300x250 AD TOP

24.3.15

Tagged under: ,

Abu Hurairah : Otaknya menjadi pembendaharaan wahyu

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Abu Hurairah : Otaknya menjadi pembendaharaan wahyu

Memang benar, bahwa kepintaran manusia itu mempunyai akibat yang merugikan dirinya sendiri. Dan orang-orang yang mempunyai bakat-bakat istimewa, banyak yang harus membayar mahal, justru pada waktu ia patut menerima ganjaran dan penghargaan.

Shahabat mulia Abu Hurairah termasuk salah seorang dari mereka. Sungguh, dia mempunyai bakat luar biasa dalam kemampuan dan kekuatan ingatan/ Abu Hurairah r.a. mempunyai kelebihan dalam seni menangkap apa yang didengarnya, sedang ingatannya mempunyai keistimewaan dalam segi menghafal dan menyimpan. Didengarya, ditampungnya, lalu terpatri dalam ingatannya hingga dihafalkannya, hampir tak pemah ia melupakan satu kata atau satu huruf pun dari apa yang telah didengarnya, sekalipun usia bertambah dan masa pun telah berganti-ganti. Oleh karena itulah, ia telah mewakafkan hidupnya untuk lebih banyak mendampingi Rasulullah saw. sehingga termasuk yang terbanyak menerima dan menghafal Hadits, serta meriwayatkannya.

Sewaktu datang masa pemalsu-pemalsu hadits yang dengan sengaja menciptakan hadits-hadits bohong dan palsu, seolah-olah berasal dari Rasulullah saw. mereka memperalat nama Abu Hurairah dan menyalahgunakan ketenaranya dalam meriwayatkan Hadits dari Nabi saw., hingga sering mereka mengeluarkan sebuah "hadits", dengan menggunakan kata-kata: "Berkata Abu Hurairah... "

Dengan perbuatan ini hampir-hampir mereka menyebabkan ketenaran Abu Hurairah dan kedudukannya selaku penyampai Hadits dari Nabi saw. menjadi lamunan keragu-raguan dan tanda tanya, kalaulah tidak ada usaha dengan susah payah dan ketekunan yang luar biasa, serta banyak waktu yang telah di habiskan oleh tokoh-tokoh utama para ulama Hadits yang telah membaktikan hidup mereka untuk berhidmat kepada Hadits Nabi dan menyingkirkan setiap tambahan yang dimasukkan ke dalamnya.

Di sana Abu Hurairah berhasil lolos dari jaringan kepalsuan dan penambahan-penambahan yang sengaja hendak diselundupkan oleh kaum perusak ke dalam Islam, dengan mengkambing hitamkan Abu Hurairah dan membebankan dosa dan kejahatan mereka kepadanya.

***

Ia adalah salah seorang yang menerima pantulan revolusi Islam, dengan segala perubahan mengagumkan yang diciptakannya. Dari orang upahan menjadi induk semang atau majikan.

Dari seorang yang terlunta-lunta di tengah-tengah lautan manusia, menjadi imam dan ikutan; Dan dari seorang yang sujud di hadapan batu-batu yang disusun, menjadi orang yang beriman kepada Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Inilah dia sekarang bercerita dan berkata:

"Aku dibesarkan dalam keadaan yatim, dan pergi hijrah dalam keadaan miskin. Aku menerima upah sebagai pembantu pada Busrah binti Ghazwan demi untuk mengisi perutku. Akulah yang melayani keluarga itu bila mereka sedang menetap; menuntun binatang tunggangannya bila sedang bepergian. Sekarang inilah aku, Allah telah menikahkanku dengan putri Busrah, maka segala puji bagi Allah yang telah menjadikan Agama ini tiang penegak, dan menjadikan Abu Hurairah ikutan ummat!"

***

Ia datang kepada Nabi saw. di tahun ke tujuh Hijrah sewaktu beliau berada di Khaibar. Ia memeluk Islam karena dorongan kecintaan dan kerinduan. Semenjak ia bertemu dengan Nabi saw. dan berbai'at kepadanya, hampir-hampir ia tidak berpisah lagi kecuali pada saat-saat waktu tidur. Begitulah, masa empat tahun yang dilaluinya bersama Rasulullah saw., yakni sejak ia masuk islam sampai wafatnya Nabi, pergi ke sisi Yang Maha Tinggi.

"Waktu yang empat tahun itu tak ubahnya bagai suatu usia manusia yang panjang lebar, penuh dengan segala yang baik, dari perkataan, sampai kepada perbuatan dan pendengaran."

***

Dengan fitrahnya yang kuat, Abu Hurairah mendapat kesempatan besar yang memungkinkannya untuk memainkan peranan penting dalam berbakti kepada Agama Allah.

Pahlawan perang dikalangan shahabat, banyak...
Ahli fiqih, juru da'wah dan para guru juga tidak sedikit.

Tetapi lingkungan dan masyarakat memerlukan tulisan dan penulis. Di masa itu golongan manusia pada umumnya, jadi bukan hanya terbatas pada bangsa Arab saja, tidak mementingkan tulis menulis. Dan tulis menulis itu belum menjadi bukti kemajuan di masyarakat manapun.

Bahkan Eropa sendiri juga demikian keadaannya, sejak kurun waktu yang belum lama ini. Kebanyakan dari raja-rajnya, tidak terkecuali Charlemagne sebagai tokoh utamanya, adalah orang-orang yang buta huruf, tak tahu tulis baca, padahal menurut ukuran masa itu, mereka memiIiki kecerdasan dan kemampuan besar.

***

Kembali kita pada pembicaraan untuk melihat Abu Hurairah, bagaimana ia dengan fitrahnya dapat menyelami kebutuhan masyarakat baru yang dibangun oleh Islam, yaitu kebutuhan akan orang-orang yang dapat melihat dan memelihara peninggalan dan ajaran-ajaran Rasulullah saw. Pada waktu itu memang para shahabat mampu menulis, tetapi jumlah mereka sedikit sekali, apalagi sebagiannya tak mempunyai kesempatan untuk mencatat Hadits-hadits yang diucapkan oleh Rasul.

Sebenamya Abu Hurairah bukanlah seorang penulis, ia hanya seorang ahli hafal yang mahir, di samping memiliki kesempatan atau mampu mengadakan kesempatan yang diperlukan itu, karena ia tak punya tanah yang akan digarap, dan tidak punya perniagaan yang akan diurus.

