300x250 AD TOP

27.1.15

Tagged under: ,

Abdullah ibn Amr Ibn Haram : Diajak bicara oleh Allah

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Abdullah ibn Amr Ibn Haram : Diajak bicara oleh Allah

Abdullah ibn Amr Ibn Haram adalah seorang sahabat Anshar dari suku Khazraj keturunan Bani Salimi. Ayahnya bernama Amr ibn Haram ibn Tsa'labah ibn Haram. Ia dipanggil dengan Abu Jabir karena punya anak bernama Jabir, yang kelak menjadi perawi hadits terkenal. Ia juga termasuk sahabat yang mengikuti baiat Aqabah kedua.

Abdullah ibn Amr ibn Haram termasuk dalam dua belas orang pimpinan yang dipilih saat Baiat Aqabah kedua. Bersama Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ia mengikuti perang Badar dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Allah menumbangkan para pemimpin musyrik, seperti Abu Jahal, dua anak Rabiah, yakni Utbah dan Syaibah, al-Walid ibn Utbah, Umayyah ibn Khalaf, dan beberapa orang lainnya.

Sebelum berangkat untuk ikut serta pada perang Uhud, Abdullah ibn Amr ibn Haram berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, aku sudah mengira-ngira bahwa aku akan menjadi orang pertama yang gugur dalam perang ini. Demi Allah, setelah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tak ada seseorang pun yang aku cintai melainkan engkau. Jika aku punya utang maka bayarkan uangku, dan ajari saudara-saudaramu kebaikan!"

Itulah amanah yang ia katakan pada anaknya, Jabir sebelum ia berangkat menuju medan pertempuran Uhud. Kenyataannya memang benar, ia menjadi korban pertama dari pasukan Muslim. Pada saat itu tentara musyrik memotong hidung dan telinganya. Atas perintah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam jenazahnya dimakamkan dalam satu liang bersama saudara iparnya, Amru ibn al-Jamuh.

Diriwayatkan dari Muhammad ibn al-Munkadir bahwa Jabir ibn Abdullah berkata, "Ayahku terbunuh pada perang Uhud. Aku terkejut ketika melihat jenazahnya, karena wajahnya rusak. Aku menangis. Semua orang melarangku menangis, tetapi Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tidak melarangku."

Muhammad ibn al-Munkadir melanjutkan, "Fathimah binti Amr, bibinya Jabir, juga menangis. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda, 'Menangis atau pun tidak menangis, para malaikat selalu menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkatnya.' (HR. Bukhari Muslim)"

Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah bahwa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melihat kepadanya, lalu berkata, "Aku melihatmu kebingungan?"

Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, ayahku telah terbunuh. Ia meninggalkan utang dan keluarga."

Beliau bersabda, "Maukah kusampaikan kepadamu? Allah tidak akan berbicara kepada siapapun kecuali dari balik hijab. Sementara, Dia berbicara kepada ayahmu dengan berhadap-hadapan langsung. Dia berfirman (kepada ayahmu), 'Hai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberikan.' Ayahmu berkata, 'Aku mohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikanku ke dunia agar sekali lagi aku terbunuh di jalan-Mu.' Allah berfirman, 'Kutetapkan bahwa siapapun tak dapat dikembalikan ke dunia dan tak akan kembali.' Ayahmu kembali berkata, 'Wahai Tuhanku, sampaikan kepada orang-orang sesudahku.' Lalu Allah menurunkan firman-Nya,
Dan jangan sekali-kali engkau mengira orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. (QS. Al-Imran : 169)
Sungguh Abdullah ibn Amr telah mendapatkan kemuliaan yang besar. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam [] 

26.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #21 : Hijrah pertama ke Negeri Habasyah

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #21 : Hijrah pertama ke Negeri Habasyah

Ketika siksaan demi siksaan yang dilancarkan kaum Quraisy terhadap sahabat-sahabat terus berlangsung. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda, "Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri Habasyah, karena rajanya mengharamkan siapapun di dalam wilayahnya di zhalimi; negeri tersebut adalah negeri yang aman sampai Allah memberi solusi atas kalian!"

Sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengikuti apa yang diperintahkan dan bergegas pergi menuju negeri Habasyah karena khawatir terhadap penyiksaan-penyiksaan yang semakin membabi buta. Mereka lari kepada Allah dengan mambawa agama mereka. Inilah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.

Beberapa orang yang berhijrah ke Habasyah, mereka adalah 'Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, Muhajirin dari bani Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Sahlah binti Suhail, Az-Zubayr bin Awwam, Mush'ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah beserta istrinya, Ummu Salamah, Utsman bin Madz'un, dan Amir bin Rabi'ah, dan beberapa orang lainnya.

