300x250 AD TOP

29.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #16 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy 2

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #16 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy 2

Setelah gagal berunding dengan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam dengan diwakili Abu Al-Walid; Utbah. Thabari dan Ibnu Katsir meriwayatkan bawa beberapa orang musyrik, termasuk Al-Walid bin Al-Mughirah dan Al-Ash bin Wa'il, datang menemui Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam menawarkan harta kekayaan dan gadis tercantik kepada beliau dengan syarat agar beliau bersedia meninggalkan kecaman terhadap tuhan-tuhan mereka.

Ketika Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam menolak tawaran tersebut, mereka berkata : "Bagaimana jika kamu menyembah tuhan-tuhan kami sehari, dan kami menyembah tuhanmu sehari (bergantian)?" Tawaran ini juga ditolak oleh Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam; berkenaan hal ini Allah kemudian berfirman,
Katakanlah, "Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (juga) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku" (QS. Al-Kafirun)
Para pembesar Quraisy tak berputus asa sampai disana, mereka dengan terusnya membujuk Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam; secara beramai-ramai mereka kembali mendatangi beliau, menawarkan apa yang sebelumnya pernah ditawarkan. Lalu Rasulullah berkata : "Aku tidak memerlukan semua yang kamu tawarkan. Aku tidak berdakwah karena menginginkan harta, tidak pula kehormatan ataupun kekuasaan. Tetapi Allah mengutusku sebagai Rasul; Dia menurunkan kitab kepadaku dan memerintahkan aku agar menjadi pemberi kabar gembira dan peringatan. Kemudian aku sampaikan risalah Rabb-ku dan aku sampaikan pula nasehat kepadamu. Jika kamu menerima, kebahagiaanlah yang akan kamu terima. Jika kamu menolak ajakanku, maka aku bersabar mengikuti perintah Allah sehingga Allah memberikan keputusan antara aku dan kamu".

Kemudian mereka berkata : "Jika kamu tak bersedia menerima tawaran kami, maka sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tidak ada orang yang lebih kecil negerinya, lebih gersang tanahnya, dan lebih keras kehidupannya selain daripada kami. Karena itu mintakanlah untuk kami kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menjauhkan gunung-gunung yang menghimpit dari negeri kami, mengalirkan sungai-sungai untuk kami sebagaimana di Syam dan Iraq, dan bangkitkan bapak-bapak kami yang telah mati, terutama Qushay bin Kilab, karena dia seorang tokoh yang terkenal jujur, sehingga kami dapat bertanya kepadanya tentang apa yang anda katakan. Mintalah untukmu sendiri kebun, istana, tambang emas dan perak yang dapat memenuhi apa yang selama ini kamu inginkan. Jika kamu telah melakukan apa yang kami minta, maka kami baru akan membenarkanmu. Kami akan tahu kedudukanmu di sisi Allah dan kami akan mempercayaimu sebagai utusan Allah sebagaimana yang engkau katakan".

Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam berkata : "Aku tidak akan melakukannya, aku tidak akan meminta hal itu kepada Allah; aku diutus kepada kalian bukan untuk mengabulkan permohonan-permohonan mistis kalian. Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian dengan apa yang kalian saksikan saat ini. --atau sebagaimana yang telah beliau katakan".

Setelah perdetabatan panjang, akhirnya mereka berkata kepada Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam : "Kami dengar bahwa kamu mempelajari semua itu dari seorang yang tinggal di Yamamah bernama ar-rahman. Demi Allah kami tidak percaya kepada ar-rahman. Sesungguhnya kami telah berusaha sepenuhnya kepadamu, wahai Muhammad. Demi Allah, kami tak akan biarkan kamu mengalahkan kami".

Wallahu a'lam

27.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #15 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #15 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad

Perlakuan ini terjadi sebelum Hamzah bin Abdul Muththalib memeluk Islam. Ketika itu, orang-orang Quraisy tengah gencar-gencarnya melancarkan teror kepada Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam; dan orang-orang yang telah mengikuti beliau.

Mereka memobilisasi orang-orang bodoh untuk mengusik, mendustakan, mencaci, dan menuduh beliau sebagai seorang penyair, penyihir, dukun, dan orang gila. Rasulullaah shalallahu 'alayhi wasallaam sedikitpun tak terpengaruh oleh teror mereka. Beliau terus berdakwah dengan menampakkan apa yang mereka tak sukai; 'menghina' agama mereka, meninggalkan berhala-berhala mereka, dan menjauhi kekafiran mereka.

Urwah bin Zubair berkata bahwa, "Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr: 'Berapa kali engkau melihat orang-orang Quraisy meneror Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam?'