Ia pun menyadari bahwa dirinya termasuk orang yang masuk Islam belakangan, maka ia bertekad untuk mengejar ketinggalannya, dengan cara mengikuti Rasul terus menerus dan secara tetap menyertai majlisnya. Kemudian disadarinya pula, ada bakat pemberian Allah ini pada dirinya, berupa daya ingatannya yang luas dan kuat, serta semakin bertambah kuat, tajam dan luas lagi dengan do'a Rasul, agar pemilik bakat ini diberi Allah berkat.

Ia menyiapkan dirinya dan menggunakan bakat dan kemampuan karunia Ilahi untuk memikul tanggung jawab dan memelihara peninggalan yang sangat penting ini dan mewariskannya kepada generasi kemudian.

Begitulah ia mempermahir dirinya dan ketajaman daya ingatnya untuk menghafal Hadits-hadits Rasulullah saw. dan pengarahannya. Sewaktu Rasul telah pulang ke Rafikul'Ala (wafat), Abu Hurairah terus-menerus menyampaikan Hadits hadits, yang menyebabkan sebagian shahabatnya merasa heran sambil bertanya-tanya di dalam hati, dari mana datangnya hadits-hadits ini, kapan didengarya dan diendapkannya dalam ingatannya.

Abu Hurairah telah memberikan penjelasan untuk menghilangkan kecurigaan ini, dan menghapus keragu-raguan yang menulari putra shahabatnya, maka katanya, "Tuan-tuan telah mengatakan bahwa Abu Hurairah banyak sekali mengeluarkan Hadits dari Nabi saw. Dan tuan-tuan katakan pula orang-orang Muhajirin yang lebih dahulu daripadanya masuk Islam, tak ada yang menceritakan hadits-hadits itu? Ketahuilah, bahwa sahabat-sahahabatku, orang-orang Muhajirin itu, sibuk dengan perdagangan mereka di pasar-pasar, sedang sahabat-sahabatku, orang-orang Anshar sibuk degan tanah pertanian mereka. Sedang aku adalah seorang miskin, yang paling banyak menyertai majlis Rasulullah, maka aku hadir sewaktu yang lain absen dan aku selalu ingat seandainya mereka lupa karena kesibukan.

Dan Nabi saw. pernah berbicara kepada kami di suatu hari, kata beliau:

'Siapa yang membentangkan sorbannya hingga selesai pembicraanku, kemudian ia meraihnya ke dirinya, maka ia takkan terlupa akan suatu pun dari apa yang telah didengarya dari padaku,'

Maka kuhamparkan kainku, lalu beliau berbicara kepadaku, kemudian kuraih kain itu ke diriku, dan demi Allah, tak ada suatu pun yang terlupa bagiku dari apa yang telah kudengar daripadanya. Demi Allah kalau tidaklah karena adanya ayat di dalam Kitabullah niscaya tidak akan kukabarkan kepada kalian sedikit jua pun! Ayat itu ialah:

'Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, sesudah Kami nyatakan kepada manusia di dalam Kitab mereka itulah yang dikutuk oleh Allah dan dikutuk oleh para pengutuk (Malaikat-malaikat)'"

Demikianlah Abu Hurairah menjelaskan rahasia kenapa hanya ia seorang diri yang banyak mengeluarkan riwayat dari Rasulullah saw.

Yang pertama: karena ia melowongkan waktu untuk menyertai Nabi lebih banyak dari para shahabat lainnya.

Kedua, karena ia memiliki daya ingatan yang kuat, yang telah diberi berkat oleh Rasul, hingga ia jadi semakin kuat.

Ketiga, ia menceritakannya bukan karena ia gemar bercerita, tetapi karena keyakinan bahwa menyebarluaskan hadits-hadits ini, merupakan tanggung jawabnya terhadap Agama dan hidupnya. Kalau tidak dilakukannya berarti ia menyembunyikan kebaikan dan haq, dan termasuk orang yang lalai yang sudah tentu akan menerima hukuman kelalaiannya.

Oleh sebab itulah, ia harus saja memberitakan. Tak suatupun yang menghalanginya dan tak seorang pun boleh melarangnya hingga pada suatu hari Amirul Mu'minin Umar berkata kepadanya: "Hendaklah kamu hentikan menyampaikan berita dari Rasulullah! Bila tidak, maka akan kukembalikan kau ke tanah Daus!" (yaitu tanah kaum dan keluarganya).

Tetapi larangan ini tidaklah mengandung suatu tuduhan bagi Abu Hurairah, hanyalah sebagai pengukuhan dari suatu pandangan yang dianut oleh Umar, yaitu agar orang-orang Islam dalam jangka waktu tersebut, tidak membaca dan menghafalkan yang lain, kecuali al-Quran sampai ia melekat dan mantap dalam hati sanubari dan pikiran.

Oleh karena ini, Umar berpesan: "Sibukkanlah dirimu dengan Al-Quran karena dia adalah kalam Allah". Dan katanya lagi: "Kurangilah olehmu meriwayatkan perihal Rasulullah kecuali yang mengenai amal perbuatannya!"

Dan sewaktu beliau mengutus Abu Musa al-Asy'ari ke Irak ia berpesan kepadanya: "Sesungguhnya kamu hendak mendatangi suatu kaum yang dalam mesjid mereka terdengar bacaan al-Quran seperti suara lebah, maka biarkanlah seperti itu dan jangan anda bimbangkan mereka  adengan hadits-hadits, dan aku menjadi pendukung anda dalam hal ini."

Al-Quran sudah dihimpun dengan jalan yang sangat cermat, hingga terjamin keasliannya tanpa dirembesi oleh hal-hal lainnya. Adapun hadits, maka umar tidak dapat menjamin bebasnya dari pemalsuan atau perubahan atau diambilnya sebagai alat untuk mengada-ada terhadap Rasulullah saw. dan merugikan Agama Islam.

Abu Hurairah menghargai pandangan Umar, tetapi ia juga percaya terhadap dirinya dan teguh memenuhi amanat, hingga ia tak hendak menyembunyikan suatu pun dari Hadits dan ilmu selama diyakininya bahwa menyembunyikannya adalah dosa dan kejahatan.

Demikianlah, setiap ada kesempatan untuk menumpahkan isi dadanya berupa Hadits yang pernah didengar dan ditangkapnya tetap saja disampaikan dan dikatakannya.

