300x250 AD TOP

20.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #20 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap orang-orang lemah yang baru memeluk Islam (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #20 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap orang-orang lemah yang baru memeluk Islam.

Kaum Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Setiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang berada di kabilahnya kemudian memenjarakan mereka; menghajar, membiarkan lapar dan haus, menjemur mereka di padang pasir Mekah jika musim panas sedang membara. Mereka menyiksa orang lemah diantara kaum Muslimin.

Di antara kaum Muslimin ada yang putar lagi haluan bersebab cobaan yang didera terasa amat berat; tetapi ada pula yang tetap tegar, kuat, dan beriman. Allah melindungi mereka dari orang-orang Quraisy.

Bilal; adalah mantan budak Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu. Awalnya ia dalah budak salah seorang dari Bani Jumah dan dilahirkan di Bani Jumah. Dialah Bilal bin Rabah. Ibunya bernama Hamamah. Bilal masuk Islam dengan hati tulus; hatinya bersih.

Umayyah bin Khalaf bin Wahb mengeluarkannya ketika matahari sedang di puncak teriknya. Ia membaringkannya di atas padang pasir Mekah, kemudian memerintahkan untuk menindihkan batu besar di atas tubuh Bilal. Umayyah berkata : "Demi Allah, engkau akan berada dalam kondisi seperti ini hingga engkau mati dan engkau membelot dari Muhammad; menyembah Al-Lata dan Al-Uzza".

Menghadapi cobaan itu, Bilal berkata : "Ahad (Esa), Ahad (Esa)"

Ibnu Ishaq berkata : Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, ia berkata : "Saat Bilal tengah disiksa dan mengatakan, 'Ahad, Ahad,' Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya dan berkata 'Demi Allah, Ahad, dan Ahad, Bilal'". Kemudian ia menemui Umayyah bin Khalaf lalu berkata : "Allah, jika Bilal kemudian mati di tempat ini, dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan memberkati tempat kematiannya". Demikianlah terus terjadi sampai Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu berjalan melewati mereka.

Abu Bakar berkata : "Mengapa engkau tidak tahut kepada Allah dari menyiksa orang miskin ini? Hingga kapan engkau menyiksanya?"

Umayyah bin Khalaf berkata : "Engkaulah yang membuatnya rusak. Oleh karena itu, selamatkan dia jika engkau suka!"

Abu Bakar menjawab : "Boleh! aku mempunyai budak hitam yang lebih kuat dan kekar daripada dia; lebih fanatik berpegang dengan agamamu. Bilal milikku, budakku menjadi milikmu!". Umayyah bin Khalaf setuju dengan kesepakatan yang diberikan Abu Bakar. Bilal kemudian dimerdekakan olehnya.

Pra Hijrah, Abu Bakar telah memerdekakan enam budak, Bilal merupakan budak ke-7 yang dibebaskannya. Keenam budak tersebut adalah : Amir bin Fuhairah. Ia terlibat di perang uhud dan syahid di perang Bi'ru Maunah, Ummu Ubais, Zinnirah yang ketika Abu Bakar membebaskannya ia tengah dalam kondisi buta karena penyiksaan terhadapnya; orang-orang Quraisy berkata : "Matanya telah diambil Al-Lata dan Al-Uzza". Zinnirah berkata : "Demi Baitullah, mereka bohong. Al-Lata dan Al-Uzza hanyalah patung yang tak bisa apa-apa". Kemudian Allah mengembalikan penglihatannya.

Kemudian memerdekakan An-Nadhiyyah dan putrinya. Keduanya milik seorang wanita dari Bani Abduddar. Kemudian Abu Bakar berjalan melewati wanita Muslimah Bani Muammil di perkampungan Bani Adi bin Ka'ab. Ketika itu Umar bin Khattab --saat masih musyrik- tengah menyiksanya hingga dirinya kelelahan. Umar bin Khattab berkata : "Aku berhenti menyiksamu hanyalah karena kelelahan". Wanita itu menjawab : "Demikianlah Allah berbuat terhadap dirimu". Kemudian Abu Bakar membeli budak wanita tersebut dan memerdekakannya.

Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar : "Aku lihat engkau cenderung memerdekakan mereka yang lemah. Andai saja engkau memerdekakan budak-budak yang kuat, niscaya mereka siap untuk melindungimu". Abu Bakar berkata : "Wahai ayahanda, aku hanya melakukan apa yang Allah inginkan". Salah seorang dari keluarga Abu Bakar berkata bahwa Allah telah menurunkan ayat-ayat tengang Abu Bakar dan tentang ucapan ayahnya kepadanya. Allah berfirman,
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungghnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar benar mendapat kepuasan. (QS. Al-Lail : 5-21)
Bagian ke-2

19.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #19 : Siapa yang menyimak bacaan Al-Quran Rasulullah secara sembunyi?

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #19 : Siapa yang menyimak bacaan Al-Quran Rasulullah secara sembunyi?

Suatu malam, beberapa orang Quraisy menyelinap keluar, mengintip-sembunyi di setiap sisi --berbeda- luar bilik Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, tanpa mengetahui keberadaan satu sama lain. Mereka rela begadang; tujuan utama mereka adalah untuk menyimak apa yang Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam baca saat shalat malam; Al-Quran. Mereka adalah Abu Sufyan bin Harb, Abu Jahl bin Hisyam, dan Al-Akhnas bin Syariq.

Ketika fajar menyingsing, setelah selesai urusan mereka, dan mentari pun tengah merekah, mereka bubar. Di satu jalan, mereka bertemu satu sama lain, saling mengata-ngatai. Sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain : "Janganlah engkau lakukan ini esok hari, karena jika kelakuan kalian ini diketahui oleh orang-orang yang kurang waras, maka akan menimbulkan rasa curiga di dalam diri mereka". Setelah itu mereka berpisah.

Keesokan harinya, mereka bertiga melakukan hal yang sama; begadang, mengintip-sembunyi mendengar bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tanpa mengetahui satu sama lain. Hingga ketika fajar telah tiba, mereka bertemu kembali di suatu jalan dan mengatakan hal yang sama seperti sebelumnya.

Keesokan harinya lagi, mereka melakukan hal yang sama; begadang, mengintip-sembunyi mendengar bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tanpa mengetahui satu sama lain. Hingga fajar telah menyapa, mereka bertemu kembali di suatu jalan. Akhirnya mereka mengadakan perjanjian. Sebagian dari mereka berkata : "Mari kita berjanji tidak akan melakukan perbuatan yang seperti ini lagi". Mereka bertiga pun berjanji tidak mendengarkan bacaan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam lagi.

Keesokan harinya, Al-Akhnas mengunjungi Abu Sufyan dan berkata : "Wahai abu Hanzhalah, katakanlah kepadaku pendapatmu tentang apa yang engkau simak dari bacaan Muhammad". Abu Sufyan berkata : "Wahai abu Tsa'labah, demi Allah, aku mendengar beberapa aku tahu dan aku mengerti maksudnya; beberapa yang lain aku tak tahu dan tak memahami maksudnya. Al-Akhnas berkata : "Sungguh, aku juga sama sepertimu".

Lalu Al-Akhnas mengunjungi Abu Jahl dan menanyakan hal yang sama. Abu Jahl menjawabnya : "Mendengar apa aku?! Bukankah kita bersaing ketat memperebutkan kehormatan dengan Bani Abdi Manaf. Mereka memberi makan, kita juga melakukan hal yang sama. Hingga mereka berkata 'Kita memiliki Nabi yang mendapatkan wahyu dari Langit'. Kapankah kita bisa mencapai hal seperti itu? Demi Allah, aku tidak akan pernah beriman kepada Nabi tersebut, tidak akan pula membenarkannya". Al-Akhnas berdiri dan meninggalkan Abu Jahl.

Ibnu Ishaq berkata : "Apabila Rasulullah memperdengarkan ayat Al-Quran kepada mereka dan mengajak kepada Allah, mereka selalu berkata, 'Hati kami tertutupi dari apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara diri kamu dan diri kami ada dinding. Maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja, kami tidak mengerti apapun darimu'" Artinya, kami tak mengerti apa yang engkau katakan, kami tidak bisa menyimak apa yang engkau katakan, ada penghalang antara kami denganmu. Kerjakanlah apa yang mesti engkau kerjakan, kami akan mengerjakan apa yang harus kami kerjakan.

