300x250 AD TOP

15.2.15

Tagged under: ,

Shafiyyah binti Huyay : Anaknya Nabi, Keponakannya Nabi, dan istrinya Nabi

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Shafiyyah binti Huyay : Anaknya Nabi, Keponakannya Nabi, dan istrinya Nabi

Beliau adalah Shafiyyah binti Huyay binti Akhthan bin Sa'yah cucu dari Al-Lawi bin Nabiyullah Israel bin Ishaq bin Ibrahim a.s. Termasuk keturunan Rasulullah Harun a.s.

Shafiyyah adalah seorang wanita yang cerdas dan memiliki kedudukan yang terpandang, berparas cantik dan bagus diennya. Sebelum Islam, beliau menikah dengan Salam bin Abi Al-Haqiq (dalam kisah lain dikatakan bernama Salam bin Musykam) salah seorang pemimpin Bani Qurayzhah, namun rumah tangga mereka tidak berlangsung lama. Kemudian setelah itu dia menikah dengan Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq. Kinanah terbunuh pada waktu perang Khaibar, maka beliau termasuk wanita yang di tawan bersama wanita-wania lain.

Bilal, Muadzin Rasululllah, menggiring Shafiyyah dan putri pamannya. Mereka meleweti tanah lapang yang penuh dengan mayat-mayat orang Yahudi. Meskipun sedih, Shafiyyah diam dan tenang; tidak kelihatan seduh dan tidak pula meratap mukanya, menjerit dan menaburkan pasir pada kepalanya. 

Kemudian keduanya dihadapkan kepada Rasulullah saw. Mengerti kesedihan Shafiyyah, Rasulullah saw. bersabda kepada Bilal, "Sudah hilangkah rasa kasih sayang dihatimu, wahai Bilal, sehingga engkau tega membawa dua orang wanita ini melewati mayat-mayat suami mereka?" 

Shafiyyah dalam keadaan sedih namun tetap diam, sedangkan putri pamanya kepalanya penuh pasir, merobek bajunya karena marasa belum cukup ratapannya. Maka Rasulullah saw. bersabda, "Enyahkanlah syetan ini dariku."

Kemudian beliau saw. mendekati Shafiyyah kemudian mengarahkan pandangan atasnya dengan ramah dan lembut, kemudian bersabda kepada Bilal, "Wahai Bilal aku berharap engkau mendapat rahmat tatkala engkau bertemu dengan dua orang wanita yang suaminya terbunuh."

Rasulullah hendak memuliakan Shafiyyah sehingga beliau saw. memberikan pilihan kepada Shafiiyah:
Pertama, dibebaskan lalu kemudian dikembalikan kepada kaumnya.
Kedua, masuk Islam lalu dinikahi oleh Rasulullah saw.

Shafiyyah memilih masuk Islam dan dinikahi Rasulullah saw. Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Anas r.a bahwa Rasulullah tatkala mengambil Shafiyyah binti Huyay belau bertanya kepadanya, "Maukah engkau menjadi istriku?" Maka Shafiyyah menjawab, "Ya Rasulullah, sungguh aku telah berangan-angan untuk itu tatkala masih musyrik, maka bagaimana mungkin aku tidak inginkan hal itu manakala Allah memungkinkan itu saat aku memeluk Islam?"

Kemudian tatkala Shafiyyah telah suci karena memilih Islam dan Rasulullah saw. menikahinya. Mahar pernikahannya adalah merdekanya Shafiyyah.

Kemudian Rasulullah saw. melanjutkan perjalanannya ke Madinah bersama bala tentaranya, tatkala mereka sampai di Shabba', jauh dari Khaibar, mereka berhenti untuk beristirahat. Pada saat itulah timbul keinginan untuk merayakan walimatul 'urs. Maka didatangkanlah Ummu Anas bin Malik r.a, beliau menyisir rambut Shafiyyah, menghiasi dan memberi wewangian hingga karena kelihaian dia dalam merias. Ummu Sinan Al-Aslamiyah berkata bahwa beliau belum pernah melihat wanita yang lebih putih dan cantik dari Shafiyyah. Maka diadakanlah walimatul 'urs.