Hanya terdapat pula suatu hal yang merisaukan, yang menimbulkan kesulitan bagi Abu Hurairah ini, karena seringnya ia bercerita dan banyaknya Hadits yang ia hafal, yaitu adanya tukang hadits yang lain yang menyebarkan Hadits-hadits dari Rasul saw. dengan menambah-nambah dan melebih-lebihkan hingga para sahabat tidak merasa puas terhadap sebagian besar dari Hadits-haditsnya. Orang itu namanya Ka'ab al-ahbaar, seorang Yahudi yang masuk Islam.

Pada suatu hari Marwan bin Hakam bermaksud menguji kemampuan menghafal dari Abu hurairah. Maka dipanggilnya ia dan dibawanya duduk bersamanya, lalu dimintanya untuk mengabarkan hadits-hadits dari Rasusullah saw. Sementara itu disuruhnya penulis, menuliskan apa yang diceritakan Abu Hurairah dari balik dinding. Sesudah berlalu satu tahun, dipanggilnya Abu Hurairah kembali dan dimintanya membacakan lagi Hadits-hadits yang dulu itu yang telah ditulis sekretarisnya. Ternyata tak ada yang terlupa oleh Abu Hurairah walau agak sepatah kata pun.

Ia berkata tentang dirinya: "Tak ada seorang pun dari sahabat-sahabat Rasul yang lebih banyak menghafal Hadits dari padaku, kecuali Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, karena ia pandai menuliskannya sedang aku tidak."

Imam Syafi'i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: "la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya."

Sementara Imam Bukhari menyatakan pula: "Ada delapan ratus orang atau lebih dari sahabat tabi'in dan ahli ilmu yang meriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah."

Demikianlah Abu hurairah tak ubah bagai suatu perpustakaan besar yang telah ditaqdirkan kelestarian dan keabadiannya.

Wallahu a'lam.
Semoga Allah merahmatinya.[]

23.3.15

Tagged under: ,

Mush'ab ibn Umair : Jika bagian kepala (jenazahnya) ditutupi, kakinya terlihat; pun sebaliknya.

Sejarah Sahabat Nabi | jejakperadaban.com
Mush'ab ibn Umair : Jika bagian kepala (jenazahnya) ditutupi, kakinya terlihat; pun sebaliknya.

Mush'ab ibn Umair adalah salah seorang sahabat dari suku Quraisy keturunan Bani Abdari. Ayahnya bernama Umair ibn Hasyim dan ibunya bernama Khunas bint Malik --ibu yang sangat dicintainya yang kemudian serig menekan dan menyiksanya setelah Mush'ab masuk Islam.

Ibunya dikenal sebagai wanita kaya raya. Bahkan, ia tak perlu pikir panjang jika anaknya, Mush'ab meminta sesuatu darinya. Pasti dikehdak-penuhi. Sehingga, pada saat itu Mus'ab dikenal sebagai seorang yang selalu tampil rapi dan wangi, melebihi orang Quraisy pada umumnya. Bahkan, kehadiran pemuda necis ini akan diketahui dari jarak beberapa jauh karena parfum yang diresapkan pada dirinya dapat tercium.

Namun, keadaan itu berubah 180 derajat ketika ia memeluk agama Allah swt. dan meninggalkan aqidah syiriknya. Pada awalnya ia mengunjungi rumah Al-Arqam ibn Abu al-Arqam untuk mendengarkan penuturan Rasulullah saw. tentang Islam. Ketertarikannya itulah yang membawanya memeluk Islam.

Seperti diceritakan sebelumnya, kehidupan Mush'ab sangatlah serba berkecukupan, jauh dari kesulitan, itupun masih terjadi selama ke-Islam-man nya masih dirahasiakan. Tetapi, ketika Utsman ibn Thalhah mengetahui rahasianya dan menceritakan perihal tersebut kepada Khunas, ibu Muhs'ab, yang kemudian secara seketika Khunas mengancam akan menghentikan kucuran harta yang selalu dialirkan pada Mush'ab. Tetapi Mush'ab tetap teguh kepada keimanan yang telah ia pancangkan sekarang. Ibunya tidak tahu bahwa harta takkan bisa mengalahkan kebahagiaan yang dialami Mush'ab ketika menganut Islam.

Akhirnya, Khunas mengurung putranya itu di sebuah ruangan sempit agar ia mau meninggalkan Agama Muhammad saw. Namun, suatu hari penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi ruangan tersebut lalai sehingga Mush'ab dapat meloloskan diri, lalu bergegas menemui Rasulullah saw. walaupun harus meninggalkan segala kekayaannya.

Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin makin menegang, Rasulullah saw. memerintakan para sahabatnya untuk berhijrah ke Absinia (Habasy) agar mereka dapat beribadah dengan tenang; Mush'ab termasuk salah satu di dalamnya.

Mendengar selentingan bahwa seluruh penduduk Mekkah sudah memeluk Islam seluruhnya, mereka memutuskan untuk kembali ke Mekkah, hingga saat sedang di perjalanan didapati bahwa kabar tersebut adalah bohong. Maka sebagian dari sahabat kembali ke Absinia, dan sebagian lagi tetap melanjutkan ke Mekkah dan meminta perlindungan kepada sanak keluarga mereka secara diam-diam. Mush'ab sendiri memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah karena rasa rindu kepada Rasulullah saw.

Tiba di Mekkah, Mush'ab langsung menemui Rasulullah saw. dan duduk bersama sahabat dengan mengenakan pakaian yang telah lusuh (ada yang mengatakan pakaian yang terbuat dari kulit domba).

Sahabat terkejut melihat penampilan Mush'ab, seorang pemuda necis yang selalu tampil rapi dan parfum yang selalu tercium dari jarak beberapa jauh, kini tampil hanya dengan pakaian yang telah lusuh, pemandangan itu ternyata membuat beberapa sahabat menitikkan air mata.

Rasulullah saw. bersabda, "Mush'ab rela meninggalkan segala kenikmatan dan kemewahan hidup di sisi orang tuanya semata-mata adalah karena Allah dan Rasul-Nya."

Sungguh pakaian lusunya kelak akan diganti dengan pakaian yang jauh lebih mewah dan mulia.

