sebelum ia hembuskan nafas terakhirnya sahabat itu berkata, 'Aku telah menang, demi Allah!' Aku bertanya-tanya dalam hati, 'Kemenangan seperti apakah yang didapatkannya? Bukankah aku telah membunuhnya?' Hingga peristiwa itu lama berlalu, dan aku masih bertanya-tanya tentang apa yang ia maksud dengan kemenangan, seseorang memerikan jawaban bahwa itulah kesyahidan.'"

Ibn al-Atsir menuturkan, Amir ibn al-Thufail bertanya kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, "Siapakah orang yang ketika terbunuh engkau melihatnya diangkat antara langit dan bumi sehingga langit berada di bawahnya?"

Beliau bersabda, "Dialah Amir ibn Fuhairah." Semoga Allah merahmati dan menempatkannya bersama saudaranya al-Harits di tempat yang mulia.

Wallahu a'lam[]