Kaum muslimin memakan lezatnya kurma, mentega, dan keju Khaibar hingga kenyang. Rasulullah saw. masuk ke kamar Shafiyyah, beliau bercerita bahwa tatkala malam pertamanya dengan Kinanah bin Rabi', pada malam itu beliau bermimpi bahwa bulan telah jatuh ke kamarnya. Tatkala bangun belau ceritakan hal itu kepada Kinanah tentang takwilnya, maka dia berkata dengan marah, "Mimpimu tidak ada takwil lain melainkan kamu berangan-angan mendapatkan raja Hijjaz, Muhammad." Maka dia tampar wajah Shafiyyah dengan keras sehingga bekasnya masih ada.

Nabi saw. mendengarnya sambil tersenyum kemudian bertanya, "Mengapa engkau menolak dariku tatkala kita menginap yang pertama?" Maka Shafiyyah menjawab, "Saya khawatir terhadap diri anda karena dekat Yahudi." Maka menjadi berseri-serilah wajah Nabi yang mulia serta lenyaplah kekecewaan hatinya.

Tatkala rombongan sampai di Madinah Rasulullah saw. memerintahkan agar pengantin wanita tidak langsung di ketemukan dengan istri-istri beliau yang lain. Beliau saw. turunkan Shafiyyah di rumah sahabatnya yang bernama Haritsah bin Nu'man. Ketika wanita-wanita Anshar mendengar kabar tersebut, mereka datang untuk melihat kecantikannya. Nabi saw. memergoki 'Aisyah keluar sambil menutupi dirinya serta berhati-hati (agar tidak dilihat Nabi) kemudian masuk ke rumah Haritsah bin Nu'man. Maka beliau saw. menunggunya sampai 'Aisyah keluar.

Tatkala 'Aisyah keluar, Rasulullah saw. memegang bajunya seraya bertanya dengan tertawa, "Bagaimana menurut mendapatmu wahai, Humayra?" 'Aisyah menjawab sementara cemburu menghiasi dirinya, "Aku lihat dia adalah wanita Yahudi." Maka Rasulullah saw. membantahnya dan bersabda, "Jangan berkata begitu… karena sesungguhnya dia telah Islam dan bagus keislamannya."

Selajutnya Shafiyyah berpindah ke rumah Nabi, dan itu menimbulkan kecemburuan istri-istri beliau yang lain karena kecantikannya. Mereka juga mengucapkan selamat atas apa yang telah Shafiyyah raih. Bahkan dengan nada mengejek mereka mengatakan bahwa mereka adalah wanita-wanita Quraisy, wanita-wanita Arab sedangkan dirinya adalah wanita asing.

Bahkan suatu ketika sampai keluar dari lisan Hafshah kata-kata, "Anak seorang Yahudi" hingga menyebabkan Shafiyyah menangis. Tatkala itu Nabi saw. masuk sedangkan Shafiyyah masih dalam keadaan menangis. Beliau bertanya, "Apa yang membuatmu menangis?"

Shafiyyah menjawab, "Hafshah mengatakan kepadaku bahwa aku adalah anak seorang Yahudi."

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya, engkau adalah seorang putri seorang Nabi dan pamanmu adalah seorang Nabi, suamimu pun juga seorang Nabi. Lantas dengan alasan apa dia mengejekmu ?"

Kemudian beliau saw. bersabda kepada Hafshah, "Bertakwalah kepada Allah wahai Hafshah!"

Kata-kata Nabi itu menjadi penyejuk, keselamatan, dan keamanan bagi Shafiyyah. Selanjutnya manakala dia mendengar ejekan dari istri Nabi yang lain maka Shafiyyah pun berkata, "Bagaimana bisa kalian lebih baik dariku, padahal suamiku adalah Muhammad, ayahku adalah Harun dan pamanku adalah Musa?"

Shafiyyah r.a. wafat tatkala berumur sekitar 50 tahun,ketika masa pemerintahan Mu'awiyah. Beliau dikuburkan di Baqi' bersama Ummuhatul Mukminin. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Wallahu a'lam.[]

12.2.15

Tagged under: ,

Khaulah bint Tsa'labah : Wanita yang didengar oleh Allah dari langit ke-7

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Khaulah bint Tsa'labah : Wanita yang didengar oleh Allah dari langit ke-7

Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin 'Auf. Beliau tumbuh sebagai wanita yang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais, saudara dari Ubadah bin Shamit r.a. yang beliau menyertai perang Badar dan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertai Rasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-laki yang bernama Rabi'.

Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya, Aus bin Shamit dalam masalah yang membuat suaminya itu marah, sehingga dia berkata, "Bagiku engkau ini seperti punggung ibuku." 

Kemudian, Aus keluar setelah mengatakan kalimat tersebut dan duduk bersama kawan-kawannya. Beberapa lama setelahnya, dia masuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru saja terjadi dalam sejarah Islam tersebut. 

Khaulah berkata, "Tidak…jangan! Demi Dzat yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu terhadapku sehingga Allah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita."

Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw., lalu dia duduk di hadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengan suaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengan Nabi tentang perkataan suaminya. 

Rasulullah saw. bersabda, "Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya."

Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepada Rasulullah saw. apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia harus cerai dengan suaminya, namun rasulullah saw. tetap menjawab, "Aku tidak melihat melainkan engkau telah haram baginya."

Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit seraya di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Kedua matanya nampak basah meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan, maka beliau menghadap kepada Dia yang tiada akan rugi siapapun berdoa kepada-Nya. 

Beliau berdo'a, "Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku."

Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah saw. dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk Allah Ta`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telah dipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.

Tiada henti-hentinya wanita ini berdo'a sehingga suatu ketika Rasulullah saw. pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw. sadar kembali, beliau bersabda, "Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`an tentang dirimu dan suamimu." 

Kemudian beliau membaca firman-Nya, 
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…(sampai firman Allah ayat): "Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih."(Al-Mujadalah:1-4)

Kemudian Rasulullah saw. menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat (tebusan) Zhihar:

Nabi : Perintahkan kepadanya (suami) untuk memerdekan seorang budak

Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa dia merdekakan.

Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulan berturut-turut

Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukan shaum.

Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60 orang miskin

Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.

Nabi : Aku bantu dengan separuhnya

Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.

Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurma itu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmu itu secara baik. 

Maka Khaulah pun melaksanakannya.

Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpin anak Adam a.s. yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyak hal yang menjadikan seorang wanita mengangkat kepalanya tinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatian Islam terhadapnya.

Ummul mukminin, Aisyah r.a. berkata tentang hal ini, "Segala puji bagi Allah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telah datang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw., dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. sementara aku berada di samping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan. Maka kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya dan mengadukan (halnya) kepada Allah…" (Al-Mujadalah: 1)

Inilah wanita mukminah didikan Islam yang menghentikan Khalifah Umar bin Khaththab r.a. saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, "Wahai Umar aku telah mengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair (Umar kecil) tatkala engkau berada di pasar Ukazh, engkau mengembala kambing dengan tongkatmu, kemudian berlalulah hari demi hari sehingga engkau memiliki nama Amirul Mukminin. Bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilah barangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadi dekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia akan takut kehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takut terhadap Adzab Allah." Beliau katakan hal itu sementara Umar Amirul Mukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengar perkataannya.

Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidak tahan mengatakan kepada Khaulah, "Engkau telah berbicara banyak kepada Amirul Mukminin wahai wanita!" Umar kemudian menegurnya, "Biarkan dia…tahukah kamu siapakah dia? Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkan perkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhak untuk mendengarkan perkataannya."

Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, "Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akan mengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesai keperluannya."

Wallahu a'lam

11.2.15

Tagged under: ,

Amr ibn al-Ash : Diplomat penakluk Mesir

Sejarah Sahabat Nabi Lengkap
jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Amr ibn al-Ash : Sang penakluk Mesir

Amr ibn al-Ash, seorang sahabat Quraisy keturunan Bani Sahmi. Ayahnya bernama al-Ash ibn Wail ibn Hasyim ibn A'id ibn Sahm dan ibunya bernama Salma binti Harmalah atau lebih dikenal dengan julukan al-Naabighah (wanita bijak). Nama panggilan Amr adalah Abu Abdillah atau Abu Muhammad.

Awalnya, ia adalah orang yang sangat membenci Rasulullah saw. dan kaum muslimin. Kaum Quraisy pernah mengutusnya ke negeri Absinia (Habasy) sambil membawa berbagai hadiah untuk membujuk raja Najasy agar mau memulangkan kaum muslimin yang sedang berhijrah ke negeri tersebut. Tetapi misinya itu gagal karena Raja menolak untuk memulangkannya karena beberapa alasan, yang akhirnya membuat hadiah dari kaum Quraisy yang dibawa Amr dikembalikan. Atau sebagaimana kisahnya yang bisa dibaca disini.