Bintang Mush'ab benderang sejak peristiwa baiat Aqabah pertama, yang kala itu dua belas orang Yatsrib datang menghadap Rasulullah saw. untuk menyatakan ke-Islam-man mereka. Setelah berbaiat mereka meminta Rasulullah saw. untuk mengutus salah seorang -- dari yang telah berislam, untuk menyertai mereka ke Yatsrib; mengajarkan  Islam dan membacakan ayat-ayar suci. Mush'ab dipilih oleh Rasulullah saw. untuk mengemban tugas yang mulia itu.

Di Yatsrib, Mush'ab dikenal dengan sebutan Al-Safir Al-Muqri (Pengembara yang membacakan Al-Qur'an)

Mush'ab mengajarkan islam dengan dakwah sembunyi-sembunyi; menjaga agar pemuka Yatsrib tak merasa dihinakan. Dengan gerakan dakwah yang nyaris tiada kentara, semakin banyak penduduk Yatsrib yang menyatakan ke-Islam-man mereka. Apalagi setelah dua orang pemuka mereka Sa'd ibn Muaz dan Usaid ibn Khudhair juga menyatakan bahwa mereka menjadi Muslim.

Rasulullah tidak pernah benar-benar meninggalkan Mush'ab untuk berdakwah sorang diri. Beliau saw. kerap mengirimi surat tentang apaapa saja yang harus Mush'ab lakukan di Yatsrib. Seperti pada sebuah surat yang dikirimkan, yang bertuliskan, "Perhatikanlah hari yang di dalamnya orang Yahudi membuat keramaian untuk tradisi Sabat mereka. Jika matahari telah tergelincir, menghadaplah kepada ALlah dengan mendirikan shalat dua rakaat dan sampaikanlah khutbah kepada mereka."

Untuk melaksanakan perintah Rasulullah saw. itu, Mush'ab mengumpulkan kaum Muslimin yang saat itu baru berjumlah dua belas orang, di rumah Sa'd Khaitsamah. Itulah shalat jum'at pertama yang didirikan kaum Muslimin sebelum Nabi sendiri melaksanakannya dan sebelum surat al-Jumu'ah diturunkan.

Setelah Rasulullah hijrah ke Yatsrib (Madinah), kaum Muslimin mulai berusaha mengokohkan posisi mereka di antara bangsa-bangsa Arab, dan terlibat dalam beberapa perang kecil maupun besar. Tidak lama, kurang lebih delapan bulan setelah hijrah, kaum Muslimin terlibat peperangan melawan kaum Musyrik di Badar Mush'ab menjadi salah satu jundi dalam perang itu. Para perang berikutnya, yaitu perang Uhud, Mush'an ditugaskan membawa panji Rasulullah saw. Ia gugur sebagai syahid dalam perang tersebut akibat serangan Qamiah al-Laitsi. Ketika hendak dimakamkan, Mush'ab hanya mengenakan pakaian yang sangat pendek, yang jika ditarik untuk menutupi bagian kepalanya maka bagian kakinya terlihat; pun sebaliknya. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Tutupilah kepalanya! Dan tutupi bagian kakinya dengan ilalang."

Pada saat itu turun firman Allah:

Di antara orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)."

Semoga Allah merahmatinya.[] 

23.2.15

Tagged under: , ,

Umair ibn al-Humam : Berlomba mencapai syahid

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Umair ibn al-Humam : Berlomba mencapai syahid.

Umair ibn al-Humam seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar keturunan Bani Sulami. Setelah Rasulullah saw. tiba di Yatsrib, beliau mengubah nama kota itu menjadi Madinah dan mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar serta memerintahkan pembangunan Masjid Nabawi. Umair ibn al-Humam al-Anshari dipersaudarakan dengan Ubaidah ibn al-Harits.

Saat terjadi perang Badar, Umair dan Ubaidah ikut serta bersama Nabi saw. memerangi kaum musyrik. Menurut kebiasaan waktu itu, jika kedua pasukan sudah berhadap-hadapan, maka mereka akan melakukan perang tanding terlebih dahulu sebelum perang sebenarnya dimulai. Tiga orang musyrik maju di antara dua barisan, yaitu Utbah ibn Rabiah, al-Walid ibn Utbah, dan Syaibah ibn Rabiah. Mereka menantang kaum muslimin untuk berduel. Maka, tiga pemuda Anshar maju untuk meladeni tantangan mereka. Kereka mereka memperkenalkan diri, pihak musyrik berkata, "Kami tak punya urusan dengan kalian."

Lalu, kafir Quraisy itu kembali menyerukan dengan lantang, "Wahai Muhammad, perintahkanlah tiga orang dari kaum kami (Muhajirin) yang pantas menghadapi kami!"

Kemudian Nabi saw. memerintahkan kepada Ubaidah, Hamzah, dan Ali untuk meladeni mereka. Ketika mereka telah berhadap-hadapan, kaum musyrik itu berkata, "Siapa kalian?"

Ubaidah menjawab, "Ubaidah."
Hamzah berkata, "Hamzah."
Ali berkata, "Ali."

Mereka berkata lagi, "Ini baru lawan yang sebanding."

Ubaidah melawan Utbah, Hamzah melawan Syaibah, dan Ali melawan al-Walid. Ali dapat membutuh al-Walid dengan cepat, begitu pula Hamzah yang dapat segera membunuh Syaibah. Sedangkan Ubaidah dan Utbah terlihat masih berkelahi dengan sengit. Keduanya terluka oleh sabetan pedang lawannya masing-masing. Ali dan Hamzah mengayunkan pedangnya dan menuntaskan perlawanan Utbah. Kemudian keduanya mengangkat tubuh Ubaidah yang terluka dan menyerahkan kepada para sahabat lain untuk dirawat.

Karena luka-lukanya yang cukup parah, Ubaidah wafat beberapa hari setelah perang Badar usai. Rasulullah saw. bersaksi bahwa Ubaidah gugur sebagai seorang syahid.

Ketika genderang perang ditabuh Rasulullah saw. keluar dan bersabda beliau, "Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidaklah seseorang memerangi mereka pada hari ini, kemudian ia terbunuh dalam keadaan sabar, ikhlas, dan tanpa rasa takut kecuali Allah memasukkanya ke dalam Surga." Saat itu Umair ibn al-Humam, sedang makan beberapa butir kurma. Mendengar sabda Rasulullah saw., ia berkata pernuh kekaguman, "Bakh! Bakh! (Hebat! Hebat!) berarti jarak antara aku dan surga adalah mati terbunuh oleh mereka." Ia langsung menyingkirkan kurma-kurmanya, lesat mengambil pedangnya, lalu berperang dengan gagah berani. Sambil terus bertempur, ia melantunkan syair ungkapan keinginannya mencapai kesyahidan: "Berlomba menuju Allah tanpa bekal kecuali takwa dan amal shalih. Sabar berjihad di jalan Allah, niscaya kau dapatkan bekal yang takkan pernah sirna."