Ibnu Hisyam berkata : Mereka dipimpin oleh Utsman bin Madz'un seperti dikatakan sebagian orang berilmu kepadaku.

Kemudian Ja'far bin Abu Thalib berangkat menyusul ke bumi Habasyah. Kaum muslimin secara bertahap berhijrah ke Habasyah hingga mereka berkumpul disana. Ada yang berhijrah ditemani istrinya, ada pula yang sendirian.

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Hanzhalah : yang dimandikan Malaikat

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Hanzhalah : yang dimandikan Malaikat

Hanzhalah ibn Abu Amir Al-Rahib adalah sahabat Anshar dari suku Aus. Ia beriman dan mengikuti Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam tidak lama setelah beliau berhijrah ke Madinah. Ia dikenal sebagai pemimpin kaum yang memiliki banyak pengikut. Ayahnya, Abu Amir Al-Rahib tidak mengikuti jejaknya mengimani Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam; ia tetap musyrik.

Beberapa saat setelah Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam tiba di Madinah, Abu Amir Al-Rahib – nama aslinya adalah khalaf, bertanya kepada beliau, “Ajaran apa yang engkau bawa, wahai Muhammad?”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Ini adalah ajaran yang lurus; agama Ibrahim.”

Abu Amir Al-Rahib kemudian berkata, “Aku juga mengikuti ajaran tersebut.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Kau tidak termasuk di dalamnya.”

Abu Amir Al-Rahib kemudian berkata, “Engkau telah memasukkan ke dalam ajaran Ibrahim sesuatu yang bukan berasal dari ajarannya.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Aku tidak pernah melakukan itu. Aku datang membawa ajaran yang murni (tanpa ditambahi dan dikurangi).”

Abu Amir Al-Rahib kemudian berkata, “Demi Allah, orang yang dusta diantara kita akan terusir dan diasingkan.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Aamiin.”

Karena kehabisan argumen, Abu Amir Al-Rahib berkata dengan nada kesal, “Pasti aku akan bergabung dengan kelompok yang nantinya akan memerangimu. Aku akan berperang bersama mereka.”

Sebelum berpisah, Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjulukinya Al-Fasiq; julukan yang akan membuatnya tersiksa di Neraka. Sehingga setelahnya ia disebut sebagai Abu Amir Al-Fasiq.

Ternyata, Abu Amir Al-Fasiq bersungguh-sungguh dengan ucapannya, ia sering menemui Abu Jahal, memanas-manasinya agar semakin membenci Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam. Berbeda dengan ayahnya, Hanzhalah dikenal sebagai sahabat yang baik dan sangat mencintai Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, Ia tidak pernah menyakiti hati Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, kecuali sekali karena fitnah yang dilesatkan ayahnya. 

Ia mempunyai sahabat yang senasib dengan beliau, yaitu Abdullah ibn Abdillah ibn Ubay ibn Salul. Ia dan Abdullah bernasib sama lantaran ayahnya sama-sama tak mengikuti jejak mereka mengimani Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam; kedua orang tuanya sama-sama kafir.

Saat perang badar berkecamuk, pasukan musyrik dipimpin oleh Abu Jahal, didukung beberapa pemimpin musyrik lainnya seperti kedua anak Rabiah, yaitu Utbah dan Syaibah. Di antara mereka juga ada Al-Walid ibn Utbah, Aqabah ibn Abu Muhith dan Umayyah ibn Khalaf.

Dalam perang uhud, Abu Amir Al-Fasiq memimpin kaum musyrikin dari suku Aus untuk membantu suku Quraisy dan sekutu mereka. Singkat cerita, ketika kedua pasukan; kaum musyrikin dan muslimin, telah sampai di Uhud. Hanzhalah ikut serta di dalamnya, padahal ia tengah menikmati masa-masa manisnya sebagai pengantin baru. Tetapi, ketika ia mendengar seruan dari Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, ia memutuskan bahwa jihad di jalan Allah melawan kaum musyrik lebih penting disbanding istri, keluarga, dan segala urusan lainnya. Maka, ia bangkit dari peraduannya dan bergabung bersama barisan Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam.

Ketika perang berkecamuk, sedikit demi sedikit kaum muslim berhasil menekan barisan musuh dan menjatuhkan beberapa orang diantaranya. Tak sedikit pasukan musuh yang lari kocar-kacir meninggalkan senjata dan perbekalan mereka. Jelas sekali, kemenangan akan segera diraih oleh kaum muslim. Namun, tiba-tiba keadaan berubah. Pasukan musyrik merangsek kembali, menekan dan merusak kaum muslim. Tentu saja pasukan muslim terkejut mendapati situasi yang mendadak berubah. Tak sedikit mujahidin yang tumbang oleh senjata musuh.