Singkatnya, cahaya hidayah menerangi hati dan pikiran Amr sehingga ia memutuskan untuk pergi ke Madinah menemui Rasulullah saw. Di perjalanan menuju Madinan, ia bertemu dengan Khalid ibn al-Walid dan Utsman ibn Thalhah, yang juga berniat menemui Nabi saw. Amr bertanya, "Kalian berdua hendak kemana?"

Mereka berdua menjawab, "Kami hendak menemui Muhammad untuk bersyahadat."

Amr senang mendengar jawaban mereka. Ia berujar, Aku pun pergi untuk tujuan yang sama!" Akhirnya, ketiga orang pemuka Quraisy itu berangkat bersama-sama menuju Madinah. Ketika Rasulullah saw. mendengar kedatangan mereka, beliau bersabda kepada para sahabat, Makkah telah datang menemui kalian dengan membawa para puteranya." Peristiwa keislaman mereka terjadi setelah Perjanjian Hudaibiyah. Setelah mengucapkan syahadat di hadapan Rasulullah saw., Amr menanyakan bagaimana cara menebus dosa-dosanya di masa lalu? Rasulullah bersabda, "Islam dan Hijrah memutuskan dosa-dosa yang telah lalu." (Musnad al-Imam Ahmad 13/135).

Ibn Abi Mualaikah meriwayatkan dari Thalhah ibn Ubaidillah bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sungguh, Amr ibn al-Ash termasuk orang yang baik dari suku Quraisy."

Amr menjadi juru runding bagi Muawiyah berhadapan dengan Abu Musa al-Asy'ari yang menjadi juru runding bagi Ali. Mereka sepakat mencopot Ali dan Muawiyah dari kekhalifahan. Setelah Abu Musa mencopot Ali dari jabatan khalifah, Amr berdiri kemudian mengangkat Muawiyah sebagai khalifah. Setelah menyadari bahwa Amr telah memperdaya dirinya, Abu Musa pergi meninggalkan semua orang.

Amr adalah orang yang cerdik dan banyak akal. Dikisahkan bahwa dalam sebuah peperangan, salah seorang panglima pasukan Romawi, Arthaphoon mengundang Amr ibn al-Ash ke bentengnya untuk berbincang-bincang. Sebelum itu, sebetulnya Arthaphoon telah memerintahkan salah seorang dari pasukannya untuk menimpahkan batu pada Amr ketika ia keluar dari benteng.

Dalam perbincangan itu, Arthaphoon memuji kecerdasan dan kecerdikan yang dimiliki Amr ibn al-Ash. Di ujung pembicaraan, Arthaphoon diberikan hadiah kepada Amr sebagai ungkapan rasa senangnya. Ketika hendak keluar dari benteng, Amr melihat gerakan-gerakan mencurigakan dari pasukan Romawi, seketika Amr berpikir bahwa mereka siap membunuhnya. Karena itu, ia menghentikan langkahnya dan kembali menemui Arthaphoon. Ketika keduanya berhadapan, Arthaphoon bertanya kepada Amr, "Kenapa engkau kembali?"

Amr menjawab, "Tuanku, aku lupa mengabarkan bahwa aku punya sepuluh orang sahabat, dan di antara mereka, aku adalah yang paling bodoh dan paling rendah kecerdasannya. Mereka adalah kepercayaan pimpinan kami. Pemimpin kami tidak mengambil suatu keputusan kecuali ia telah bermusyawarah dengan mereka. Pemimpin kami juga tidak akan mengirimkan sepasukan kecuali atas persetujuan mereka. Ketika aku merasakan kebaikan Tuan, aku ingin sekali membawa mereka untuk berbincang bersama Tuan, agar Tuan dapat mendengar langsung pembicaraan mereka dan mereka pun dapat hadiah seperti yang aku dapatkan."

Tentu saja Arthaphoon senang mendengar ujaran Amr. Menurutnya, itu merupakan kesempatan emas untuk menghancurkan musuhnya. Ia berpikir, bahwa dengan mengalahkan sepuluh orang bijak tersebut, berarti ia tidak perlu bersusah payah mengalahkan musuhnya. Maka, Arthaphoon memberikan isyarat kepada pasukannya agar membiarkan Amr pergi dengan selamat.

