300x250 AD TOP

19.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #8 : Kapan Al-Quran diturunkan?

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #8 : Kapan Al-Quran diturunkan?

Mengenai waktu pasti diturunkan Al-Qur'an, masih ada pendapat-pendapat yang berbeda dikalangan ummat saat ini. Semoga perbedaan tersebut tak berbuntut perpecahan dan permusuhan didalam barisan ummat itu sendiri.

Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam pada bulan Ramadhan,
"(Beberapa hari yang telah ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil)" (Al-Baqarah: 185).
"Sesungguhnya Kami tlah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar" (Al-Qadr : 1-5).
"Haa Miim. demi kitab (Al-Quran) yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul" (Ad-Dukhkhan: 1-5)
"Jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furgaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan." (Al-Anfal: 41).

Yaitu bertemunya Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dengan kaum musyrikin di perang Badar. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berperang melawan orang-orang musyrikin di Badar pada hari Jum'at dini hari, tanggal 17 Ramadhan.

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #7 : Permulaan Wahyu (4/4)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #7 : Permulaan Wahyu

Saat sedang Thawaf, Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam bertemu dengan Waraqah bin Naufal.

Dia berkata: "Saudaraku, tuturkanlah apa yang terjadi padamu". Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam lantas menuturkan semua apa yang terjadi pada saat itu kepadanya.

Waraqah berkata: "Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangan-Nya, sungguh kau adalah Nabi untuk ummat ini, kau didatangi Jibril yang dulu pernah datang pada Musa. Kau pasti kan didustakan, disakiti, diusir, dan diperangi. Seandainya aku masih hidup pada zaman itu, pasti aku menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya".

Setelah thawaf, Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam pulang. Sesampainya di rumah, Khadijah telah menunggunya dengan senyum jelita. Mereka membincang kejadian pada malam saat itu.

Khadijah berkata: "Suamiku, bisakah kau bertutur tntang sahabatmu (Jibril) tatkala ia datang kepadamu?" Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjawab: "Ya".

Khadijah melanjutkan: "Apabila ia datang lagi kepadamu, tolong beritahu aku!".

Tak lama, Jibril datang kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam lalu kemudian beliau memberitahu istrinya bahwa Jibril telah datang. 

Rasulullaah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkata: "Istriku, ini Jibril. Ia telah datang kepadaku".

Khadijah berkata : "Suamiku, berdirilah dan berbaring di atas paha kiriku!" Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menuruti keinginannya. Lantas Khadijah berkata: "Apa kau masih melihatnya?".

Rasulullah saw. menjawab: "Ya".

Khadijah berkata: "Ubahlah posisimu. Berbaringlah di paha kananku!" Beliau menurutinya. Khadijah kemudian berkata lagi: "Apa kau masih melihatnya?".

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjawab: "Ya". 

Khadijah terus meminta Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berganti posisi berbaring padanya, dari paha kiri, ke kanan, lalu ke atas pangkuannya. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam masih tetap saja melihat Jibril. 

Hingga akhirnya Khadijah melepas pakaian dan kerudungnya, sedang Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam masih tetap berbaring di pangkuannya (Menurut sebagian riwayat, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dimasukan ke dalam daster/jilbab Khadijah). Lalu Khadijah berkata: "Masihkah kau melihatnya?".

Rasulullah menjawab: "Tidak".

Khadijah lantas berkata: "Suamiku, berbahagialah. Demi Allah, dia Malaikat, bukan Setan".

Wallaahu a'lam

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #7 : Permulaan Wahyu (3/4)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #7 : Permulaan Wahyu

Aku berdiri melihatnya (Jibril) bagaikan patung, kemanapun aku arahkan pandanganku disana terlihat dia.

Aku berdiri diam, terpaku, bagaikan patung. Istriku, Khadijah radhiyallaahu 'anha mengirimkan pelayan-pelayan untuk mencariku. Mereka tiba di Mekah atas dan kembali kepada Khadijah radhiyallaahu 'anha tanpa menemukan aku; sementara aku tetap berada di tempatku semula. Dia (Jibril) pun kemudian hilang dariku.

Aku pulang menemui istriku dan menceritakan semuanya.

Aku bersandar di pahanya. Dia berkata: "Suamiku, semalam kau kemana saja? Aku telah mencarimu ke Mekah atas, namun pulang dengan tangan hampa"

Maka aku ceritakan sedetail peristiwa yang terjadi padaku. Khadijah berkata: "Berbahagialah, wahai suamiku, dan kokohkanlah. Demi dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya, kuharap engkau diangkat menjadi Nabi untuk ummat ini."

Khadijah bangkit, mempersiapkan pakaiannya, lantas pergi ke kediaman Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya. Waraqah adalah seorang penganut kristen yang mengkaji kitab-kitab dan banyak belajar dari orang yahudi.