Abdullah bin Amr berkata : "Suatu waktu, aku bertemu tokoh-tokoh Quraisy di Hijr. Mereka tengah membicarakan sepak terjang Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam. Mereka berkata: 'Sebelumnya aku selalu sabar menghadapi sesuatu sampai datang lelaki ini (Muhammad). Ia membathilkan mimpi-mimpi kita, mengata-ngatai leluhur kita, dan mencaci agama kita, memecah belah kita, dan juga menghina Tuhan-tuhan kita".

Saat tengah asyik berdiskusi, tetiba Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam muncul di dekat mereka melakukan thawaf di Ka'bah. Saat Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam melintasi mereka, dihinalah beliau. Sampai putaran ke-2, beliau tak menganggap mereka. Tetapi saat ketiga kalinya beliau melintasi mereka, beliau berhenti dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Quraisy demi Allah, apakah kalian tidak tahu bahwa aku datang untuk membinasakan kalian?"

Perkataan Rasulullah tersebut amat merasuk ke dalam hati orang-orang Quraisy, hingga seseorang diantara mereka terdiam bagai patung.

Karena terkaget, mereka berusaha mencabut perkataannya dan menenangkan beliau; meminta maaf dengan kata-kata yang sebaik mungkin. Kemudian Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam pergi meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya ketika orang-orang Quraisy tengah mengadakan pertemuan seperti biasa. Sebagian diantara mereka berkata : "Apakah kalian masih ingat kejadian kemarin di tempat ini? Sayang, ketika ia muncul di tengah kalian dengan memperlihatkan apa yang kalian benci, kalian membiarkannya".

Ketika mereka tengah dalam keadaan seperti itu, Rasulullah melintasi mereka lagi --saat melakukan thawaf-. Kali ini mereka serentak melompat lalu mengitari Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam dan berkata : "Engkaukah orang yang mengatakan ini dan itu?"

Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam menjawab : "Iya benar, akulah yang mengatakan semua itu"

Abdullah bin Amr berkata : "Aku melihat seseorang dari mereka memegang baju Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam". Atau dalam riwayat lain mengatakan bahwa ketika Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam tengah melakukan shalat di Ka'bah tiba-tiba datang 'Utbah bin Abu Mu'ith mencekik leher Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sekuat tenaga dengan kainnya.

Kemudian Abu Bakar melintasi mereka dan berkata : "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan, 'Tuhanku hanyalah Allah'?"

***

Ketika Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sedang sujud di sekitar beberapa orang Quraisy, tetiba 'Uqbah bin Abi Mu'ith datang dengan membawa kotoran binatang, lalu melemparkannya ke atas punggung Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam. Beliau tak mengangkat kepalanya sampai anaknya, Fathimah radhiyallaahu 'anha datang membersihkan dan melaknati orang yang melakukan perbuatan keji tersebut.

Ath-Thabari dan Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa sebagian mereka pernah menaburkan tanah ke atas kepala Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam, ketika beliau sedang berjalan di sebuah lorong di Mekah, sehingga beliau kembali dengan keadaan kotor. Kemudian salah seorang anak perempuan beliau membersihkannya sembari menangis. Rasulullah menenangkan anaknya tersebut dengan berkata : "Wahai anakku, janganlah engkau menangis. Sesungguhnya Allah melindungi bapakmu"

Demikian pula penyiksaan-penyiksaan yang dialami para sahabat sesampai ada di antara mereka buta, bahkan meninggal dunia. Tetapi semua itu tidak melemahkan semangat keimanan mereka.

Imam Bukhari dari Khabbab bin Al-Arit, ia berkata : "Aku datang menemui Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam, ketika beliau tengah berteduh di Ka'bah. Kepada beliau aku berkata, 'Wahai Rasulullah, apakah anda tidak memohonkan pertolongan kepada Allah untuk kami? Apakah anda tidak berdoa untuk kami?' Beliau menjawab, 'Di antara orang-orang sebelum kamu dahulu ada yang disiksa dengan ditanam hidup-hidup, ada yang belah kepalanya menjadi dua, dan da pula yang disisir rambutnya dengan sisir besi hingga kulit kepalanya terkelupas. Tetapi siksaan-siksaan itu sedikitpun takmenggoyahkan tekad mereka untuk tetap mempertahankan agama. Demi Allah, Dia pasti akan mengakhiri semua persoalan ini sehingga orang berani berjalan dari Shan'a ke Hadhramaut tanpa rasa takut kepada siapapun juga selain kepada Allah, dan hanya takut kambingnya disergap serigala. Tetapi kalian tampak terburu-buru".

