300x250 AD TOP

27.1.15

Tagged under: ,

Amir ibn Fuhairah : Syahid yang diangkat ke Langit

jejakperadaban.com | Sejarah Sabahat Nabi
Amir ibn Fuhairah : Syahid yang diangkat ke Langit

Amir ibn Fuhairah adalah sahabat keturunan seorang budak. Ia sendiri menjadi budak Thufail ibn Abdullah ibn Sukhrabah --saudara siti 'Aisyah Ummul Mukminin. Amir masuk Islam ketika masih menjadi budak, ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam belum menjadikan Al-Arqam sebagai majelis ilmu dan pusat pergerakan dakwah. Setelah memeluk Islam, Abu Bakr membelinya dan memerdekakannya.

Dikisahkan bahwa Abu Bakr memiliki domba yang susunya diperas tiap hari untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mendapat izin dari Allah untuk berangkat hijrah, beliau berangkat menuju Madinah dikawani oleh Abu Bakr, di pinggiran Makkah. Singkat cerita mereka tengah bersembunyi di suatu gua. Selama bersembunyi di gua itu, pembantu Abu Bakr, yakni Amir ibn Fuhairah menggiring domba-domba ke arah gua, agar Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan Abu Bakr bisa mendapatkan susu domba.

Abdullah ibn Abu Bakr juga sering mengunjungi mereka di gua untuk menyampaikan kabar perihal suku Quraisy. Jika datang waktu subuh, Abdullah kembali ke Makkah. Amir menggiring domba-domba setiap malam tanpa diketahui siapa pun. Sementara 'Asma binti Abu Bakr bertugas membawakan makanan untuk mereka.

Setelah tiga malam bersembunyi di gua, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam dan Abu Bakr keluar didampingi Amir ibn Fuhairah yang selalu membantu melayani kebutuhan mereka.

Abdullah ibn Uraiqith, seorang musyrik, disewa untuk menjadi petunjuk jalan menuju Yastrib --Madinah kini. Tiba di Yastrib, Abu Bakr, Bilal, dan Amir menderita sakit. Namun, berkat izin Allah, mereka pulih dengan cepat.

Ketika 'Aisyah menanyakan sakitnya, Amir menjawab dengan lantunan syair sementara tubuhnya menggigil karena demam :
Telah kutemui kematian sebelum merasakannya. Sungguh rasa takut telah membunuhnya dari atas. Setiap orang adalah pejuang dengan segala potensinya, bagaikan gua Tsur yang melindungi dengan dindingnya.
'Aisyah menceritakan keadaan Amir kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, dan beliau berdoa, "Ya Allah, tumbuhkan cinta penduduk Madinah kepada kami sebagaimana Engkau tumbuhkan cinta Makkah kepada kami, bahkan lebihkanlah!"

Ketika Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mempersaudarakan kaum Anshar dengan Muhajirin, beliau mempersaudarakan al-Harits ibn al-Shamt dengan Amir ibn Fuhairah. Setelah menetap di Madinah, Amir berusaha agar senantiasa berada di dekat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, Ia tak pernah absen mengikuti berbagai peperangan bersamai kaum muslim, termasuk perang Badar dan Uhud.

Imam Abu Ja'far al-Thabari menuturkan sebuah kisah tentang bi'r ma'uunah, bahwa Abu Barra Amir ibn Malik ibn Ja'far (pemimpin Bani Amir ibn Sha'sha'ah datang menghadap Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam membawa beberapa hadiah. Namun, beliau, Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam enggan menerima hadiah yang dibawanya dan bersabda, "Hai, Abu Barra, aku tidak menerima hadiah dari seorang musyrik. Jika kau mau aku menerima hadiahmu, masuklah ke dalam Islam." Kemudian Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjelaskan beberapa aspek dari ajaran Islam. Abu Barra tidak menerimanya, namun tidak juga menolaknya. Ia berkata, "Muhammad, apa yang engkau dakwahkan ini memang sangat indah. Andai engkau mau mengutus beberapa orang kepada penduduk Nejed, mungkin mereka bersedia menerima ajakanmu."

Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam menjawab, "Aku khawatir utusanku di zalimi penduduk Nejed."

Abu Barra meyakinkan Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, "Aku akan mendampingi mereka. Utuslah mereka untuk mengajak manusia kepada ajaranmu." Maka setelah itu diutuslah al-Mundzir ibn Amr dari Bani Saidah bersama beberapa sahabat pilihan lain, termasuk al-Harits ibn al-Shamt, dan Amir ibn Fuhairah.