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw. bersabda, "Persiapkanlah diri kalian menuju surga yang luasnya antara langit dan bumi."

Umair berkata, "Wahai Rasulullah, surga itu seluas langit dan bumi?"

Beliau menjawab, "Benar."

Umair terkagum dan berkata, "Bakh! Bakh!"

Mendengar ucapan Umair, beliau bertanya, "Apa yang membuatmu berucap 'Bakh! Bakh!'

Umair menjawab, "Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah, aku hanya berharap, aku bisa menjadi penghuninya."

Beliau bersabda, "Kau memang salah satu penghuninya."

Umair mengeluarkan beberapa butir kurma dan memakannya sambil berkata, "Jika aku hidup sampai kuhabiskan kurma ini, pasti butuh waktu yang lama!" Maka ia membuang sisa kurmanya dan maju ke medan perang sampai akhirnya ia gugur sebagai syahid. DIkatakan bahwa yang membunuhnya adalah Khalid ibn al-A'lam al-Uqaili.

Seperti itulah riwayat Ubaidah ibn al-Harits dan Umair ibn al-Humam. Keduanya mengikat janji dalam persaudaraan dan keduanya berlomba-lomba meraih kesyahidan. Dan, keduanya berhasil meraih cita-cita. Semoga Allah merahmati dua bersaudara ini.

17.2.15

Tagged under: ,

Salman al-Farisi : Sang pencari kebenaran

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Salman al-Farisi : Sang pencari kebenaran

Melanjutkan kisah sebelumnya, Salman sang pahlawan Khandaq dari Persia.

Salman r.a. adalah orang yang mengajukan saran untuk membuat parit. Dia pula lah penemu batu yang telah memancarkan rahasia-rahasia dan 'ramalan-ramalan' ghaib, yakni ketika ia meminta tolong kepada Rasulullah saw. Ia berdiri di samping Rasulullah saw. menyaksikan cahaya dan mendengar berita gembira itu. Dan dia masih hidup ketika ramalan itu menjadi kenyataan, dilihat, bahkan dialami, dan dirasakannya sendiri.

Dilihatnya kota-kota di Persi dan Romawi, dan dilihatnya mahligai istana di Shan'a, di Mesir, di Syria dan di Irak. Pendeknya, disaksikan dengan mata kepalanya bahwa seluruh permukaan bumi seakan berguncang keras, karena seruan mempesona penuh berkah yang berkumandang dari puncak menara-menara tinggi di setiap pelosok, memancarkan sinar hidayah Allah. 

Nah, itulah dia, Salman, sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon yang rindang berdaun rimbun, di depan rumahnya, di kota Madain; sedang menceriterakan kepada sahabat-sahabatnya tentang perjuangan berat yang dialaminya demi mencari kebenaran, dan mengisahkan kepada mereka bagaimana ia meninggalkan agama nenek moyangnya bangsa Persi, masuk ke dalam agama Nashrani, dan dari sana pindah ke dalam Agama Islam. 

Betapa ia telah meninggalkan kekayaan berlimpah dari orang tuanya dan menjatuhkan dirinya ke dalam lembah kemiskinan demi kebebasan fikiran dan jiwanya. Betapa ia dijual di pasar budak dalam mencari kebenaran itu, bagaimana kisahnya saat ia berjumpa dengan Rasulullah saw., dan menyatakan iman kepadanya.

Marilah kita dekati majlisnya yang mulia dan kita dengarkan kisah menakjubkan yang diceriterakannya...

"Aku berasal dari Isfahan, warga suatu desa yang bernama 'Ji'. Bapakku seorang bupati di daerah itu, dan aku merupakan Anak yang paling disayanginya. Aku membaktikan diri dalam agama majusi, hingga diserahi tugas sebagai penjaga api dan bertanggung jawab atas nyalanya; agar api itu tidak padam.

Bapakku memiliki sehampar tanah, dan pada suatu hari aku disuruhnya ke sana. Dalam perjalanan ke tempat tujuan, aku lewat di sebuah gereja milik kaum Nashrani. Kudengar mereka sedang beribadah-berdoa, maka aku masuk ke dalam untuk melihat apa yang mereka lakukan. Aku kagum melihat cara mereka sembahyang, dan kataku dalam hati, 'Ini lebih baik dari apa yang aku anut selama ini!' Aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam, dan tidak jadi pergi ke tanah milik bapakku serta tidak pula kembali pulang, hingga bapak mengirim orang untuk menyusulku.

Karena agama mereka menarik perhatianku, kutanyakan kepada orang-orang Nashrani darimana asal-usul agama mereka. 'Dari Syria' ujar mereka.

Ketika telah berada di hadapan bapakku, kukatakan kepadanya, 'Aku lewat pada suatu kaum yang sedang melakukan upacara sembahyang di Gereja. Upacara mereka amat membuatku takjub. Kulihat pula agama mereka lebih baik dari agama kita.' 

Kami pun bertanya-jawab; Aku melakukan diskusi dengan bapakku dan berakhir dengan dirantainya kakiku dan dipenjarakannya aku.

Kepada orang-orang Nashrani kukirim berita bahwa aku telah menganut agama mereka. Kuminta pula agar bila datang rombongan dari Syria, supaya aku diberi tahu sebelum mereka kembali, karena aku akan ikut bersama mereka ke sana. Permintaanku itu mereka kabulkan, maka kuputuskan rantai, lalu meloloskan diri dari penjara dan bersama rombongan menuju Syria.

Sesampainya di sana kutanyakan seorang ahli dalam agama itu, dijawabnya bahwa ia adalah uskup pemilik Gereja. Maka datanglah aku kepadanya dan kuceriterakan keadaanku. Akhirnya tinggallah aku bersamanya sebagai pelayan, melaksanakan ajaran mereka dan belajar. Sayang uskup ini seorang yang tidak baik dalam beragamanya, karena dikumpulkannya sedekah dari orang-orang dengan alasan untuk dibagikan, ternyata disimpan untuk dirinya pribadi. Kemudian uskup itu wafat. 