Khadijah menceritakan perihal yang terjadi pada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam kepadanya, bahwa beliau melihat dan mendengar sesuatu.

Diapun berkata: "Quddus, Quddus (Maha Tuhan) Allah, Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangan-Nya, jika semua yang kau tuturkan itu benar, Khadijah, sungguh dia telah didatangi Jibril (Namus) yang dahulu pernah datang pada Musa 'alayhissalaam. Dia adalah Nabi untuk ummat ini. Katakanlah padanya, hendaklah ia bersabar."

Setelah selesai keperluannya, Khadijah pulang menemui Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan menceritakan apa yang dikatakan Waraqah.

Usai dari kegiatan tahunannya menyendiri di Gua Hira', Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam beraktivitas seperti biasanya, ia Thawaf mengelilingi Ka'bah 7 kali atau lebih.

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #7 : Permulaan wahyu (2/4)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #7 : Permulaan wahyu.

Saat Ramadhan tahun itu, beliau berangkat ke Gua Hira' disertai istrinya. Malam itu, Allah memuliakan beliau dengan menganugerahkan kerasulan dan merahmati hamba-hamba-Nya dengan rahmat itu. Malaikat Jibril datang dengan membawa perintah Allah.

Rasulullah saw. bersabda, "Jibril mendatangiku dengan sehelai kain sutera, dimana dikain itu terdapat beberapa baris tulisan saat aku hendak terlelap."

Malaikat Jibril berkata: "Bacalah!"

Aku berkata: "Aku tak bisa membaca." Lalu Malaikat Jibril mendekapku dengan kain sutera tersebut. hingga seolah-olah aku telah mati, lalu melepaskanku kembali dan berkata: "Bacalah!"

Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?" Malaikat Jibril mendekapku kembali dengan kain sutera tadi, melepaskanku, dan berkata: "Bacalah!"

Aku mengatakan: "Apa yang mesti aku baca?" (begitu seterunsya sampai 3 kali) Aku katakan itu dengan harapan ia melepasku sebagaimana ia lakukan terhadap diriku sebelumnya.

Lalu ia (Jibril) berkata:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (QS. Al-'Alaq 1-5)
Kemudian Jibril meninggalkanku, lalu aku terbangun --dari tidurku-. Aku merasa ada sesuatu yang terpahat didalam hati, lantas aku keluar dari Gua Hira'. Ketika aku berada di tengah-tengah gunung, aku mendengar suara dari langit: "Wahai Muhammad, engkau adalah utusan Allah sedangkan aku adalah Jibril"

Aku dongakkan kepalaku ke langit, saat itu aku melihat Jibril dalam sosok laki-laki yang membentangkan kakinya di ufuk-ufuk langit. Aku berdiri melihatnya bagaikan patung, kemanapun aku arahkan pandanganku disana terlihat Jibril.

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #7 : Permulaan wahyu (1/4)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #7 : Permulaan wahyu.

Tatkalan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berumur 40 tahun, Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi semesta, penerang bagi yang tengah berada dalam gulita, pembawa kabar gembira bagi para mukmin, dan ancaman bagi yang kafir.

'Aisyah radhiyallaahu 'anha pernah berkata, "Sesungguhnya wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ketika Allah hendak memberi kemuliaan padanya dan rahmat bagi hamba-hambaNya melalui perantaranya, ialah dengan mimpi yang benar. Tidaklah sekali-kali beliau bermimpi kecuali ia melihat kejadiannya laksana matahari yang merekah pagi hari"

"Mulai saat itu, " lanjut 'Aisyah radhiyallaahu 'anha "Allah menjadikan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam suka menyendiri dan tidak ada pekerjaan yang lebih disukai selain menyendiri"

Sebagian riwayat mengatakan, "Sesungguhnya Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, ketika Allah berkehendak memuliakannya dan menganugerahkan kenabian padanya; ketika beliau mau buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh dari rumah-rumah penduduk hingga berhenti di Syi'ab Mekkah, dan lembah-lembahnya. Dan tidaklah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melewati sebongkah batu dan sebatang pohon kecuali keduanya berkata, "Assalamu'alayka ya Rasulullah."

Hingga suatu saat, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam sedang menyendiri di Gua Hira' pada bulan Ramadhan yang mulia. Seperti kebiasaanya pada tahun-tahun sebelumnya; (Menyendiri sebulan penuh merupakan tahannuts/tabarrur/pembersihan diri yang biasa dilakukan orang-orang Quraisy pada zaman Jahiliyyah). Beliau menyuguhkan makanan kepada orang-orang miskin yang mendatangi beliau.

Usai melakukan hal itu, beliau pergi ke Ka'bah dan melakukan thawaf 7 kali atau lebih, kemudian beliau pulang ke rumah. Begitulah yang terus terjadi setiap tahun sampai Allah mengutusnya sebagai seorang Nabi.