Dikabarkan, ketika mereka tiba di sumur bi'r ma'uunah mereka disergap oleh beberapa orang. Mereka yakin bahwa kematian sudah di depan mata, sehingga mereka memanjatkan do'a, "Ya Allah, saat ini kami tak menemukan siapapun yang dapat menghubungkan kami dengan Rasulullah selain Engkau. Maka, sampaikanlah salam kami! Ya Allah, sampaikanlah kepada Nabi-Mu bahwa kami telah berjumpa dengan-Mu, kami telah ridha kepada-Mu dan Engkau ridha kepada kami." Doa itu di-aamiin-ni langit dan disampaikan kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam.

Amir ibn Fuhairah terbunuh dalam peristiwa tersebut. Ia terbunuh oleh Jabbar ibn Sulma al-Thallabi. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Amir berkata, "Allah Mahabesar! Aku telah menang, Demi Tuhan penguasa Ka'bah." Jabbar sama sekali tak memahami perkataan tersebut sampai di hari kemudian Jabbar masuk Islam. Jabbar baru menyadari bahwa yang dimaksud kemenangan oleh Amir, seseorang yang dibunuhnya adalah kesyahidan.

Jabbar ibn Sulma menuturkan, "Salah satu jalan yang mengantarkanku kepada Islam adalah peristiwa bi'r ma'uunah, ketika aku membunuh salah seorang sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam yang diutus menuju Nejed. Sebelum ia hembuskan nafas terakhirnya sahabat itu berkata, 'Aku telah menang, demi Allah!' Aku bertanya-tanya dalam hati, 'Kemenangan seperti apakah yang didapatkannya? Bukankah aku telah membunuhnya?' Hingga peristiwa itu lama berlalu, dan aku masih bertanya-tanya tentang apa yang ia maksud dengan kemenangan, seseorang memerikan jawaban bahwa itulah kesyahidan.'"

Ibn al-Atsir menuturkan, Amir ibn al-Thufail bertanya kepada Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, "Siapakah orang yang ketika terbunuh engkau melihatnya diangkat antara langit dan bumi sehingga langit berada di bawahnya?"

Beliau bersabda, "Dialah Amir ibn Fuhairah." Semoga Allah merahmati dan menempatkannya bersama saudaranya al-Harits di tempat yang mulia.

Wallahu a'lam[]
Tagged under: ,

Abdullah ibn Amr Ibn Haram : Diajak bicara oleh Allah

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Abdullah ibn Amr Ibn Haram : Diajak bicara oleh Allah

Abdullah ibn Amr Ibn Haram adalah seorang sahabat Anshar dari suku Khazraj keturunan Bani Salimi. Ayahnya bernama Amr ibn Haram ibn Tsa'labah ibn Haram. Ia dipanggil dengan Abu Jabir karena punya anak bernama Jabir, yang kelak menjadi perawi hadits terkenal. Ia juga termasuk sahabat yang mengikuti baiat Aqabah kedua.

Abdullah ibn Amr ibn Haram termasuk dalam dua belas orang pimpinan yang dipilih saat Baiat Aqabah kedua. Bersama Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam ia mengikuti perang Badar dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Allah menumbangkan para pemimpin musyrik, seperti Abu Jahal, dua anak Rabiah, yakni Utbah dan Syaibah, al-Walid ibn Utbah, Umayyah ibn Khalaf, dan beberapa orang lainnya.

Sebelum berangkat untuk ikut serta pada perang Uhud, Abdullah ibn Amr ibn Haram berpesan kepada anaknya, "Wahai anakku, aku sudah mengira-ngira bahwa aku akan menjadi orang pertama yang gugur dalam perang ini. Demi Allah, setelah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tak ada seseorang pun yang aku cintai melainkan engkau. Jika aku punya utang maka bayarkan uangku, dan ajari saudara-saudaramu kebaikan!"

Itulah amanah yang ia katakan pada anaknya, Jabir sebelum ia berangkat menuju medan pertempuran Uhud. Kenyataannya memang benar, ia menjadi korban pertama dari pasukan Muslim. Pada saat itu tentara musyrik memotong hidung dan telinganya. Atas perintah Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam jenazahnya dimakamkan dalam satu liang bersama saudara iparnya, Amru ibn al-Jamuh.