(Ibnu Ishaq meriwayatkan dalam sirah nabawinya) tatkala orang-orang kristen menguburkan jenazahnya, aku katakan kepada mereka, 'Sesungguhnya orang ini adalah orang yang jahat. Ia suruh dan seru kalian untuk bersedekah, namun apabila kalian memberikan sedekah padanya, ia malah menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak mendistribusikan sedikitpun kepada orang-orang miskin.'

Mereka berkata, 'Bagaimana engkau tahu?'

Lalu aku menujukkan tempat penyimpanan emas dan perak yang selama ini dikumpulkan uskup itu dari sedekah yang diberikan pengikut-pengikutnya. Setelah mengetahui hal itu, mereka tidak jadi menguburkan jenazah uskup itu, tetapi malah menyalib dan melemparinya dengan batu. Setelah itu mereka mengangkat orang lain sebagai gantinya. Dan kulihat tak seorang pun yang lebih baik beragamanya dari uskup baru ini. Aku pun mencintainya sedemikian rupa, sehingga hatiku merasa tak seorang pun yang lebih kucintai sebelum itu daripadanya. 

Dan tatkala ajalnya telah dekat, aku bertanya kepadanya, 'Sebagaimana anda maklumi, telah dekat saat berlakunya takdir Allah atas diri anda. Maka apakah yang harus kuperbuat, dan siapakah sebaiknya yang harus kuhubungi?' 

'Anakku!' ujamya, 'Tak seorang pun menurut pengetahuanku yang sama langkahnya dengan aku, kecuali seorang pemimpin yang tinggal di Mosul, yaitu si fulan. Ia melakukan seperti apa yang aku lakukan. Susullah dia kesana.'

Lalu tatkala ia wafat aku pun berangkat ke Mosul dan menghubungi pendeta yang disebutkannya itu. Kuceriterakan kepadanya pesan dari uskup tadi dan aku tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Kemudian tatkala takdir Allah telah dekat pula kepadanya, Salman berkata, 'Wahai fulan (uskup kedua), sesungguhnya uskup fulan (uskup pertama) telah berwasiat kepadaku agar aku pergi kepadamu dan sekarang takdir Allah telah datang kepadamu seperti yang engkau saksikan, lalu kepada siapa kini aku engkau wasiatkan?' 

Uskup itu berkata, 'Anakku, demi Allah, yang aku tahu hanya ada satu orang yang seperti kita di Nasibin, yaitu si fulan. Pergilah engkau menemuinya!' Aku datang kepadanya dan ku ceriterakan perihalku, lalu tinggal bersamanya selama waktu yang dikehendaki Allah pula.

Tatkala ia hendak meninggal, kubertanya pula kepadanya. Maka disuruhnya aku menghubungi seorang pemimpin yang tinggal di 'Amuria, suatu kota yang termasuk wilayah Romawi.

Aku berangkat ke sana dan tinggal bersamanya, sedang sebagai bekal hidup aku berternak sapi dan kambing beberapa ekor banyaknya.

Kemudian dekatlah pula ajalnya dan kutanyakan padanya kepada siapa aku dipercayakan. Ujarnya, 'Anakku, tak seorang pun yang kukenal serupa dengan kita keadaannya dan dapat kupercayakan engkau padanya. Tetapi sekarang telah dekat datangnya masa kebangkitan seorang Nabi yang mengikuti agama Ibrahim secara murni. la nanti akan hijrah ke suatu tempat yang ditumbuhi kurma dan terletak di antara dua bidang tanah berbatu-batu hitam. Seandainya kamu dapat pergi ke sana, temuilah dia, la mempunyai tanda-tanda yang jelas dan gamblang: ia tidak mau makan shadaqah, sebaliknya bersedia menerima hadiah dan di pundaknya ada cap kenabian yang bila kau melihatnya, segeralah kau mengenalinya.'

Kebetulan pada suatu hari lewatlah suatu rombongan berkendaraan, lalu kutanyakan dari mana mereka datang. Tahulah aku bahwa mereka dari jazirah Arab, maka aku berkata kepada mereka, 'Maukah kalian membawaku ke negeri kalian, dan sebagai imbalannya kuberikan kepada kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini?' 

'Baiklah' ujar mereka.

Demikianlah mereka membawa serta diriku dalam perjalanan hingga sampai di suatu negeri yang bernama Wadil Qura. Di sana aku mengalami penganiayaan, mereka menjualku kepada seorang yahudi sebagai budak. Ketika tampak olehku banyak pohon kurma, aku berharap kiranya negeri ini yang disebutkan pendeta kepadaku dulu, yakni yang akan menjadi tempat hijrah Nabi yang ditunggu. Ternyata dugaanku meleset.

Mulai saat itu aku tinggal bersama orang yang membeliku, hingga pada suatu hari datang seorang yahudi Bani Quraizhah yang membeliku. Aku dibawanya ke Madinah, dan demi Allah baru saja kulihat negeri itu, aku pun yakin itulah negeri yang disebutkan pendeta kepadaku.

Aku tinggal bersama yahudi itu dan bekerja di perkebunan kurma milik Bani Quraizhah, hingga datang saat Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah dan singgah pada Bani 'Amar bin 'Auf di Quba.

Pada suatu hari, ketika aku berada di puncak pohon kurma sedang majikanku sedang duduk di bawahnya, tiba-tiba datang seorang yahudi, saudara sepupunya, yang berkata padanya, 'Bani Qilah celaka! Mereka berkerumun mengelilingi seorang laki-laki di Quba yang datang dari Mekah dan mengaku sebagai Nabi.' 

Demi Allah, baru saja ia mengucapkan kata-kata itu, tubuhku-pun bergetar keras hingga pohon kurma itu bagai bergoncang dan hampir saja aku jatuh menimpa majikanku. Aku segera turun dan aku berkata kepada orang tadi, 'Apa maksud anda?', 'Ada berita apa?' Majikanku mengangkat tangan lalu meninjuku sekuatnya, serta bentaknya, 'Apa urusanmu dengan ini, kembali ke pekerjaanmu!' Maka aku pun kembali bekerja.

Setelah hari petang, kukumpulkan segala yang ada padaku, lalu keluar dan pergi menemui Rasulullah saw. di Quba. Aku masuk kepadanya ketika beliau sedang duduk bersama beberapa orang anggota rombongan. Lalu aku berkata, 'Tuan-tuan adalah perantau yang sedang dalam kebutuhan. Kebetulan aku mempunyai persediaan makanan yang telah kujanjikan untuk sedekah. Dan setelah mendengar keadaan tuan-tuan, maka menurut hematku, tuan-tuanlah yang lebih layak menerimanya, dan makanan itu kubawa ke sini'. Lalu makanan itu kutaruh di hadapannya dengan maksud agar Rasulullah saw. memakannya.