Di depan gerbang benteng, kuda tunggangan Amr setia menunggu tuannya. Ketika ia naik, kuda itu meringkik keras sambil mengangkat kaki depannya seakan-akan mengejek keluguan dan kotololan Artaphoon, sang panglima Romawi.

Pada masa kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab, Amr ibn al-Ash diperintahkan untuk membebaskan Mesir dai cengkeraman Romawi. Menyadari kekuatan Roma, Amr meminta khalifah untuk mengirimkan bala bantuan. Khalifah mengirimkan 4000 pasukan dengan 4 diantaranya sebanding dengan 1000 pasukan; mereka adalah al-Zubayr al-Awwam, Ubadah ibn al-Shamit, al-Miqdad ibn al-Aswad, dan Maslamah ibn Mukhlad. Akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan dan dapat membebaskan Mesir.

Ketika terjadi fitnah antara Ali dan Muawiyah, Amr berada di pihak Muawiyah. Ketika mendengar Amar ibn Yasir akan gugur, ia teringat sabda Rasulullah, "Amar akan dibunuh oleh golongan yang berdosa." Amr berkata, Seandainya aku mati dua puluh tahun lebih awal sebelum kejadian ini."

Wallahu a'lam.[]

10.2.15

Tagged under: ,

Said ibn Amir : Seorang pemimpin yang fakir

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Said ibn Amir : Pemimpin yang fakir

Said ibn Amir adalah seorang sahabat dari suku Quraisy keturunan Bani Jumah. Ayahnya bernama Amir ibn Hidzyam ibn Salaman ibn Rabiah dan ibunya bernama Ummu Said Arwa binti Abi Mu'ith yang tak lain merupakan saudari Uqbah ibn Mu'ith, salah seorang dedengkot kafir Quraisy yang sangat membenci Rasulullah.

Pamannya, Uqbah ibn Abu Mu'ith ditawan bersama 43 orang lain oleh kaum muslimin dalam perang Badar. Pulang dari Badar, Rasulullah saw. memerintahkan al-Nadhar ibn al-Harits  ibn Kildah dibunuh. Ali ibn Abi Thalib mendapatkan tugas untuk mengeksekusinya. Tiba di Irqi al-Zabiyah, Rasulullah memerintahkan Ashim ibn Tsabit untuk mengeksekusi Uqbah. Tetapi sebelum ia dipenggal, ia berkata, "Siapakah yang akan mengurus anak-anak, hai Muhammad?" Beliau bersabda, "Neraka (tempatmu)." Kemudian Ashim memenggal lehernya sampai tewas. Uqbah adalah orang yang menimpakan jeroan unta ke punggung Rasulullah saw. ketika beliau shalat di Ka'bah.

Said adalah seorang sahabat yang paling zuhud dan dekat kepada Nabi saw. Ia memeluk Islam sebelum penaklukan Khaibar dan iku tberhijrah ke Madinah. Ia ikut serta dalam perang Khaibar dan beberapa peristiwa lainnya. Ba'da Rasulullah saw. wafat, ialah yang sering memberikan nasihat kepada para Khalifah agar senantiasa takut kepada Murka Allah. Ia tergolong dan dikenal sebagai muslim yang sederhana, bahkan dapat dibilang seorang yang fakir. Itu dapat dilihat dari pakaiannya yang lusuh dan usang.

Suatu saat, ia pernah datang menghadap kepada Amirul Mukminin, Khalifah Umar ibn Khaththab, dan menasihatinya, "Wahai Umar, aku wasiatkan agar engkau takut kepada Allah dalam urusan manusia dan jangan sekali-kali takut terhadap manusia dalam urusan Allah. Janganlah ucapanmu menyalahi perbuatanmu, karena sebaik ucapan adalah yang sesuai dengan perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah mereka yang urusannya telah Allah pertanggungkan kepadamu, baik kaum muslimin yang jauh maupun yang dekat. Cintailah mereka seperti engkau mencintai dirimu dan keluargamu. Rasakan penderitaan mereka dan ajaklah mereka menuju jalan kebenaran selalu! Di jalan Allah jangan sekalipun engkau takut akan caci maki..."

Mendengar nasihatnya, Umar berkata, "Wahai Said, siapakah yang dapat mampu melakukan semua itu?"