Diriwayatkan dari Muhammad ibn al-Munkadir bahwa Jabir ibn Abdullah berkata, "Ayahku terbunuh pada perang Uhud. Aku terkejut ketika melihat jenazahnya, karena wajahnya rusak. Aku menangis. Semua orang melarangku menangis, tetapi Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam tidak melarangku."

Muhammad ibn al-Munkadir melanjutkan, "Fathimah binti Amr, bibinya Jabir, juga menangis. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda, 'Menangis atau pun tidak menangis, para malaikat selalu menaunginya dengan sayap-sayap mereka hingga kalian mengangkatnya.' (HR. Bukhari Muslim)"

Diriwayatkan dari Jabir ibn Abdullah bahwa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melihat kepadanya, lalu berkata, "Aku melihatmu kebingungan?"

Aku menjawab, "Wahai Rasulullah, ayahku telah terbunuh. Ia meninggalkan utang dan keluarga."

Beliau bersabda, "Maukah kusampaikan kepadamu? Allah tidak akan berbicara kepada siapapun kecuali dari balik hijab. Sementara, Dia berbicara kepada ayahmu dengan berhadap-hadapan langsung. Dia berfirman (kepada ayahmu), 'Hai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberikan.' Ayahmu berkata, 'Aku mohon kepada-Mu agar Engkau mengembalikanku ke dunia agar sekali lagi aku terbunuh di jalan-Mu.' Allah berfirman, 'Kutetapkan bahwa siapapun tak dapat dikembalikan ke dunia dan tak akan kembali.' Ayahmu kembali berkata, 'Wahai Tuhanku, sampaikan kepada orang-orang sesudahku.' Lalu Allah menurunkan firman-Nya,
Dan jangan sekali-kali engkau mengira orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. (QS. Al-Imran : 169)
Sungguh Abdullah ibn Amr telah mendapatkan kemuliaan yang besar. Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam [] 

26.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #21 : Hijrah pertama ke Negeri Habasyah

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #21 : Hijrah pertama ke Negeri Habasyah

Ketika siksaan demi siksaan yang dilancarkan kaum Quraisy terhadap sahabat-sahabat terus berlangsung. Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam bersabda, "Bagaimana kalau kalian berhijrah ke negeri Habasyah, karena rajanya mengharamkan siapapun di dalam wilayahnya di zhalimi; negeri tersebut adalah negeri yang aman sampai Allah memberi solusi atas kalian!"

Sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam mengikuti apa yang diperintahkan dan bergegas pergi menuju negeri Habasyah karena khawatir terhadap penyiksaan-penyiksaan yang semakin membabi buta. Mereka lari kepada Allah dengan mambawa agama mereka. Inilah hijrah pertama yang terjadi dalam Islam.

Beberapa orang yang berhijrah ke Habasyah, mereka adalah 'Utsman bin Affan beserta istrinya, Ruqayyah binti Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, Muhajirin dari bani Abdu Syams beserta istrinya yang bernama Sahlah binti Suhail, Az-Zubayr bin Awwam, Mush'ab bin Umair, Abdurrahman bin Auf, Abu Salamah beserta istrinya, Ummu Salamah, Utsman bin Madz'un, dan Amir bin Rabi'ah, dan beberapa orang lainnya.

Ibnu Hisyam berkata : Mereka dipimpin oleh Utsman bin Madz'un seperti dikatakan sebagian orang berilmu kepadaku.

Kemudian Ja'far bin Abu Thalib berangkat menyusul ke bumi Habasyah. Kaum muslimin secara bertahap berhijrah ke Habasyah hingga mereka berkumpul disana. Ada yang berhijrah ditemani istrinya, ada pula yang sendirian.

Wallahu a'lam
Tagged under: ,

Hanzhalah : yang dimandikan Malaikat

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Hanzhalah : yang dimandikan Malaikat

Hanzhalah ibn Abu Amir Al-Rahib adalah sahabat Anshar dari suku Aus. Ia beriman dan mengikuti Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam tidak lama setelah beliau berhijrah ke Madinah. Ia dikenal sebagai pemimpin kaum yang memiliki banyak pengikut. Ayahnya, Abu Amir Al-Rahib tidak mengikuti jejaknya mengimani Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam; ia tetap musyrik.