Hal tersebut terjadi lantaran kelompok terpenting pasukan muslim tidak mematuhi perintah Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam sebagai komando tertinggi. Mereka –para pemanah- kalah oleh ketamakan mereka sendiri. Mereka tergiur oleh harta rampasan yang menggoda dan membuat mereka melanggar perintah. Saat mereka tengah sibuk memunguti sejumput ‘sampah’ itu, Khalid bin Walid –yang belum menjadi muslim- membekuk dari belakang dan memporak porandakan mereka.

Karena jatuhnya korban disana banyak, tersiar kabar bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam telah gugur. Kabar tersebut telah merusak barisan kaum muslimin dan menjatuhkan semangat mereka. Akibatnya banyak di antara mereka yang tumbang akibat serangan musuh, dan tidak sedikit pula yang terbunuh. Sebagian lainnya terus berperang meskipun semangat mereka telah jatuh menurun.

Sementara Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam yang dikabarkan gugur mengalami luka di tubuhnya; yaitu pada bibir, pipi, dan kening. Beliau diserang oleh dua musuh; dari sisi kanan oleh Ibn Qayimah, dan dari kiri oleh Utbah ibn Abu Waqash.

Setelah perang usai Abu Sufyan dan si fasiq keluar memeriksa korban yang tewas. Tiba-tiba mereka berhenti dekat jenazah Hanzhalah. Si Fasiq berkata, “Tahukan siapa orang ini, Abu Sufyan?”

Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

“Dia adalah Hanzhalah, anakku sendiri.” Kemudian, mereka memanggil semua orang untuk meninggalkan tempat itu sehingga jenazah Hanzhalah tidak ada yang mengurus. Semua syuhada telah dimakamkan kecuali Hanzhalah.

Ketika Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam mengetahui nasih Hanzalah, beliau bersabda, “Sesungguhya sahabat kalian itu dimandikan para malaikat. Tanyalah kepada keluarganya, bagaimana keadaannya?”

Sebagian orang bertanya kepada istrinya, dan ia menjawab, “Ketika mendengar panggilan berjihad, ia langsung pergi, padahal ia dalam keadaan junub.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam bersabda, “Karena itulah ia dimandikan oleh para malaikat.” Ucapan Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam itu cukup menjelaskan betapa luhur kedudukan Hanzhalah di sisi Allah serta di mata Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, dan seluruh kaum muslim.

Orang yang membunuh Hanzhalah adalah Syaddad ibn Al-Aswad yang dikenal dengan panggilan Ibn Sya’ub Al-Laitsi.

Semoga Allah merahmati Hanzhalah ibn Abu Amir.

Wallahu a’lam []

20.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #20 : Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Orang-Orang Lemah Yang Baru Memeluk Islam (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #20 : Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Orang-Orang Lemah Yang Baru Memeluk Islam.

Ibnu Ishaq berkata : Tatkala matahari sedang mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya yang semua telah masuk Islam ke padang pasir Mekah untuk disiksa. Pada saat mereka bertiga tengah di siksa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melewati mereka. Beliau bersabda seperti yang aku terima, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga" (HR. Al-Hakim, Baihaqi; sanadnya Hasan Shahih). Mereka membunuh Ummu Ammar karena tetap kokoh dan menolak kecuali Islam.

Abu Jahal; dialah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan orang-orang Quraisy. Jika mendengar ada orang yang mulia mendapat perlindungan masuk Islam, ia mencemooh dan mejelek-jelekkannya dengan mengatakan : "Engkau murtad dari agama ayahmu, padahal ayahmu lebih baik daripada engkau. Kami pasti menjelek-jelekkan mimpimu, tidak menerima pendapatmu, dan merusak kehormatanmu".

Jika orang tersebut pelaku bisnis, Abu Jahal akan berkata kepadanya : "Demi Allah, kami pasti membuat bisnismu bangkrut, dan kami hancurkan kekayaanmu". Jika orang tersebut adalah orang lemah, dia akan menyiksanya atau merayunya agar kembali murtad.

"Bagaimanakah bentuk penyiksaan orang-orang musyrikin terhadap sahabat-sahabat Rasulullah?" Abdullah bin Abbas berkata : "Demi Allah. Orang-orang Quraisy memukul salah satu dari sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, membuat mereka kelaparan dan kehausan hingga salah seorang dari mereka tak bisa berdiri tegak karenanya. Sampai-sampai orang Quraisy berkata kepadanya : "Al-Lata dan Al-Uzza adalah Tuhamnu, bukan Allah!"

Wallahu a'lam

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #20 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap orang-orang lemah yang baru memeluk Islam (1/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #20 : Perlakuan kaum Quraisy terhadap orang-orang lemah yang baru memeluk Islam.

