300x250 AD TOP

16.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #4 : Perjalanan pertama ke Syam dan pertemuan dengan pendeta Bahira (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #4 : Perjalanan pertama ke Syam dan pertemuan dengan pendeta Bahira.

Ketika berusia 12 tahun, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam (saat itu belum jadi Nabi) diajak pamannya untuk berdagang ke Syam. Dalam sebagian riwayat, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam-lah yang berkeinginan untuk ikut pergi bersama pamannya. Abu Thalib tak kuasa meninggalkannya dan berkata, "Demi Allah aku harus membawanya pergi bersamaku. Jangan sampai ia berpisah denganku."

Ketika kafilah mereka sampai di Bushra, sebuah kawasan di Syam, mereka bertemu dengan seorang pendeta bernama Bahira. Ia adalah orang yang paling tau tentang kristen. Pada tahun itu kafilah dagang Abu Thalib melewati Bahira seperti biasanya. Tapi tak seperti tahun-tahun sebelumnya --dimana Bahira enggan berbicara pada mereka-. Tahun ini ia amat jauh berbeda, ia menjamu kafilah dagang Quraisy dengan makanan yang banyak.

Menurut sebagian ulama, Bahira melakukan itu lantara ia melihat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersama kafilah dagang Abu Thalib, dan awan menaungi beliau diantara mereka. Mereka berhenti di bawah pohon rindang dekat Bahira. Ia melihat ranting-ranting pohon merunduk luluh menaungi Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam.

Bahira berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, sungguh aku telah membuat makanan untuk kalian. Aku ingin kalian semua ikut hadir."

Mereka hadir ke rumah ibadah bahira, kecuali mereka tinggalkan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Tetapi Bahira kembali berkata-mengingatkan, "Aku ingatkan untuk semua orang hadir dalam jamuan ini."

Setelah itu Bahira datang menemui Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, mendekapnya dan mendudukannya bersama rombongan. Bahira memperhatikan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dengan teliti. Dari hasil penglihatannya, ia dapatkan sifat-sifat kenabian pada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ketika itu.

15.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #3 : Nasab Rasulullah dan ibrah dari 'kekurangan'nya (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #3 : Nasab Rasulullah dan ibrah dari 'kekurangan'nya.

Beberapa Ibrah/hikmah:

1. Didalam nasab Nabi shalallaahu 'alayhi wasallaam yang mulia tersebut terdapat beberapa dalil yang jelas, bahwa Allah mengutamakan bangsa Arab dari bangsa lainnya; kabilah Quraisy dari kabilah lainnya. Ketahuilah, bahwa diantara konsekuensi mencintai Rasul adalah mencintai apa yang melekat padanya, mencintai bangsa dan kabilahnya bukan dari segi individu dan jenisnya tapi dari segi hakikat semata.

2. Bukan satu kebetulan Allah mengambil Ayah, Ibu, lalu kemudian Kakeknya saat beliau masih kecil. Kehidupan pertamanya jauh dari asuhan bapak dan tak mendapat kasih sayang lebih dari ibunya. Allah telah pilihkan prtumbuhan ini bagi Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam agar musuh islam tak mendapatkan jalan untuk memasukkan keraguan dalam hati dan menuduh, "Ajaran Islam Muhammad didapat dari keluarganya!" Bersebab kakeknya adalah seorang tokoh diantara kaumnya. Kepadanyalah kunci ka'bah diamanahkan dan memberikan jamuan makan para jama'ah haji pada masa itu.

Bahkan masa kanak-kanak beliau dihabiskan di Bani Sa'd yang tengah tandus dan kekeringan jauh dari keluarganya.

3. Pamannya sampai akhir tak memeluk islam. Ini adalah hikmah lain, agar tak muncul tuduhan bahwa pamannya ikut andil dalam dakwah beliau shalallaahu 'alayhi wasallaam dan dakwahnya merupakan urusan keluarga/peningkatan harga diri keluarga saja.

Begitulah, Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam Langsung diasuh oleh Inayah Allah, jauh dari tangan-tangan yang memanjakan. Sehingga jiwa dakwah dan perjuangan telah tertempa sejak kecil; jauh dari harta yang membuatnya lena dengan kemewahan dan kedudukan.

Wallahu a'lam

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #3 : Nasab Rasulullah dan ibrah dari 'kekurangan'nya (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #3 : Nasab Rasulullah dan ibrah dari 'kekurangan'nya

'Ulama telah menyepakati nasab Rasulullah sebagai berikut:

Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Quraisy (Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Lu'ay bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nazar bin Ma'ad bin Adnan.