Beberapa saat setelah Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam tiba di Madinah, Abu Amir Al-Rahib – nama aslinya adalah khalaf, bertanya kepada beliau, “Ajaran apa yang engkau bawa, wahai Muhammad?”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Ini adalah ajaran yang lurus; agama Ibrahim.”

Abu Amir Al-Rahib kemudian berkata, “Aku juga mengikuti ajaran tersebut.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Kau tidak termasuk di dalamnya.”

Abu Amir Al-Rahib kemudian berkata, “Engkau telah memasukkan ke dalam ajaran Ibrahim sesuatu yang bukan berasal dari ajarannya.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Aku tidak pernah melakukan itu. Aku datang membawa ajaran yang murni (tanpa ditambahi dan dikurangi).”

Abu Amir Al-Rahib kemudian berkata, “Demi Allah, orang yang dusta diantara kita akan terusir dan diasingkan.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjawab, “Aamiin.”

Karena kehabisan argumen, Abu Amir Al-Rahib berkata dengan nada kesal, “Pasti aku akan bergabung dengan kelompok yang nantinya akan memerangimu. Aku akan berperang bersama mereka.”

Sebelum berpisah, Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam menjulukinya Al-Fasiq; julukan yang akan membuatnya tersiksa di Neraka. Sehingga setelahnya ia disebut sebagai Abu Amir Al-Fasiq.

Ternyata, Abu Amir Al-Fasiq bersungguh-sungguh dengan ucapannya, ia sering menemui Abu Jahal, memanas-manasinya agar semakin membenci Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam. Berbeda dengan ayahnya, Hanzhalah dikenal sebagai sahabat yang baik dan sangat mencintai Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, Ia tidak pernah menyakiti hati Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, kecuali sekali karena fitnah yang dilesatkan ayahnya. 

Ia mempunyai sahabat yang senasib dengan beliau, yaitu Abdullah ibn Abdillah ibn Ubay ibn Salul. Ia dan Abdullah bernasib sama lantaran ayahnya sama-sama tak mengikuti jejak mereka mengimani Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam; kedua orang tuanya sama-sama kafir.

Saat perang badar berkecamuk, pasukan musyrik dipimpin oleh Abu Jahal, didukung beberapa pemimpin musyrik lainnya seperti kedua anak Rabiah, yaitu Utbah dan Syaibah. Di antara mereka juga ada Al-Walid ibn Utbah, Aqabah ibn Abu Muhith dan Umayyah ibn Khalaf.

Dalam perang uhud, Abu Amir Al-Fasiq memimpin kaum musyrikin dari suku Aus untuk membantu suku Quraisy dan sekutu mereka. Singkat cerita, ketika kedua pasukan; kaum musyrikin dan muslimin, telah sampai di Uhud. Hanzhalah ikut serta di dalamnya, padahal ia tengah menikmati masa-masa manisnya sebagai pengantin baru. Tetapi, ketika ia mendengar seruan dari Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, ia memutuskan bahwa jihad di jalan Allah melawan kaum musyrik lebih penting disbanding istri, keluarga, dan segala urusan lainnya. Maka, ia bangkit dari peraduannya dan bergabung bersama barisan Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam.

Ketika perang berkecamuk, sedikit demi sedikit kaum muslim berhasil menekan barisan musuh dan menjatuhkan beberapa orang diantaranya. Tak sedikit pasukan musuh yang lari kocar-kacir meninggalkan senjata dan perbekalan mereka. Jelas sekali, kemenangan akan segera diraih oleh kaum muslim. Namun, tiba-tiba keadaan berubah. Pasukan musyrik merangsek kembali, menekan dan merusak kaum muslim. Tentu saja pasukan muslim terkejut mendapati situasi yang mendadak berubah. Tak sedikit mujahidin yang tumbang oleh senjata musuh.

Hal tersebut terjadi lantaran kelompok terpenting pasukan muslim tidak mematuhi perintah Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam sebagai komando tertinggi. Mereka –para pemanah- kalah oleh ketamakan mereka sendiri. Mereka tergiur oleh harta rampasan yang menggoda dan membuat mereka melanggar perintah. Saat mereka tengah sibuk memunguti sejumput ‘sampah’ itu, Khalid bin Walid –yang belum menjadi muslim- membekuk dari belakang dan memporak porandakan mereka.