Allah berfirman kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tentang ucapan mereka,
Dan apabila kamu membaca Al Qur'an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya. (QS. Al-Isra' : 45-46)
Yakni, mustahil mereka mampu memahamimu, yang mentauhidkan Tuhanmu. Jika Aku sudah menyumbat hati mereka dan menutup telinga mereka, serta terdapat dinding pemisah antara mereka denganmu sebagaimana yang mereka duga.
Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata: "Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir". (QS. Al-Isra' : 47)
Itulah yang saling mereka wasiatkan, yakni tidak mengamalkan apa yang Aku utus engkau dengannya kepada mereka.
Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu; karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar). (QS. Al-Isra' : 48)
Artinya, mereka telah keliru dalam mencitrakan dirimu. Maka tidaklah aneh apabila mereka tidak mendapatkan petunjuk dari dalamnya, dan perkataan mereka tidak memiliki nilai sedikitpun.
Dan mereka berkata: "Apakah bila kami telah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur, apa benar-benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?" (QS. Al-Isra' : 49)
Yakni, engkau telah jelaskan kepada kami bahwa kami akan dibangkitkan setelah kematian dan setelah menjadi tulang belulang dan benda-benda yang hancur. Ini satu hal tidak mungkin terjadi.
Katakanlah: "Jadilah kamu sekalian batu atau besi, atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiranmu". Maka mereka akan bertanya: "Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?" Katakanlah: "Yang telah menciptakan kamu pada kali yang pertama". Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata: "Kapan itu (akan terjadi)?" Katakanlah: "Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat" (QS. Al-Isra' : 50-51)
Yakni, Dzat yang menciptakan kalian sebagaimana yang telah kalian ketahui. Maka diciptakannya kalian dari tanah tidak lebih sulit dari-Nya.

Ibnu Ishaq berkata : Abdullah bin Abu Naji berkata kepadaku dari Muhajid dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu yang berkata bahwa aku bertanya kepada Ibnu Abbas mengenai firman Allah, "Atau suatu makhluk dari makhluk yang tidak mungkin (hidup) menurut pikiran kalian". Apa maksud Allah dengannya? Ibnu Abbas menjawab : Kematian.

Wallahu a'lam 

18.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #18 : Pertama kali Al-Quran dibacakan di depan umum

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #18 : Pertama kali Al-Quran dibacakan di depan umum.

Ibnu Ishaq berkata : Yahya bin Urwah bin Az-Zubayr bercerita kepadaku dari ayahnya yang berkata : Orang yang pertama kali membaca Al-Quran secara terbuka di depan umum di Mekah setelah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam adalah Abdullah bin Mas'ud radhiyallaahu 'anhu.

Pada suatu ketika, sahabat-sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkumpul, mereka berkata : "Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar Al-Quran yang dibaca di depan umum. Siapakah yang berani memperdengarkannya kepada mereka?" Abdullah bin Mas'ud berkata : "Aku!" tegas. Para sahabat berkata : "Kami khawatir akan nyawa. Kami ingin ada orang yang mempunyai keluarga dapat melindunginya dari kaum Quraisy jika nanti mereka berbuat jahat". Abdullah bin Mas'ud berkata : "Biarkanlah aku melakukannya, karena Allah melindungiku".

Kemudian, Abdullah bin Mas'ud pergi ke Maqam pada waktu dhuha; pada saat orang-orang Quraisy sedang berkumpul di balai tempat mereka biasa berkumpul. Abdullah bin Mas'ud berdiri di Maqam tersebut, lalu membaca dengan nyaring,
Arrahmaan. 'Allamalquraan; Tuhan yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al-Quran. (QS. Ar-Rahman : 1-2)
Abdullah bin Mas'ud melanjutkan bacaannya, sedang orang-orang Quraisy sebagian ada yang merenungkannya, sebagian yang lain bahkan berkata : "Apa yang dibaca anak Ummu Abd ini?", sebagian lagi berkata : "Ia sedang membacakan apa yang dibawa Muhammad".