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #14 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #14 : Tawaran Diplomasi kaum Quraisy

Utbah bin Rabi'ah sang tokoh Quraisy ketika ia sedang duduk di balai pertemuan Daar An-Nadwah milik orang-orang Quraisy; dan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sedang duduk-duduk sendirian di Masjid berkata : "Hai orang-orang Quraisy, bagaimana jika aku berdiplomasi dengan Muhammad dan mengajukan tawaran-tawaran? Siapa tahu ia menerima sebagiannya, dengan maksud agar ia mau menghentikan dakwahnya?".

Peristiwa ini terjadi ketika Hamzah telah masuk Islam, dan orang-orang Quraisy melihat kekuatan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam semakin besar.

Orang-orang Quraisy berkata : "Baiklah, temui dan berbicaralah dengannya!".

Utbah kemudian pergi menghampiri Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam dan duduk dekat beliau. Utbah berkata : "Hai, keponakanku, sesungguhnya engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami. Engkau mempunyai kehormatan di antara kami; dan memiliki keluhuran nasab. Tetapi engkau telah merusak kemapanan kaummu; engkau memecah belah persatuan mereka, mencemoohkan mimpi-mimpi mereka, mencaci sesembahan dan agama mereka; mengkafirkan leluhur mereka. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa engkau pikirkan dan semoga engkau bisa menerima sebagian tawaran-tawaran ini."

Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam berkata : "Katakanlah wahai Abu Al-Walid, aku pasti akan menyimak apa yang engkau katakan!".

Utbah berkata : "Wahai keponakanku, jika tujuan dakwahmu untuk mendapatkan harta, maka kami akan himpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami; jika tujuan dakwahmu adalah kehormatan, maka akan kami jadikan engkau pemimpin kami yang tidak ada satu perkara pun terlaksana tanpa keputusanmu; jika tujuan dakwahmu adalah kekuasaan, maka akan kami angkat engkau sebagai raja --dan sedemikian yang dikatakannya sampai tuntas-"

Rasulullah berkata : "Apa engkau telah selesai bicara wahai Abu Al-Walid?".

Utbah menjawab : "Ya".

Rasulullah berkata : "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan".

Kemudian Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam membaca sebuah ayat,
Bismillahirrahmaanirrahiim, Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (daripadanya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: "Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)" (QS. Fushshilat : 1-5)
Lalu Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam membacakan kelanjutkan ayat-ayat diatas; sementara Utbah ketika diperdengarkan ayat-ayat tersebut, duduk-serius mendengarkan sambil bersandar dengan kedua tangannya. Tatkala Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam sampai pada ayat sajdah, beliau sujud, kemudian berkata : "Hai Utbah, engkau telah menyimak dengan jelas apa yang baru saja aku perdengarkan. Kini, terserah kepadamu mau dibawa kemana apa yang baru saja engkau dengarkan itu".

Utbah pulang menemui orang-orang Quraisy, mereka berkata kepada sebagian yang lain : "Demi Allah, aku melihat bahwa Utbah pulang membawa wajah berbeda dibanding saat ia berangkat tadi.

Mereka bertanya kepada Utbah : "Apa yang terjadi padamu, wahai Abu Al-Walid?".

Utbah menjawab : "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar sebelum-sebelumnya. Demi Allah, perkataan tersebut bukanlah syair, bukan sihir, bukan pula perdukunan. Wahai orang-orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara ini kepadaku, biarkanlah ia (Muhammad) dengan apa yang ia kerjakan. Biarkanlah dia! Demi Allah, ucapannya yang aku dengan tadi pada suatu saat akan menjelma menjadi kekuatan yang sangat besar" --atau sebagaimana yang ia katakan-

Orang-orang Quraisy berkata : "Ia telah mengguna-gunaimu dengan mantranya wahai Abu Al-Walid!"

Utbah berkata : "Ini hanya pendapatku saja tentang dia. Terserah kalian mau menerima atau tidak?!"

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #13 : Ketika Hamzah masuk Islam

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #13 : Ketika Hamzah masuk Islam.

Pernah suatu ketika, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam di bukit Shafa. Ia menganggau beliau, mencaci, dan memaki beliau dengan sangat hina. Ketika itu mantan budak wanita Abdullah bin Jud'an menyaksikan apa yang dilakukan Abu Jahal pada beliau.

Usai puas mengumpat Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam Abu Jahal berlalu pergi untuk melakukan pertemuan dengan para petinggi Quraisy di balai; di samping Ka'bah.

Tak lama kemudian Hamzah bin Abdul Muththalib datang dengan memanggul panahnya. Rupanya ia usai pulang dari berburu. Ia adalah sosok yang suka berburu. Apabila pulang dari perburuan Ia tidak langsung menuju ke rumah, tetapi ia melakukan thawaf terlebih dahulu di Ka'bah; biasanya setelah melakukan thawaf, Hamzah mengucapkan salam kepada orang-orang Quraisy yang sedang mengadakan pertemuan di balai untuk kemudian berbincang ringan dengan mereka.