Karena jatuhnya korban disana banyak, tersiar kabar bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam telah gugur. Kabar tersebut telah merusak barisan kaum muslimin dan menjatuhkan semangat mereka. Akibatnya banyak di antara mereka yang tumbang akibat serangan musuh, dan tidak sedikit pula yang terbunuh. Sebagian lainnya terus berperang meskipun semangat mereka telah jatuh menurun.

Sementara Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam yang dikabarkan gugur mengalami luka di tubuhnya; yaitu pada bibir, pipi, dan kening. Beliau diserang oleh dua musuh; dari sisi kanan oleh Ibn Qayimah, dan dari kiri oleh Utbah ibn Abu Waqash.

Setelah perang usai Abu Sufyan dan si fasiq keluar memeriksa korban yang tewas. Tiba-tiba mereka berhenti dekat jenazah Hanzhalah. Si Fasiq berkata, “Tahukan siapa orang ini, Abu Sufyan?”

Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”

“Dia adalah Hanzhalah, anakku sendiri.” Kemudian, mereka memanggil semua orang untuk meninggalkan tempat itu sehingga jenazah Hanzhalah tidak ada yang mengurus. Semua syuhada telah dimakamkan kecuali Hanzhalah.

Ketika Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam mengetahui nasih Hanzalah, beliau bersabda, “Sesungguhya sahabat kalian itu dimandikan para malaikat. Tanyalah kepada keluarganya, bagaimana keadaannya?”

Sebagian orang bertanya kepada istrinya, dan ia menjawab, “Ketika mendengar panggilan berjihad, ia langsung pergi, padahal ia dalam keadaan junub.”

Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam bersabda, “Karena itulah ia dimandikan oleh para malaikat.” Ucapan Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam itu cukup menjelaskan betapa luhur kedudukan Hanzhalah di sisi Allah serta di mata Rasulullah shalallaahu ‘alayhi wasallaam, dan seluruh kaum muslim.

Orang yang membunuh Hanzhalah adalah Syaddad ibn Al-Aswad yang dikenal dengan panggilan Ibn Sya’ub Al-Laitsi.

Semoga Allah merahmati Hanzhalah ibn Abu Amir.

Wallahu a’lam []

20.1.15

Tagged under: ,

Sirah Nabawi #20 : Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Orang-Orang Lemah Yang Baru Memeluk Islam (2/2)

Sejarah Nabi Muhammad Lengkap
jejakperadaban.com | Sirah Nabawi
Sirah Nabawi #20 : Perlakuan Kaum Quraisy Terhadap Orang-Orang Lemah Yang Baru Memeluk Islam.

Ibnu Ishaq berkata : Tatkala matahari sedang mencapai puncak panasnya, Bani Makhzum membawa Ammar bin Yasir, ayah, dan ibunya yang semua telah masuk Islam ke padang pasir Mekah untuk disiksa. Pada saat mereka bertiga tengah di siksa Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam melewati mereka. Beliau bersabda seperti yang aku terima, "Sabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah Surga" (HR. Al-Hakim, Baihaqi; sanadnya Hasan Shahih). Mereka membunuh Ummu Ammar karena tetap kokoh dan menolak kecuali Islam.

Abu Jahal; dialah yang mencemooh kaum Muslimin di kalangan orang-orang Quraisy. Jika mendengar ada orang yang mulia mendapat perlindungan masuk Islam, ia mencemooh dan mejelek-jelekkannya dengan mengatakan : "Engkau murtad dari agama ayahmu, padahal ayahmu lebih baik daripada engkau. Kami pasti menjelek-jelekkan mimpimu, tidak menerima pendapatmu, dan merusak kehormatanmu".

Jika orang tersebut pelaku bisnis, Abu Jahal akan berkata kepadanya : "Demi Allah, kami pasti membuat bisnismu bangkrut, dan kami hancurkan kekayaanmu". Jika orang tersebut adalah orang lemah, dia akan menyiksanya atau merayunya agar kembali murtad.

"Bagaimanakah bentuk penyiksaan orang-orang musyrikin terhadap sahabat-sahabat Rasulullah?" Abdullah bin Abbas berkata : "Demi Allah. Orang-orang Quraisy memukul salah satu dari sahabat Rasulullah shalallaahu 'alayhi wasallaam, membuat mereka kelaparan dan kehausan hingga salah seorang dari mereka tak bisa berdiri tegak karenanya. Sampai-sampai orang Quraisy berkata kepadanya : "Al-Lata dan Al-Uzza adalah Tuhamnu, bukan Allah!"

Wallahu a'lam