Kaum Quraisy meneror orang-orang yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam. Setiap kabilah menangkap kaum Muslimin yang berada di kabilahnya kemudian memenjarakan mereka; menghajar, membiarkan lapar dan haus, menjemur mereka di padang pasir Mekah jika musim panas sedang membara. Mereka menyiksa orang lemah diantara kaum Muslimin.

Di antara kaum Muslimin ada yang putar lagi haluan bersebab cobaan yang didera terasa amat berat; tetapi ada pula yang tetap tegar, kuat, dan beriman. Allah melindungi mereka dari orang-orang Quraisy.

Bilal; adalah mantan budak Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu. Awalnya ia dalah budak salah seorang dari Bani Jumah dan dilahirkan di Bani Jumah. Dialah Bilal bin Rabah. Ibunya bernama Hamamah. Bilal masuk Islam dengan hati tulus; hatinya bersih.

Umayyah bin Khalaf bin Wahb mengeluarkannya ketika matahari sedang di puncak teriknya. Ia membaringkannya di atas padang pasir Mekah, kemudian memerintahkan untuk menindihkan batu besar di atas tubuh Bilal. Umayyah berkata : "Demi Allah, engkau akan berada dalam kondisi seperti ini hingga engkau mati dan engkau membelot dari Muhammad; menyembah Al-Lata dan Al-Uzza".

Menghadapi cobaan itu, Bilal berkata : "Ahad (Esa), Ahad (Esa)"

Ibnu Ishaq berkata : Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, ia berkata : "Saat Bilal tengah disiksa dan mengatakan, 'Ahad, Ahad,' Waraqah bin Naufal berjalan melewatinya dan berkata 'Demi Allah, Ahad, dan Ahad, Bilal'". Kemudian ia menemui Umayyah bin Khalaf lalu berkata : "Allah, jika Bilal kemudian mati di tempat ini, dalam kondisi seperti ini, pasti aku akan memberkati tempat kematiannya". Demikianlah terus terjadi sampai Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu berjalan melewati mereka.

Abu Bakar berkata : "Mengapa engkau tidak tahut kepada Allah dari menyiksa orang miskin ini? Hingga kapan engkau menyiksanya?"

Umayyah bin Khalaf berkata : "Engkaulah yang membuatnya rusak. Oleh karena itu, selamatkan dia jika engkau suka!"

Abu Bakar menjawab : "Boleh! aku mempunyai budak hitam yang lebih kuat dan kekar daripada dia; lebih fanatik berpegang dengan agamamu. Bilal milikku, budakku menjadi milikmu!". Umayyah bin Khalaf setuju dengan kesepakatan yang diberikan Abu Bakar. Bilal kemudian dimerdekakan olehnya.

Pra Hijrah, Abu Bakar telah memerdekakan enam budak, Bilal merupakan budak ke-7 yang dibebaskannya. Keenam budak tersebut adalah : Amir bin Fuhairah. Ia terlibat di perang uhud dan syahid di perang Bi'ru Maunah, Ummu Ubais, Zinnirah yang ketika Abu Bakar membebaskannya ia tengah dalam kondisi buta karena penyiksaan terhadapnya; orang-orang Quraisy berkata : "Matanya telah diambil Al-Lata dan Al-Uzza". Zinnirah berkata : "Demi Baitullah, mereka bohong. Al-Lata dan Al-Uzza hanyalah patung yang tak bisa apa-apa". Kemudian Allah mengembalikan penglihatannya.

Kemudian memerdekakan An-Nadhiyyah dan putrinya. Keduanya milik seorang wanita dari Bani Abduddar. Kemudian Abu Bakar berjalan melewati wanita Muslimah Bani Muammil di perkampungan Bani Adi bin Ka'ab. Ketika itu Umar bin Khattab --saat masih musyrik- tengah menyiksanya hingga dirinya kelelahan. Umar bin Khattab berkata : "Aku berhenti menyiksamu hanyalah karena kelelahan". Wanita itu menjawab : "Demikianlah Allah berbuat terhadap dirimu". Kemudian Abu Bakar membeli budak wanita tersebut dan memerdekakannya.

Abu Quhafah berkata kepada Abu Bakar : "Aku lihat engkau cenderung memerdekakan mereka yang lemah. Andai saja engkau memerdekakan budak-budak yang kuat, niscaya mereka siap untuk melindungimu". Abu Bakar berkata : "Wahai ayahanda, aku hanya melakukan apa yang Allah inginkan". Salah seorang dari keluarga Abu Bakar berkata bahwa Allah telah menurunkan ayat-ayat tengang Abu Bakar dan tentang ucapan ayahnya kepadanya. Allah berfirman,
Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. Sesungghnya kewajiban Kami-lah memberi petunjuk, dan sesungguhnya kepunyaan Kami-lah akhirat dan dunia. Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar benar mendapat kepuasan. (QS. Al-Lail : 5-21)
Bagian ke-2