Menurut sebuah riwayat yang disebutkan dalam sebagian kitab, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda:
“Dalam memperkenalkan dan menjelaskan garis keturunan (ayah-ayahku) hendaknya kalian cukup sampai Adnan (saja). (Jangan kalian menyebut datuk-datukku setelah Adnan)."
Demikian juga dalam beberapa riwayat lain yang dinukil dari Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam disebutkan bahwa: 
“Ketika garis keturunanku (nasab) sampai pada Ma’ad bin Adnan hingga Ibrahim As, maka mereka yang menjelaskan garis keturunan ini telah berkata dusta.”
Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dilahirkan pada tahun Gajah, dimana Abrahah bin Arsyam berusaha menyerang Ka'bah, yang kemudian Allah mengagalkan dengan mukzijat yang mengagumkan, sebagaimana Al-Qur'an ceritakan dalam surat Al-Fil. Menurut riwayat yang paling kuat, jatuh pada hari senin 12 Rabi'ul awal.

Ia dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, meninggal saat beliau masih dalam perut ibunya, Siti Aminah, dua bulan. Lalu ia diasuh oleh kakeknya, Abdul Muththalib, dan disusukan sebagaimana tradisi Arab saat itu kepada seorang wanita Bani Sa'd bin Bakar, bernama Halimah binti Dzu'aib.

Singkat cerita pada saat itu pedalaman bani Sa'd tengah dalam kemarau panjang, lahan peternakan dan pertanian kekeringan, tapi tak lama setelah Muhammad balita tinggal disana untuk disusui, menghijaulah kembali lahan peternakan, suburlah kembali tanah-tanahnya, kambing peternakannya pulang kandang dengan perut kenyang dan sarat air susu.

Selama disana juga, Muhammad kecil mengalami peristiwa pembelahan dada sebagaimana diriwayatkan dalam hadits. Kemudian Muhammad dikembalikan lagi pada Ibunya saat berumur 5 tahun. Ibunya meninggal saat beliau berumur 6 tahun. Lalu diasuh oleh kakeknya, kakeknya meninggal saat ia 8 tahun. Dan akhirnya diasuh oleh pamanya Abu Thalib.

14.12.14

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #2 : Hubungan Dakwah Nabi Muhammad Dengan Nabi-Nabi Terdahulu (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #2 : Hubungan Dakwah Nabi Muhammad Dengan Nabi-Nabi Terdahulu

Konteks penyempurnaan berkaitan dengan syariat, yaitu hukum yang bertujuan untuk mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi, yang berjalan saat Nabi-nabi diutus pada zamannya. Tentu hal ini berbeda, karena ummat yang didakwahi, waktu, dan tempat para Nabi berdakwah berbeda-beda. Karena prinsip penetapan hukum didasarkan pada tuntunan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

Disamping bi'tsah (pengangkatan) setiap Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam adalah terkhusus bagi ummat pada zamannya, tentulah syariat-syariatnya pun dikhususkan pada ummat yang hidup pada zaman itu, sesuai dengan kondisi ummat tersebut.

Musa 'alayhissalaam misalnya, diutus kepada Bani Israil. Bani Israil memerlukan syariat yang ketat bukan rukhshah (keringanan); atau seperti yang Nabi Khidir 'alayhissalaam ajarkan kepada Musa yang termaktub dalam surat Al-Kahfi ayat 65-82. Setelah kurun beberapa waktu, diutuslah Nabi Isa 'alayhissalaam kepada mereka dengan membawa syari'at yang agak longgar. Firman Allah kepada Isa 'alayhissalaam
"Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu..." (QS. Al-Imran: 50)
Simpulannya, dalam Aqidah, para Rasul secara turun temurun tugasnya tiada lain hanyalah menegaskan kembali Aqidah yang pernah dibawa oleh Rasul sebelumnya, tanpa perubahan sama sekali; dalam syari'at setiap Rasul menghapuskan syari'at sebelumnya kecuali hal-hal yg ditegaskan oleh syari'at yang datang kemudian, atau diperbolehkan/didiamkan.

Wallahu a'lam

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #2 : Hubungan dakwah Nabi Muhammad dengan Nabi-Nabi terdahulu (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #2 : Hubungan dakwah Nabi Muhammad dengan Nabi-Nabi terdahulu

Nabi Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahnya.
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab: 40)
Dakwah Nabi Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam dan Nabi sebelumnya berjalan atas prinsip penegasan dan penyempurnaan.

Dalam konteks penegasan, Aqidah adalah hal fundamental yang secara tegas telah Allah tetapkan sejak Manusia pertama, Nabi 'Adam 'alayhissalaam. Allah itu satu! Allah is One and only! Begitu tegas. Tanpa tapi.

Esensi Aqidah dari Nabi pertama, 'Adam 'alayhissalaam, sampai Nabi penutup, Muhammad shalallaahu 'alayhi wasallaam, adalah Iman kepada satu Tuhan, Allah subhanahu wata'ala; mensucikan-Nya dari segala sifat yang tak layak bagi-Nya, beriman kepada hari akhir, hisab, Neraka, dan Surga. Setiap Nabi mengajak ummatnya untuk mengimani pada perkara-perkara tersebut.
"Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama" (QS. Asy-Syura: 13)
Tidak mungkin jika terjadi perbedaan risalah diantara para Nabi; tidaklah mungkin jika diutus seorang Nabi yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga, lalu kemudian diutus seorang Nabi setelahnya yang membawa risalah bahwa Allah adalah satu.

Bagian 2