![]() |
| jejakperadaban.com | Sirah Nabawi |
Suatu malam, beberapa orang Quraisy menyelinap keluar, mengintip-sembunyi di setiap sisi --berbeda- luar bilik Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, tanpa mengetahui keberadaan satu sama lain. Mereka rela begadang; tujuan utama mereka adalah untuk menyimak apa yang Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam baca saat shalat malam; Al-Quran. Mereka adalah Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-Akhnas bin Syariq.
Ketika fajar menyingsing, setelah selesai urusan mereka, dan mentari pun tengah merekah, mereka bubar. Di satu jalan, mereka bertemu satu sama lain, saling mengata-ngatai. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain : "Janganlah engkau lakukan ini esok hari, karena jika kelakuan kalian ini diketahui oleh orang-orang yang kurang waras, maka akan menimbulkan rasa curiga di dalam diri mereka". Setelah itu mereka berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertiga melakukan hal yang sama; begadang, mengintip-sembunyi mendengar bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tanpa mengetahui satu sama lain. Hingga ketika fajar telah tiba, mereka bertemu kembali di suatu jalan dan mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.
Keesokan harinya lagi, mereka melakukan hal yang sama; begadang, mengintip-sembunyi mendengar bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tanpa mengetahui satu sama lain. Hingga fajar telah menyapa, mereka bertemu kembali di suatu jalan. Akhirnya mereka mengadakan perjanjian. Sebagian dari mereka berkata : "Mari kita berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang seperti ini lagi". Mereka bertiga pun berjanji tidak mendengarkan bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam lagi.
Keesokan harinya, Al-Akhnas mengunjungi Abu Sufyan dan berkata : "Wahai abu Hanzhalah, katakanlah kepadaku pendapatmu tentang apa yang engkau simak dari bacaan Muhammad". Abu Sufyan berkata : "Wahai abu Tsa'labah, demi Allah, aku mendengar beberapa aku tahu dan aku mengerti maksudnya; beberapa yang lain aku tak tahu dan tak memahami maksudnya. Al-Akhnas berkata : "Sungguh, aku juga sama sepertimu".
Lalu Al-Akhnas mengunjungi Abu Jahl dan menanyakan hal yang sama. Abu Jahl menjawabnya : "Mendengar apa aku?! Bukankah kita bersaing ketat memperebutkan kehormatan dengan Bani Abdi Manaf. Mereka memberi makan, kita juga melakukan hal yang sama. Hingga mereka berkata 'Kita memiliki Nabi yang mendapatkan wahyu dari Langit'. Kapankah kita bisa mencapai hal seperti itu? Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada Nabi tersebut, tidak akan pula membenarkannya". Al-Akhnas berdiri dan meninggalkan Abu Jahl.
Ibnu Ishaq berkata : "Apabila Rasulullah memperdengarkan ayat Al-Quran kepada mereka dan mengajak kepada Allah, mereka selalu berkata, 'Hati kami tertutupi dari apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara diri kamu dan diri kami ada dinding. Maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja, kami tidak mengerti apapun darimu'" Artinya, kami tak mengerti apa yang engkau katakan, kami tidak bisa menyimak apa yang engkau katakan, ada penghalang antara kami denganmu. Kerjakanlah apa yang mesti engkau kerjakan, kami akan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan.
Allah berfirman kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tentang ucapan mereka,
Dan apabila kamu membaca Al Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (QS. Al-Isra' : 45-46)Yakni, mustahil mereka mampu memahamimu, yang mentauhidkan Tuhanmu. Jika Aku sudah menyumbat hati mereka dan menutup telinga mereka, serta terdapat dinding pemisah antara mereka denganmu sebagaimana yang mereka duga.
Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: "Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir". (QS. Al-Isra' : 47)Itulah yang saling mereka wasiatkan, yakni tidak mengamalkan apa yang Aku utus engkau dengannya kepada mereka.
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). (QS. Al-Isra' : 48)Artinya, mereka telah keliru dalam mencitrakan dirimu. Maka tidaklah aneh apabila mereka tidak mendapatkan petunjuk dari dalamnya, dan perkataan mereka tidak memiliki nilai sedikitpun.
Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" (QS. Al-Isra' : 49)Yakni, engkau telah jelaskan kepada kami bahwa kami akan dibangkitkan setelah kematian dan setelah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur. Ini satu hal tidak mungkin terjadi.
Katakanlah: "Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya: "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama". Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat" (QS. Al-Isra' : 50-51)Yakni, Dzat yang menciptakan kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui. Maka diciptakannya kalian dari tanah tidak lebih sulit dari-Nya.
Ibnu Ishaq berkata : Abdullah bin Abu Naji berkata kepadaku dari Muhajid dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu yang berkata bahwa aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai firman Allah, "Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian". Apa maksud Allah dengannya? Ibnu Abbas menjawab : Kematian.
Wallahu a'lam