'Makanlah dengan menyebut nama Allah.' sabda Rasulullah saw. kepada para shahabatnya, tetapi beliau tak sedikit pun mengulurkan tangannya menjamah makanan itu.

'Nah, demi Allah!' gumamku dalam hati, 'Inilah satu dari tanda-tandanya, bahwa ia tah mau memakan harta sedeqah.'

Aku kembali pulang, tetapi pagi-pagi, keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah saw. sambil membawa makanan, serta kataku kepada beliau, 'Kulihat tuan tak hendak makan sedekah, tetapi aku mempunyai sesuatu yang ingin kuserahkan kepada tuan sebagai hadiah.'

Lalu kutaruh makanan di hadapannya. Maka sabdanya kepada shahabatnya: 'Makanlah dengan menyebut nama Allah!' Dan beliaupun turut makan bersama mereka.

'Demi Allah!' kataku dalam hati, 'Inilah tanda yang kedua, bahwa ia bersedia menerima hadiah.'

Aku kembali pulang dan tinggal di tempatku beberapa lama. Kemudian aku pergi mencari Rasulullah saw. dan kutemui beliau di Baqi', sedang mengiringkan jenazah dan dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Ia memakai dua lembar kain lebar, yang satu dipakainya untuk sarung dan yang satu lagi sebagai baju.

Kuucapkan salam kepadanya dan kutolehkan pandangan hendak melihat pundaknya. Rupanya ia mengerti akan maksudku, maka disingkapkannya kain burdah dari lehernya hingga nampak pada pundaknya tanda yang kucari, yaitu cap kenabian sebagaimana disebutkan oleh pendeta dahulu.

Melihat itu aku meratap dan menciuminya sambil menangis. Lalu aku dipanggil menghadap oleh Rasulullah. Aku duduk di hadapannya, lalu kuceriterakan kisahku kepadanya sebagaimana yang telah kuceriterakan tadi.

Kemudian aku masuk Islam. Perbudakan menjadi penghalang bagiku untuk menyertai perang Badar dan Uhud sehingga aku tak ikut didalamnya. Lalu pada suatu hari Rasulullah menitahkan padaku, 'Mintalah pada majikanmu agar ia bersedia membebaskanmu dengan menerima uang tebusan.'

Maka aku pun meminta kepada majikanku sebagaimana dititahkan Rasulullah, sementara Rasulullah menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam soal keuangan.

Demikianlah aku dimerdekakan oleh Allah, dan hidup sebagai seorang Muslim yang bebas merdeka, serta mengambil bagian bersama Rasulullah dalam perang Khandaq dan peperangan lainnya."

Dengan kalimat-kalimat yang jelas dan manis, Salman radhiyallahu 'anhu menceriterakan kepada kita usaha keras dan perjuangan besar serta mulia untuk mencari hakikat keagamaan, yang akhirnya dapat sampai kepada Allah Ta'ala dan membekas sebagai jalan hidup yang harus ditempuhnya.


Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

16.2.15

Tagged under: ,

Salman al-Farisi : Pahlawan khandaq dari Persia

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Salman al-Farisi : Sang pencari kebenaran

Dari Persi datangnya pahlawan kali ini. Dan dari Persi pula Agama Islam nanti dianut oleh orang-orang Mu'min yang tidak sedikit jumlahnya, dari kalangan mereka muncul pribadi-pribadi istimewa yang tiada taranya, baik dalam bidang kedalam ilmu pengetahuan, keagamaan, maupun keduniaan.

Dan memang, salah satu dari keistimewaan dan kebesaran al-Islam ialah, setiap ia memasuki suatu negeri dari negeri-negeri Allah, maka dengan keajaiban luar biasa dibangkitkannya setiap keahlian, digerakkannya segala kemampuan, serta digalinya bakat-bakat terpendam dari warga dan penduduk negeri itu, hingga bermunculanlah filosof-filosof Islam, dokter-dokter Islam, ahli-ahli falak Islam, ahli-ahli fiqih Islam, ahli-ahli ilmu pasti Islam dan penemu-penemu mutiara Islam.

Ternyata pentolan-pentolan itu berasal dari setiap penjuru dan muncul dari setiap bangsa, hingga masa-masa pertama perkembangan Islam penuh dengan tokoh-tokoh luar biasa dalam segala lapangan, baik cita maupun karsa, yang berlainan tanah air dan suku bangsa, tetapi satu Agama. Perkembangan yang penuh berkah dari Agama ini telah lebih dulu dikabarkan oleh Rasulullah saw., bahkan beliau telah menerima janji yang benar dari Tuhannya Yang Maha Besar lagi Maha Mengetahui. Pada suatu hari diangkatlah baginya jarak pemisah dari tempat dan waktu, hingga disaksikan olehnya dengan mata kepala, panji-panji Islam berkibar di kota-kota di muka bumi, serta di istana dan mahligai-mahligai para penduduknya.

Salman r.a. sendiri turut menvaksikan hal tersebut, karena ia memang terlibat dan mempunyai hubungan erat dengan kejadian itu. Peristiwa itu adalah perang Khandaq, yaitu pada tahun kelima setelah Hijrah. Beberapa orang pemuka Yahudi pergi ke Mekah menghasut orang-orang musyrik dan golongan-golongan kuffar agar bersekutu menghadapi Rasulullah saw. dan Kaum Muslimin, serta mereka berjanji akan memberikan bantuan dalam perang penentuan vang akan menumbangkan serta mencabut urat akar Agama baru ini.

Siasat dan taktik perang pun diatur secara licik, terrencana bahwa tentara Quraisy dan Ghathfan akan menyerang kota Madinah dari luar, sementara Bani Quraidlah (Yahudi) akan menyerang-nya dari dalam --yaitu dari belakang barisan Kaum Muslimim- sehingga Kaum Muslimin akan terjepit dari dua arah, mereka harapkan karenanya Islam akan hancur lumat dan hanya tinggal nama belaka.