Hamzah adalah anak muda yang disegani di antara orang-orang Quraisy. Ketika ia hendak pulang ke rumah, ia melewati mantan budak wanita tadi dan menceritakan segala apa yang disaksikannya kepada Hamzah.

Mantan budak itu berkata : "Wahai Abu Umarah, andai saja engkau tadi saksikan apa yang dilakukan Abu Al-Hakam bin Hisyam kepada keponakanmu Muhammad! Ia mengganggunya, mencacinya, memakinya, dan menghinannya dengan seburuk-buruk penghinaan. Lalu pergi meninggalkan keponakanmu; keponakanmu tak menimpalinya sedikitpun".

Mendengar itu Hamzah bergegas mencari Abu Jahal dan akan memukulnya. Didapatinya Abu Jahal sedang berada di dalam Masjid sedang duduk berdiskusi bersama orang-orang Quraisy, lalu Hamzah berjalan ke arahnya, mengangkat busur, dan memukulnya dengan keras sampai Abu Jahal terluka sangat parah.

Terlukalah Abu Jahal. Sangat parah. Hamzah berkata : "Apa engkau menhina keponakanku, padahal aku seagama dengannya?; dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah seperti apa yang ia persaksikan? Silakan balas jika engkau mampu!".

Beberapa orang dai Bani Makhzum mendekat untuk menolong Abu Jahal. Namun Abu Jahal berkata : "Biarkan saja Abu Umarah. Demi Allah aku telah menghina keponakannya dengan penghinaan yang buruk".

Sejak saat itu Hamzah masuk Islam dan mengikuti setiap ucapan Rasulullah shalallahu 'alayhi wasallaam.

Ketika orang-orang Quraisy mengetahui bahwa Hamzah telah masuk Islam, mereka menyadari bahwa kini Muhammad telah kuat, terjaga, dan terlindungi. Bersebab itu, mereka hentikan sebagian teror terhadap Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasalaam.

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Sirah Nabawi #12 : Kebingungan Al-Walid tentang Al-Quran

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #12 : Kebingungan Al-Walid tentang Al-Quran.

Ibnu Ishaq berkata : beberapa orang Quraisy mendatangi --tokoh senior diantara mereka- Al-Walid bin Al-Mughirah. Pada pertemuan tersebut Al-Walid berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, musim haji akan segera tiba dan bangsa Arab akan berduyun datang ke tempat kalian. Mereka mengetahui banyak sepak terjang sahabat kalian ini --Muhammad- Oleh sebab itulah, aku harap kalian bersatu padu. Jangan berpecah belah.

Orang Quraisy berkata : "Wahai Abu Abdu Syams, utarakan pada kami apa pendapatmu; dan itu pasti menjadi pendapat yang kami ikuti!".

Al-Walid berkata : "Silakan kalian utarakan pendapat kalian dulu. Aku akan mendengarkan".

Orang Quraisy berkata : "Kita akan buat isu bahwa Muhammad adalah seorang dukun."

Al-Walid berkata : "Demi Allah itu isu konyol, sebab ucapannya bukan seperti ucapan seorang dukun, bukan pulan sajaknya".

Orang Quraisy berkata : "Bagaimana kalau seorang yang gila?".

Al-Walid berkata : "Tidak, itu lebih konyol lagi".

Orang Quraisy berkata : "Bagaimana kalau penyair?".

Al-Walid berkata : "Bukan, ia bukan penyair. Kita sudah tau apa yang ia ucapkan bukanlah syair".

Orang Quraisy berkata : "Bagaimana kalau penyihir?".

Al-Walid berkata : "Tidak, sebab Muhammad tak ada kaitannya dengan sihir".

Orang Quraisy berkata : "Lalu jika demikian, utarakanlah apa pendapatmu?!".

Al-Walid berkata : "Demi Allah, ucapan Muhammad itu demikian indah nan syahdu juga mengandung kekuatan. Tetapi dia bukanlah seorang penyair, apalagi dukun. Maka jika kalian sebarkan isu seperti diatas dapat disimpulkan bahwa ucapan kalian adalah dusta. Sesungguhnya dari perkataan kalian yang paling mengena adalah isu bahwa Muhammad adalah penyihir. Ia membawa sihir yang memisahkan seseorang dari keluarganya. Mereka bercerai-berai akibat kekuatan sihirnya".

Maka ketika bangsa Arab melaksanakan haji, orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan umum. Tidaklah salah seorang melintasi mereka melainkan mereka sebarkan bahwa Muhammad adalah penyihir.

Kemudian Allah menurunkan firman untuk Al-Walid,
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Kulapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (QS. Al-Mudatsir : 11-16)
Wallahu a'lam