Mereka bangkit bergerak mendekati Abdullah bin Mas'ud lalu menghajarnya; tetapi Abdullah bin Mas'ud sedikitpun tak bergeming, dia tetap melanjutkan sampai ayat sekian. Setelah selesai, kemudian Abdullah bin Mas'ud pergi menemui sahabat dengan wajah yang terluka. Mereka berkata kepada Abdullah bin Mas'ud : "Itulah yang kami khawatirkan atas dirimu". Abdullah bin Mas'ud berkata : "Musuh-musuh Allah itu tak lah lebih hina dalam pandanganku daripada mereka sejak sekarang. Jika kalian menghendaki, besok pagi akan aku lakukan lagi". Mereka berkata : "Jangan! Cukuplah. Engkau telah memperdengarkan kepada mereka sesuatu yang tak mereka suka".

Wallahu a'lam

13.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi

An-Nadhr adalah salah satu gembong yang membuka front permusuhan dengan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Ia pernah pergi ke Al-Hirah dan di sana ia sering mendengar cerita-cerita tentang raja persia, kisah tentang rustum, dan isfandiyar. Jika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam berkhotbah di satu tempat untuk mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima orang-orang sebelum mereka. Setelah beliau selesai, An-Nadhr selalu duduk di tempat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tadi duduk dan berkata : "Demi Allah, wahai orang-orang Quraisy, ucapanku lebih bagus daripada ucapan Muhammad. Sekarang kemarilah, niscaya aku campaikan kepada kalian tutur kata yang jauh lebih indah daripada perkataan Muhammad!"

Al-Qur'an menyuratkan delapan ayat tentang An-Nadhr yaitu firman Allah,
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala" (QS. Al-Qalam : 15)
Usai berkata demikian, An-Nadhr mengutus beberapa orang Quraisy untuk menemui pendeta-pendeta Madinah dan berpesan : "Bertanyalah kalian kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifat, serta ucapannya. Sesungguhnya mereka adalah yang pertama diberi kitab; mereka lebih mengetahui tentang para nabi sedangkan kalian tidak".

Berangkatlah mereka ke Madinah. Ketika bertemu dengan rabi-rabi Yahudi mereka menyampaikan apa yang orang Quraisy pesankan; mereka menjelaskan tentang sifat dan ucapan-ucapan Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam. Mereka berkata : "Sesungguhnya kalian telah diberti Taurat, dan kami datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami".

Ibnu Ishaq berkata : rabi-rabi Yahudi itu kemudian berkata "Tanyakanlah tiga hal kepada sahabatmu itu. Jika ia mampu menjawab ketiga hal tersebut, pastilah ia seorang Nabi juga Rasul. Tetapi kalau ia tidak mampu menjawabnya, kalian akan tahu kebohongannya. Tanyakan kepada mereka tentang pemuda-pemuda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode pertama dan bagaimana kabar mereka? Sebab mereka mempunyai kisah yang menarik. Kemudian tanyakan mengenai seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat; seperti apa kisahnya? Lalu tanyakan juga padanya tentang ruh; apa itu ruh? Jika ia bisa menjawab ikutilah dia, jika tidak maha kalian bebas melakukan apa saja terhadapnya.

Setelah selesai semua urusan mereka di Madinah, mereka bergegas kembali ke Mekah dan mengabarkan kepada orang-orang Quraisy tentang apa yang mereka dapatkan. Mereka berkata : "Hai orang-orang Quraisy, sesungguhnya kami datang membawa sebuah kabar kepada kalian. Rabi-rabi Yahudi menyuruh kita untuk menanyakan tiga hal kepada Muhammad, jika ia mampu menjawab maka ia seorang Nabi, jika ia tidak mampu menjawab, maka kalian bebas menilai seperti apa dirinya".

Mereka pun menemui Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan menanyakan tiga hal tadi; "Hai Muhammad, ceritakan pada kami tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik hati, lalu kisah seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat, serta apa itu ruh?"

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjawab : "Semua pertanyaan kalian aku jawab esok pagi". Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menyanggupinya tanpa mengatakan in syaa Allah. Setelah itu mereka berbalik pulang.

Menurut pakar sejarah, Rasulullah shalalallaahu 'alayhi wasallaam selama lima belas malam tidak menerima wahyu. Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga membuat gusar penduduk Mekah. Mereka berkata : "Muhammad menjanjikan sebuah jawaban pada kita besok pagi, tetapi sekarang sudah berlalu lima belas malam".