Said menjawab, "Orang yang dipercayakan oleh Allah untuk mengurus ummat Muhammad sepeninggalnya, yang ia tak pernah menjadikan perantara apapun antara dirinya dan siapa pun kecuali Allah."

Umar kemudian berkata, "Mulai sekarang, engkau ku angkat menjadi Gubernur Homs, lakukanlah tugasmu dengan baik."

Namun, Said menolak dan berkata, "Demi Allah, jangan engkau timpakkan fitnah kepadaku, hai Umar!"

Mendengar penolakannya Khalifah Umar berkata, "Kalian limpahkan seluruh urusan ke pundakku, dan kalian biarkan aku sendiri? Sudahlah, sekarang juga kau berangkat ke Homs!" Dengan berat hati Said berangkat ke Homs sembari memohon pertolongan Allah. Umar pun memberinya bekal yang cukup.

Ketika ia telah menjadi Gubernur Homs, istrinya sangat ingin sekali membeli pakaian dan barang-barang yang diinginkan banyak wanita lainnya. Said berkata, "Maukah engkau sesuatu yang lebih baik dari itu?"

Istrinya menjawab, "Apa itu?"

Said berkata, "Perdagangan di negeri ini sangat ramai. Aku akan memberikan harta kita kepada orang yang mampu memperdagangkan dan mengembangkannya."

Istrinya balas menjawab, "Bagaimana kalau rugi?"

Said berkata, "Kita buat jaminan kepadanya."

Isrinya pun menyetujui apa yang Said inginkan. Tanpa ragu-ragu lagi Said menyedekahkan semua hartanya kepada orang yang membutuhkan.

Hari-hari berlalu dan sang istri kian gencar bertanya kepada Said, kepada siapa harta mereka diinvestasikan. Said berupaya menenangkan istirnya dengan mengatakan bahwa harta mereka pasti berkembang dan berada di tangan orang yang terpercaya. Selang beberapa waktu, seorang sahabat yang tahu kemana persis harta itu disalurkan datang menemui Said. Mereka pun berbincang-bincang dan istri Said kembali menanyakan kembali soal keuntungan dari investasi harta mereka karena ia belum pernah menerima sepeser pun. Mendengar pertanyaan istri Said, sahabat Said tertawa sehingga menimbulkan kecurigaan di hati istri Said. Karena terus didesak, sahabat Said kemudian menceritakan bahwa semua hartanya disedekahkan kepada fakir miskin.

Tentu, jawaban itu membuat Istri Said marah. Ia menumpahkan kekecewaan kekecewaan kepada suaminya karena ia tidak jujur. Said berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda, 'Seandainya salah seorang dari wanita surga muncul ke bumi, niscaya bumi akan dipenuhi harum misik.' Aku, demi Allah tak ingin memilih mereka."

Suatu hari, Khalifah Umar r.a. mengunjungi Homs untuk melihat perkembangan kota itu di bawah pimpinan Said ibn Amir. Umar r.a. kemudian meminta data kaum fakir miskin untuk diberi sedekah. Mereka (pegawai di Homs) menuliskannya, "Yang termasuk fakir adalah si fulan, si fulan, si fulan, dan Said ibn Amir."

Khalifah Umar bertanya, "Siapakah Said ibn Amir yang kalian maksud?"

Mereka menjawab, "Gubernur kami."

Khalifah bertanya heran, "Gubernur kalian fakir? Lalu dikemanakan gajinya?"

Mereka menjawab, "Ia menyedekahkan semuanya setiap kali ia menerimanya." Mendengar penjelasan mereka Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke dalam pundi dan memerintahkan agar diberikan kepada Said untuk memenuhi kebutuhannya."

Ketika utusan Khalifah Umar datang membawa uang itu, Said mengembalikannya seraya mengucapkan istighfar. Sang istri yang mendengar dari balik tirai bertanya, "Adakah gerangan yang terjadi pada Amirul Mukminin, Umar ibn Khaththab?"

Said menjawab, "Ya. Sesuatu yang sangat besar."

Istrinya berkata, "Apakah kaum muslimin kalah dalam perang?"

Said menjawab, "Lebih dahsyat dari itu."

Istrinya berkata, "Apakah kiamat segera tiba?"

Said menjawab, "Lebih penting dari itu."

Istrinya makin penasaran dan bertanya, "Jadi, apa yang terjadi?"