Demikianlah pada suatu hari Kaum Muslimin tiba-tiba melihat datangnya pasukan tentara yang besar mendekati kota Madinah, membawa perbekalan banyak dan persenjataan lengkap untuk menghancurkan. Kaum Muslimin panik, mereka bagaikan kehilangan akal melihat hal yang tidak diduga-duga itu. Keadaan mereka dilukiskan oleh al-Quran sebagai berikut:
Ketika mereka datang dari sebelah atas dan dari arah bawahmu, dan tatkala pandangan matamu telah berputar liar, seolah-olah hatimu telah naik sampai kerongkongan, dan kamu menaruh sangkaan yang bukan-bukan terhadap Allah. (Q.S. 33 al-Ahzab: l0)
Dua puluh empat ribu orang prajurit di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn menghampiri kota Madinah dengan maksud hendak mengepung dan melepaskan pukulan yang menentukan; yang akan menghabisi Muhammad saw., Agama, serta para shahabatnya.

Pasukan tentara ini tidak saja terdiri dari orang-orang Quraisy, tetapi juga dari berbagai kabilah atau suku yang menganggap Islam sebagai lawan yang membahayakan mereka. Peristiwa ini merupakan percobaan akhir dan menentukan dari pihak musuh-musuh Islam, baik dari perorangan, maupun dari suku dan golongan.

Kaum Muslimin menginsyafi keadaan mereka yang gawat ini, Rasulullah saw.-pun mengumpulkan para shahabatnya untuk bermusyawarah. Dan tentu saja mereka semua setuju untuk bertahan dan mengangkat senjata, tetapi apa yang harus mereka lakukan untuk bertahan itu?

Ketika itulah tampil seorang yang tinggi jangkung dan berambut lebat, seorang yang disayangi dan amat dihormati oleh Rasulullah saw. Itulah dia Salman al-Farisi r.a.! Dari tempat ketinggian ia melayangkan pandang meninjau sekitar Madinah. Didapatinya kota itu di lingkung gunung dan bukit-bukit batu yang tak ubah bagai benteng. Hanya di sana terdapat pula daerah terbuka, luas dan terbentang panjang, hingga dengan mudah akan dapat diserbu musuh untuk memasuki benteng pertahanan.

Di negerinya Persi, Salman r.a. telah mempunyai pengalaman luas tentang teknik dan sarana perang, begitu pun tentang siasat dan liku-likunya. Maka tampillah ia mengajukan suatu usul kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu suatu rencana yang belum pernah dikenal oleh orang-orang Arab dalam peperangan mereka selama ini. Rencana itu berupa penggalian khandaq atau parit perlindungan sepanjang daerah terbuka keliling kota.

Hanya Allah-lah yang lebih mengetahui apa yang akan dialami Kaum Muslimin dalam peperangan itu seandainya mereka tidak menggali parit atau usul Salman tersebut.

Demi Allah, Quraisy menyaksikan parit terbentang di hadapannya, mereka merasa terpukul melihat hal yang tidak disangka-sangka itu, hingga tidak kurang sebulan lamanya kekuatan mereka bagai terpaku di kemah-kemah karena tidak berdaya menerobos kota.

Dan akhirnya pada suatu malam Allah Ta'ala mengirim angin topan yang menerbangkan kemah-kemah dan memporak-porandakan tentara mereka. Abu Sufyan pun menyerukan kepada anak buahnya agar kembali pulang ke kampung mereka dalam keadaan kecewa dan berputus asa serta menderita kekalahan pahit.

Sewaktu menggali parit, Salman tidak ketinggalan bekerja bersama Kaum Muslimin yang sibuk menggali. Juga Rasulullah saw., ikut membawa tembilang dan membelah batu. Kebetulan di tempat penggalian Salman bersama kawan-kawannya, tembilang mereka terbentur pada sebuah batu besar.

Salman, seorang yang berperawakan kukuh dan bertenaga besar. Sekali ayun dari lengannya yang kuat akan dapat membelah batu dan memecahnya menjadi pecahan-pecahan kecil. Tetapi menghadapi batu besar ini ia tak berdaya, sedang bantuan dari teman-temannya hanya menghasilkan kegagalan belaka.

Salman pergi menemui Rasulullah saw. dan minta izin mengalihkan jalur parit dari garis semula, untuk menghindari batu besar yang tak tergoyahkan itu. Rasulullah saw. pun pergi bersama Salman untuk melihat sendiri keadaan tempat dan batu besar tadi. Setelah menyaksikannya, Rasulullah saw. meminta sebuah tembilang dan menyuruh para shahabat mundur dan menghindarkan diri dari pecahan-pecahan batu itu nanti.

Rasulullah saw. lalu membaca bismillah dan mengangkat kedua tangannya yang mulia yang sedang memegang erat tembilang itu, dan dengan sekuat tenaga dihunjamkannya ke batu besar itu. Kiranya batu itu terbelah dan dari celah belahannya yang besar keluar lambaian api yang tinggi dan menerangi. "Saya lihat lambaian api itu menerangi pinggiran kota Madinah", kata Salman. Sementara Rasulullah saw. mengucapkan takbir, sabdanya, "Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci istana negeri Persi, dan dari lambaian api tadi nampak olehku dengan nyata istana-istana kerajaan Hirah begitu pun kota-kota maharaja Persi dan bahwa ummatku akan menguasai semua itu."

Lalu Rasulullah saw. mengangkat tembilang itu kembali dan memukulkannya ke batu untuk kedua kalinya. Maka tampaklah seperti semula tadi. Pecahan batu besar itu menyemburkan lambaian api yang tinggi dan menerangi, sementara Rasulullah saw. bertakbir, sabdanya, "Allah Maha Besar! Aku telah dikaruniai kunci-kunci negeri Romawi, dan tampak nyata olehku istana-istana merahnya, dan bahwa ummatku akan menguasainya."

Kemudian dipukulkannya untuk ketiga kali, dan batu besar itu pun menyerah pecah berderai, sementara sinar yang terpancar daripadanya amat nyala dan terang temarang. saw. pun mengucapkan la ilaha illallah diikuti dengan gemuruh oleh kaum Muslimin. 

Diceritakanlah oleh Rasulullah saw. bahwa beliau sekarang melihat istana-istana dan mahligai-mahligai di Syria maupun Shan'a, begitu pun di daerah-daerah lain yang suatu ketika nanti akan berada di bawah naungan bendera Allah yang berkibar. Maka dengan keimanan penuh Kaum Muslimin pun serentak berseru: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya."


Wallahu a'lam.[]