Rasulullah shalalallaahu 'alayhi wasallaam berduka karena wahyu terputus dari beliau. Baru setelah itu datanglah malaikat Jibril dengan membawa surat Al-Kahfi. Selain --di ayat-ayat awal- Allah menjelaskan tentang kenabian kekasihnya, Muhammad, Allah juga menegur Rasulullah shalalallaahu 'alayhi wasallaam karena tidak mengatakan in syaa Allah. Allah berfirman,
Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) : 'In syaa Allah'. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah 'Mudah-mudahan Tuhanku memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini". (QS. Al-Kahfi : 23-24)
Kemudian Allah berfirman tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) di QS. Al-Kahfi ayat 18-21,
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya". Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya". (QS. Al-Kahfi 18-21)
Lalu di ayat lain,
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan". (QS. Al-Kahfi 25-26)
Allah juga berfirman tentang pengembara yang menjelajahi timur dan barat (Zulqarnain) di QS. Al-Kahfi ayat 83-84
Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya". Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu. (QS. Al-Kahfi 83-84)
Allah juga berfirman tentang ruh,
Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : "Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit. (QS. Al-Isra' : 85)

Wallahu a'lam

Kembali ke bagian 1

12.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #17 : Rasulullah, kaum Quraisy, dan tafsir surat Al-Kahfi

Pasca perundingan yang disiasatkan oleh kaum Quraisy (Tawaran diplomasi 1 & 2) ditolak oleh Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, salah seorang pentolan Quraisy berkata : "Kami menyembah para malaikat, karena mereka adalah anak-anak perempuan Allah". Ucapan mereka diabadikan dalam Al-Qur'an surat Al-Israa' : 90-92.

Seusai mengatakan itu kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, beliau bangkit diikuti Abdullah bin Abu Umayyah. Dia berkata : "Hai Muhammad, kaummu telah mengajukan dengan demikian banyak tawaran menggiurkan kepadamu, namun, semuanya engkau tolak. Mereka memintamu bukti akan kedudukanmu di sisi Allah sebagaimana pengakuanmu, agar kami membenarkanmu, namun engkau tidak juga mengabulkannya. Mereka memintamu menunjukkan kesaktianmu hingga mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka, namun engkau tidak juga mampu membuktikannya. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan pada mereka, namun engkau tak mewujudkannya. Demi Allah, jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengimanimu hingga engkau membangun tangga ke langit, kemudian engkau naik kelangit melalui tangga itu dan aku melihatmu tiba di sana, setelah itu engkau mengambul empat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan harapkan aku membenarkanmu".

Kemudian Abdullah bin Umayyah pergi meninggalkan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam; Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam pelang dengan perasaan sedih.

Selang beberapa saat dari kejadian di atas tadi, Abu Jahal merencanakan niat jahatnya untuk mengganggu Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam saat beliau sedang shalat. Ketika sujud, Abu Jahal mengambil sebuah batu dan hendak memukulkannya. Tetapi saat dia dekat dengan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, mukanya berubah pucat pasi dan lari terbirit-birit. Orang Quraisy bergegas menemui Abu Jahal dan berkata : "Apa yang terjadi padamu wahai Abu Jahal?".
Abu Jahal berkata : "Aku berjalan kepada Muhammad untuk melakukan apa yang aku katakan pada kalian semalam. Saat aku dekat dengannya, tetiba muncullah seekor unta. Demi Allah, aku belum pernah melihat kepala unta, pangkal lehernya, dan taringnya seperti unta itu. Aku sangat takut unta tersebut akan menerkam diriku".

Ketika Abu Jahal tertekan seperti itu, bangkitlah An-Nadhr bin Al-Harits dan berkata : "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, sungguh telah datang kepada kalian sesuatu yang tidak bisa kalian berkilah darinya. Sungguh sebelum ini Muhammad di mata kalian adalah anak muda belia, orang yang paling diterima di sisi kalian, dan orang yang paling tampak kejujurannya. Hingga ketika kalian lihat dia mulai beruban dan dia datang kepada kalian dengan ajaran yang dibawanya, kalian lalu menuduhnya sebagai penyihir, dukun, penyair, dan orang gila. Tidak, demi Allah, ia bukan penyihir, dukun, penyair, dan orang gila. Wahai orang-orang Quraisy, pikirkan persoalan ini dengan cermat, karena demi Allah, sebuah masalah besar telah merongrong kehidupan kalian.

Bagian ke-2