Said menjawab, "Fitnah telah memasuki rumahku. Dunia datang untuk merusak akhiratku."

Sang istri kemudian berusaha menenangkan Said dan berkata, "Maka, jauhilah agar kau tenang."

Said pun kemudian mengumpulkan kembali harta yang didapatnya dari Khalifah lalu memasukkannya ke dalam pundi. Sejurus kemudian, semua uang itu dibagikan kepada orang yang membutuhkan. Setelah itu hatinya kembali merasa tenang.

Said termasuk orang yang sangat zuhud dan tidak sedikit pun mempedulikan soal harta. Sikap dan perilakunya itu sangat kontras dengan kondisi para pemimpin saat ini. Banyak orang, yang mencari harta siang dan malam, bahkan menumpuk-numpuk harta, tetapi yang mereka dapatkan hanya kelelahan. Mereka tak sadar bahwa harta yang dikumpulkan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah darimanapun dan dengan cara apapun harta itu didapat.

Saat Khalifah Umar berkunjung ke Homs, penduduk di wilayah itu mengadukan gubernur mereka Siad ibn Amir kepada Umar ibn al-Khaththab. Ada empat hal yang mereka adukan,

Pertama, gubernur tak pernah keluar menemui warga kecuali di akhir subuh.
Kedua, Said tidak pernah menerima tamu di waktu malam.
Ketiga, Setiap bulan, dua hari ia tak mau keluar menemui kami.
Keempat, Sesekali Said pingsan dan terjatuh.

Mendengar aduan mereka, Umar berpaling kepada Said ibn Amir dan bertanya, "Apa pembelaanmu terhadap kesalahan-kesalahan yang telah kau lakukan, hai Said?"

Said menjawab satu per satu aduan tersebut. Ia berkata, "Pertama, keluargaku tak punya pembantu. Jadi, di pagi hari aku membuat tepung untuk mereka. Setelah menjadi tepung aku membuat roti untuk mereka. Setelah itu, aku berwudhu dan keluar menemui orang-orang.

Kedua, aku membagi hari-hariku. Satu bagian untuk Tuhanku dan satu bagian untuk rakyatku. Waktu siang hari aku bersama mereka, sedangkan waktu malam aku bersama Tuhanku.

Ketiga, aku hanya memiliki satu potong pakaian. Setiap bulan aku mencucinya dua kali. Setelah itu, aku menunggu pakaianku kering dan kukenakan kembali untuk menemui mereka.

Keempat, aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri --bersama orang Quraisy- bagaimana Khubaib ibn Adi disalib. Setiap kali aku teringat kejadian itu, pandanganku gelap dan aku jatuh pingsan."

Mendengar jawaban Said, Khalifah Umar menarik nafas dalam-dalam, kemudian meminta agar Said melanjutkan kembali tugasnya sebagai Gubernur, tetapi ia menolak.

Ibn al-Atsir menuturkan perbedaan pendapat tentang dimana Said ibn Amir wafat. Ada yang mengatakan ia wafat di Kaesaria, atau di Homs. Ada pula yang mengatakan ia wafat dan dimakamkan di Riqqa.

Semoga Allah merahmatinya.

Wallahu a'lam.[]

9.2.15

Tagged under: ,

Muaz ibn Amr ibn al-Jamuh : 'Cilik' pembunuh Firaun umat ini

jejakperadaban.com | Sejarah Sahabat Nabi
Muaz ibn Amr ibn al-Jamuh : Pembunuh Firaun umat ini.

Muaz ibn Amr ibn al-Jamuh adalah seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshar, keturunan suku Khajraz dari keluarga Bani Sulami. Ia termasuk golongan pertama yang memeluk Islam dari kaum Anshar.

Ia menemukan Islam melalui Mush'ab ibn Umair dan ikut menyaksikan Baitaul Aqabah kedua ketika kalangan Anshar memilih dua belas pimpinan mereka. Keislaman Muaz ibn Amr seakan-akan menjadi penyelamat bagi ayahnya dari api neraka. Dialah yang mengajak ayahnya untuk mengahadiri majelis ilmu yang digelar oleh Mush'ab ibn Umair. Ternyata, penuturan dan penjelasan Mush'ab menarik hatinya sehingga ia memutuskan untuk bersyahadat.

Ketika Rasulullah saw. memerintahkan kaum muslimin untuk berangkat ke lembah Badar, sebenarnya Amr sangat ingin ikut serta, tetapi ia dilarang oleh istrinya, Hindun binti Amr ibn Haram dan anak-anaknya. Mereka mengatakan bahwa ia tak diwajibkan ikut untuk berperang dikarenakan ia memiliki cacat pada kakinya. Mereka juga berharap Rasulullah saw. melarangnya untuk ikut serta. Oleh sebab demikian, Amr memutuskan untuk tidak ikut serta dalam perang Badar. Ia benar-benar menyesali keputusan tersebut. Sehingga pada perang berikutnya --yaitu perang Uhud- ia bersikeras untuk ikut dalam barisan tentara Allah, meskipun dengan keadaannya yang telah diketahui. Ia pun syahid dalam perang (Uhud) itu.

Dalam perang Badar, putranya Muaz ibn Amr berhasil membunuh al-Hakam ibn Hisyam atau lebih dikenal dengan Abu Jahal, fir'aun ummat ini. Itulah salah satu perang penting Muaz sebagai bukti kecintaannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Abdul Malik ibn Hisyam menuturkan dari Ziad al-Bukai dari Ibn Ishaq bahwa ketika perang Badar berkecamuk, Muaz ibn Amr berhasil melukai dan memutuskan kaki Abu Jahal, lalu menjatuhkannya ke tanah. Tetapi Muaz pun terkena sabetan pedang Ikrimah ibn Abu Jahal hingga tangannya terluka meskipun tidak langsung putus.

Ternyata setelah diputus kakinya, Abu Jahal belum tewas. Ia masih dalam keadaan sekarat. Mu'awidz ibn Afra yang melihat musuh Allah itu masih bernapas, meyabetkan pedangnya, lalu bergegas meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Ketika melihat musuh Allah itu masih juga belum tewas, Ibn Mas'ud mendekatinya dan menebaskan pedangnya hingga Abu Jahal tewas.

Hemat cerita,
Imam Muslim mencatat sebuah riwayat dalam kitab shahihnya, yang diriwayatkan dari salih ibn Ibrahim ibn Abdurrahman ibn Auf dari ayahnya dari Abdurrahman ibn Auf bahwa saat ia berdiri di tengah pasukan saat perang Badar, ia memandang ke kiri dan ke kanan, ternyata ia berdiri di antara dua pemuda yang masih belia. Ibn Auf berkata, "Seandainya saja aku berada di antara dua orang yang lebih kuat dari mereka."

Kemudian salah seorang dari kedua remaja itu memberi isyarat kepada temannya, dan remaja itu berkata kepada Abdurrahman ibn Auf, "Paman, tahukah orang yang bernama Abu Jahal?"

Abdurrahman ibn Auf menjawab, "Ya, aku tahu, apa yang hendak kau lakukan?"

Remaja itu menjawab, "Aku mendengar bahwa ia pernah mencaci Rasulullah saw. Maka, demi dzat yang menguasai diriku, aku bersumpah, jika aku melihatnya, takkan kubuarkan bayanganku meninggalkan bayangannya sampai ia mati terlebih dahulu dari kami!"

Abdurrahmah ibn Auf terkagum mendengar ucapan mereka. Tak lama kemudian ia melihat Abu Jahal di antara barisan musuh, maka ia katakan kepada remaja tadi, "Apakah kalian melihatnya? Itulah orang yang kalian cari."

Mereka tak menjawab ucapan Abdurrahman ibn Auf, tetapi langsung berlalri memburu Abu Jahal dan membunuhnya. Kemudian mereka berdua menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang telah mereka lakukan. Beliau bertanya, "Siapa di antara kalian yang membunuhnya?"

Masing-masing menjawab, "Akulah yang membunuhnya."

Beliau bertanya lagi, "Apakah pedang kalian telah dibersihkan?"

Mereka menjawab, "Belum."

Lalu beliau melihat kedua pedang itu dan bersabda, "Kalian berdua memang telah membunuhnya."

Kedua remaja yang telah membunuh Abu Jahal adalah Muaz ibn Amr (14 tahun) yang mengorbankan sebelah tangannya terputus dan Mu'awidz ibn Afra (13 tahun) yang kemudian syahid di jalan Allah. Allahu Akbar!

Semoga Allah merahmati mereka.

Wallahu a'lam.[]